Sebagai salah satu suku terbesar di Indonesia, suku Jawa terkenal dengan tradisi budaya yang sangat kental. Apalagi dalam momen tertentu seperti kehamilan, budaya Jawa memiliki ritual atau tradisi khusus untuk acara 7 bulanan kehamilan dalam adat Jawa.
Acara 7 bulanan dalam adat Jawa sendiri memiliki istilah khusus, yaitu tingkepan atau mitoni. Pelaksanaannya bisa berbeda menurut daerah, keluarga, dan tradisi yang diwariskan. Jadi, tidak semua keluarga yang memiliki darah Jawa menjalankan seluruh rangkaian acara 7 bulanan dalam adat Jawa ini. Sebab hal ini merupakan tradisi yang tidak bersifat wajib.
Susunan acara 7 bulanan dalam adat Jawa didahului dengan sungkeman, dilanjutkan siraman. Selanjutnya masih ada 8 proses lagi sampai acara selesai. Simak artikel untuk tahu susunan acara selengkapnya.
Susunan Acara 7 Bulanan dalam Adat Jawa
Sebelum membahas lebih jauh tentang susunan acara 7 bulanan dalam adat Jawa, perlu diingat bahwa jika keluarga ingin mengadakan tingkepan, jangan sampai calon ibu kelelahan karena harus mengikuti terlalu banyak prosesi.
Dalam hal ini, acara bisa dibuat lebih sederhana. Karena yang terpenting adalah ibu hamil merasa nyaman, tidak tertekan, dan mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat.
Sebab, menurut penelitian dalam jurnal BMC Pregnancy and Childbirth (2023) yang membahas dukungan emosional, praktis, keluarga, pasangan, serta ritual dan spiritualitas selama kehamilan, menyebutkan bahwa dukungan sosial selama kehamilan sangat dibutuhkan dan benar-benar dirasakan oleh ibu hamil. Semua itu jauh lebih penting daripada sekadar menjalankan sebuah ritual.
Mums, berikut ini susunan acara 7 bulanan dalam adat Jawa yang umumnya diterapkan oleh masyarakat:
1. Sungkeman
Tradisi sungkeman memang identik dengan budaya Jawa. Sama seperti sungkeman saat acara pernikahan, sungkeman dalam acara 7 bulanan ini dilakukan oleh suami dan istri pada kedua orang tuanya untuk memohon restu dan doa agar dimudahkan dalam kehamilan dan menuju persalinan.
Selain memohon doa restu, sungkeman juga menjadi bentuk penghormatan dari anak-anak kepada para orang tuanya.
2. Siraman
Ibu hamil yang sudah menginjak usia 7 bulan kehamilan ini menggunakan air khusus. Yaitu air yang diberi campuran bunga atau aneka kembang. Siraman ini menjadi simbol membersihkan diri secara lahir dan batin. Sekaligus menjadi momen mempersiapkan calon ibu menuju proses persalinan nantinya.
3. Brojolan
Acara berikutnya dikenal dengan istilah Brojolan, yaitu sebuah cangkir gading atau kelapa muda berwarna kuning yang biasanya digambar tokoh pewayangan seperti Arjuna dan Sembadra. Kemudian dimasukkan atau “diluncurkan” melalui kain yang dikenakan oleh ibu hamil.
Secara simbolis, Brojolan ini melambangkan tahapan yang berkaitan dengan harapan agar proses persalinan berlangsung lancar tanpa kendala.
4. Memutus atau Memecah Janur/Lilit Benang
Dalam beberapa tradisi, suami memotong atau memutus benang atau untaian janur yang melilit tubuh ibu hamil. Ritual ini melambangkan harapan agar tidak ada hambatan apa pun ketika proses persalinan nanti.
5. Ganti kain atau jarik
Ibu hamil berganti kain atau jarik beberapa kali. Dalam tradisi tertentu, jumlah kain dan motif yang digunakan memiliki makna simbolis tersendiri. Biasanya motif yang dipilih melambangkan harapan baik untuk kehidupan ibu dan bayi.
6. Memilih kain yang dianggap paling cocok
Pada beberapa versi tingkepan atau mitoni ini, ibu hamil diminta memilih salah satu kain atau jarik yang telah disiapkan. Tahapan ini biasanya menjadi bagian simbolis dari rangkaian ganti busana yang terinspirasi dari kata “bersalin” itu sendiri.
7. Jualan rujak 7 bulanan atau es dawet
Rujak khas 7 bulanan yang dibuat dari 7 macam buah mejadi salah satu bagian penting dan paling populer dari acara 7 bulanan dalam adat Jawa. Selain rujak, es dawet juga dapat dijadikan alternatif. Di sesi ini, calon ibu atau ayah seolah-olah berjualan rujak kepada para tamu menggunakan alat pembayaran simbolis. Rujak atau es dawet kemudian dinikmati bersama sebagai bagian dari syukuran tersebut.
8. Membelah atau memecahkan kelapa gading
Dalam beberapa daerah, buah kelapa gading yang sebelumnya digunakan dalam ritual brojolan sebelumnya, dibelah oleh calon ayah. Tradisi ini mengandung harapan simbolis agar bayi lahir dengan selamat dan proses persalinan berjalan lancar.
9. Kenduri atau selamatan
Acara dilanjutkan dengan doa bersama dan pembagian makanan kepada keluarga serta tamu. Menu yang disajikan berbeda setiap daerah atau kebiasaan keluarga tersebut.
10. Doa penutup
Sebagai sesi pamungkas dari acara 7 bulanan dalam adat Jawa, ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh pemuka agama. Doa untuk kesehatan ibu dan bayi, untuk kelancaran kehamilan, dan harapan diberikan anak yang soleh dan solehah. Juga memohon kekuatan dan kemudahan orang tua dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya.
Mums, itulah susunan acara 7 bulanan dalam adat Jawa yang masih dilakukan sampai saat ini. Walaupun setiap daerah memiliki tradisi yang unik dan khas, namun semuanya memiliki benang merah yang sama, sebagai simbol ungkapan rasa syukur dan memohon doa untuk kesehatan dan keselamatan ibu dan bayi juga kelancaran dalam proses persalinan nanti.
Tradisi ini bukan hanya mengutamakan unsur budaya atau adat Jawa, melainkan juga menggabungkannya dengan nilai-nilai keagamaan sebagai pedoman hidup. Dan di samping itu, acara 7 bulanan atau tingkepan ini menjadi ajang silaturahmi antar keluarga, kerabat, tetangga, dan orang-orang terdekat lainnya. Sebagai bentuk dukungan dan perhatian pada calon ibu dan ayah yang sedang menanti kehadiran buah hatinya.
Referensi :
BMC Pregnancy and Childbirth. 2023. Women's experiences of social support during pregnancy: A qualitative systematic review.


