Anak-anak kecil mungkin berbohong demi mendapatkan perhatian atau menghindari konsekuensi, namun ada juga yang berbohong karena masalah harga diri, kecemasan, atau sifat impulsif yang terkait dengan ADHD.
Untuk kebohongan yang sesekali terjadi, orang tua sebaiknya mengabaikannya atau dengan lembut mendorong kejujuran, sedangkan kebohongan yang serius atau terus-menerus memerlukan tindak lanjut dan penanganan yang tepat.
Dorong anak untuk berkata jujur dengan menjanjikan keringanan konsekuensi atas kejujuran mereka, memberikan kesempatan kedua, serta menghindari pemberian label "pembohong" kepada anak.
Alasan Utama Mengapa Anak-anak Berbohong
Sebagian besar orang tua ingin membesarkan anak-anak mereka agar kelak menjadi orang dewasa yang jujur; oleh karena itu, saat pertama kali memergoki anaknya berbohong, hal tersebut bisa menjadi kejutan yang tidak menyenangkan. Namun, American Psychology Associations, penelitian psikologi menunjukkan bahwa berbohong merupakan bagian yang wajar dari masa kanak-kanak.
Faktanya, hal ini justru merupakan salah satu tahapan perkembangan. Anak berbohong tidak selalu buruk, bisa jadi ia sedang menguji dan belajar tentang konsekuensi. Berikut beberapa alasan anak berbohong:
1. Menghindari Konsekuensi
Studi yang dipublikasikan di ScienceDirect tahun 2024 menyatakan, alasan paling umum adalah untuk menghindari hukuman, omelan, atau masalah. Kebohongan paling awal yang dilakukan anak-anak, sejak usia 2 ½ tahun, umumnya muncul karena alasan perlindungan diri—misalnya, untuk menghindari hukuman akibat suatu pelanggaran.
Mulai usia 4 tahun, anak-anak mulai berbohong baik untuk kepentingan diri sendiri maupun demi kepentingan orang lain (contohnya, kebohongan putih atau white lies).
2. Bagian dari perkembangan
Pada usia sekitar 3 hingga 5 tahun, anak-anak menyadari bahwa orang lain memiliki pemikiran dan pengetahuan yang berbeda dari mereka, Hal ini mendorong mereka untuk menguji apakah mereka bisa mengubah apa yang diyakini orang dewasa.
3. Menguji aturan baru
Salah satu alasan anak-anak berbohong adalah karena mereka menemukan gagasan baru ini dan mencoba mempraktikkannya, sama seperti yang mereka lakukan terhadap berbagai jenis perilaku lainnya, untuk melihat apa yang akan terjadi.
Mereka mungkin bertanya-tanya, ‘Apa yang terjadi jika aku berbohong tentang situasi ini?’” ujarnya. “‘Apa dampaknya bagiku? Apa yang bisa kuhindari dengan berbohong? Apa keuntungan yang bisa kudapatkan?’”
4. Meningkatkan harga diri dan mencari pengakuan
Anak-anak mungkin melebih-lebihkan cerita atau mengarang cerita hebat agar terlihat lebih keren, mendapatkan pengakuan dari teman sebaya, atau merasa lebih penting.
5. Impulsivitas
Anak-anak (terutama yang memiliki ADHD) mungkin berbicara atau bertindak tanpa berpikir panjang, yang berujung pada kebohongan yang tidak disengaja atau bersifat refleks.
6. Melindungi perasaan
Anak-anak yang lebih besar belajar menyampaikan kebohongan sopan atau "kebohongan putih" (*white lies*) demi menjaga perasaan orang lain atau memelihara keharmonisan sosial.
7. Mengatasi rasa malu atau cemas
Anak-anak mungkin menyembunyikan kesalahan atau berbohong mengenai perasaan mereka untuk menghindari rasa malu atau mencegah orang dewasa merasa khawatir.
Kapan Anak Mulai Suka Bohong?
Anak mulai berbohong biasanya di masa prasekolah, sekitar usia 2-3 tahun. Terkadang, perilaku berbohong sudah muncul lebih awal pada anak-anak yang memiliki kakak.
Hal ini terjadi karena, pertama, mereka mungkin melihat perilaku tersebut dicontohkan oleh kakak mereka. Kedua, ini bisa menjadi bagian dari proses negosiasi hubungan sosial dengan saudara mereka. Selain itu, anak yang memiliki kakak cenderung mengalami perkembangan kognitif yang lebih maju berkat berbagai interaksi sosial yang mereka alami. Interaksi tersebut mendorong perkembangan kognitif mereka, sehingga kemampuan ini mungkin muncul sedikit lebih awal.
Pada anak yang lebih kecil, mereka belum terlalu mahir berbohong. Mums dan dads mungkin akan menyadarinya. Namun, seiring mereka memasuki usia sekolah, mereka semakin lihai, dan mulai belajar kapan waktu yang tepat dan tidak tepat untuk berbohong. Di sisi lain, kemampuan mereka dalam berbohong pun semakin meningkat.
Di masa remaja, Mums akan melihat penurunan pada jenis kebohongan tertentu, tetapi di saat yang sama, terjadi peningkatan dalam bentuk lain, yaitu cenderung menyembunyikan informasi yang mereka anggap bersifat pribadi dan tidak ingin mereka ungkapkan.
Menghadapi Anak yang Berbohong
Menghadapi anak yang berbohong membutuhkan ketegasan sekaligus empati. Tujuannya bukan sekadar menghentikan kebohongan, melainkan membantu anak memahami pentingnya kejujuran dan membangun keberanian untuk mengakui kesalahan.
1. Tetap tenang dan jangan langsung menghakimi
Saat mengetahui anak berbohong, wajar jika orang tua merasa kecewa. Namun, usahakan untuk tidak langsung membentak, mempermalukan, atau memberikan label seperti “pembohong” kepada anak.
Label negatif dapat membuat anak merasa dirinya memang buruk, alih-alih memahami bahwa perilakunya perlu diperbaiki. Respons yang tenang membantu menciptakan ruang bagi anak untuk mengakui kesalahan tanpa merasa terancam.
2. Cari tahu alasan di balik kebohongannya
Daripada hanya menuntut anak mengakui kesalahan, cobalah memahami apa yang membuatnya memilih berbohong. Hindari pertanyaan yang bernada menuduh atau membuat anak merasa sedang diinterogasi. Dengarkan jawabannya dan perhatikan apakah ia sedang takut dimarahi, merasa malu, mengalami kesulitan, atau berusaha menghindari tanggung jawab. Dengan memahami penyebabnya, orang tua dapat menentukan respons yang lebih tepat.
3. Jelaskan pentingnya kejujuran dengan bahasa sederhana
Anak belum tentu memahami mengapa berbohong dapat merusak kepercayaan. Karena itu, jelaskan dampaknya menggunakan contoh yang dekat dengan kesehariannya.
Misalnya, “Kalau kamu bilang mainan sudah dirapikan padahal belum, Mums jadi sulit mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kalau kamu jujur, kita bisa mencari cara supaya mainannya cepat rapi.”
Tekankan bahwa kejujuran membantu orang lain memahami keadaan yang sebenarnya dan menemukan solusi bersama.
4. Berikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan
Ketika anak mengakui kebohongannya, jangan hanya berfokus pada kesalahan yang telah dilakukan. Bantu ia bertanggung jawab dan memperbaiki situasi.
Jika anak berbohong tentang tugas sekolah, dampingi ia menyusun jadwal untuk menyelesaikannya. Jika ia menyangkal telah merusak barang milik saudaranya, ajak ia meminta maaf dan mencari cara memperbaiki atau mengganti barang tersebut sesuai kemampuannya.
Dengan demikian, anak belajar bahwa melakukan kesalahan bukan akhir dari segalanya. Ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan melalui tindakan yang bertanggung jawab.
5. Apresiasi keberanian anak untuk berkata jujur
Ketika anak akhirnya mengakui kesalahannya, berikan apresiasi atas keberaniannya berbicara jujur. Ini bukan berarti orang tua harus membiarkan kesalahan tersebut tanpa konsekuensi.
Contohnya, “Terima kasih sudah jujur kepada Mums. Mums menghargai kamu berani mengaku. Sekarang, yuk, kita pikirkan bagaimana memperbaiki kesalahan ini.”
Respons seperti ini membantu anak memahami bahwa berkata jujur merupakan perilaku positif, meskipun ia tetap perlu bertanggung jawab atas perbuatannya.
6. Terapkan konsekuensi yang masuk akal dan konsisten
Anak tetap perlu memahami bahwa berbohong memiliki konsekuensi. Namun, konsekuensi sebaiknya berkaitan dengan perilaku yang dilakukan, bukan berupa hukuman yang berlebihan.
Misalnya, jika anak berbohong tentang penggunaan gawai, orang tua dapat menetapkan aturan penggunaan gawai yang lebih jelas dan mengawasi pelaksanaannya. Jika anak merusak barang, ia perlu ikut membantu memperbaikinya sesuai usia dan kemampuannya.
Hindari hukuman yang mempermalukan, mengancam, atau membuat anak merasa tidak disayangi. Pastikan anak memahami bahwa yang perlu diperbaiki adalah perilakunya, bukan harga dirinya sebagai seorang anak.
7. Jadilah contol dalam berkata jujur
Orang tua merupakan salah satu contoh utama bagi anak dalam mempelajari perilaku sehari-hari. Oleh karena itu, biasakan untuk berkata jujur, menepati janji, dan mengakui kesalahan ketika melakukan sesuatu yang tidak tepat.
Jika orang tua telanjur berbohong atau melanggar janji, tunjukkan bahwa mengakui kesalahan merupakan hal yang wajar. Keteladanan seperti ini membantu anak memahami bahwa kejujuran berlaku untuk semua orang, termasuk orang dewasa.
8. Bangun hubungan yang membuat anak merasa aman
Anak akan lebih mudah terbuka ketika merasa didengarkan dan diterima oleh orang tuanya. Karena itu, luangkan waktu untuk mengobrol, mendengarkan cerita anak, dan membahas masalah tanpa selalu memberikan kritik.
Pastikan anak memahami bahwa ia boleh bercerita tentang kesalahan, kegagalan, atau pengalaman yang membuatnya malu. Orang tua tetap dapat menetapkan batasan dan konsekuensi, tetapi anak tidak perlu merasa bahwa kasih sayang orang tua akan hilang ketika ia melakukan kesalahan.
Rasa aman bukan berarti membebaskan anak dari tanggung jawab. Sebaliknya, rasa aman membantu anak belajar bertanggung jawab tanpa harus menyembunyikan kenyataan.
Menghadapi anak yang berbohong bukan hanya tentang mengajarkan mana yang benar dan salah. Orang tua juga perlu membantu anak memahami perasaannya, berani mengakui kesalahan, dan belajar bertanggung jawab atas tindakannya.
Alih-alih hanya menuntut anak untuk selalu berkata jujur, bangunlah lingkungan keluarga yang membuatnya merasa aman untuk menyampaikan kenyataan, termasuk ketika ia melakukan kesalahan.
Referensi:
American Psychology Associations. 2026. Speaking of Psychology: The truth about why kids lie
ScienceDirect. 2024. What motivates early lies? Deception in 2½- to 5-year-olds


