Konflik adalah bagian alami dari setiap hubungan, termasuk pernikahan. Dua individu yang tumbuh dalam lingkungan berbeda memiliki pengalaman, kebiasaan, serta cara berpikir yang tidak sama, sehingga wajar jika sesekali Mums dan Dads berselisih paham. Namun, yang membedakan pasangan yang harmonis dan tidak, bukanlah ada atau tidaknya konflik, tetapi kemampuan mereka mengelola dan menyelesaikannya secara konstruktif.
Artikel ini membahas penyebab konflik yang paling umum, cara-cara efektif mengatasi konflik yang pernah terbukti berhasil, hal yang harus dihindari, serta kapan pasangan perlu mempertimbangkan bantuan profesional.
Penyebab Konflik dalam Pernikahan yang Paling Umum
Konflik dalam pernikahan biasanya berakar pada beberapa faktor utama yang terus berulang jika tidak dikelola atau diselesaikan sampai tuntas. Inilah beberapa penyebab tersering munculnya konflik dalam pernikahan yang Mums dan Dads mungkin pernah alami:
1. Komunikasi yang Tidak Efektif
Ini adalah masalah klasik dan menurut penelitian yang dipublikasikan di Journal of Family Psychology, (2002) yang dimaksud komunikasi tidak efektif bukan sekadar kurang atau jarang berkomunikasi, melainkan juga komunikasi yang diwarnai kritik, sindiran, dan sifat defensif atau tidak ada satu pihak pun yang mau mengalah.
Penelitian oleh Gottman & Levenson ini juga mengenalkan ada empat pola komunikasi negatif yang dikenal sebagai "Four Horsemen yaitu criticism, contempt, defensiveness, dan stonewalling (Kritik berlebihan, menghina, defensif, atau mengindar dengan diam). Ternyata, empat jenis pola komunikasi yang buruk ini adalah yang paling berhubungan dengan tingginya angka perceraian. Oleh karena itu, memperbaiki pola komunikasi dalam pernikahan merupakan salah satu kunci dalam mempertahankan hubungan.
2. Masalah Finansial
Masalah keuangan sering menjadi isu sensitif dalam pernikahan. Seringkali terjadi perbedaan cara mengelola uang, pengeluaran yang tidak transparan, atau tekanan ekonomi dapat menyebabkan ketegangan. Bahkan pernah dilakukan penelitian di Journal of Family and Economic Issue (2011) bahwa ada hubungan erat antara hutang dan perceraian.
Menurut penelitian Data longitudinal dari Survei Nasional Keluarga dan Rumah Tangga yang melibatkan 4.574 pasangan ini, menunjukkan bahwa jika masalahnya hanya keuangan dan pasangan kemudian mengambil langkah-langkah penting untuk mencoba menyelamatkan atau mengamankan stabilitas keuangan mereka, hubungan umumnya bisa diperbaiki.
3. Perbedaan Nilai dan Prioritas
Dalam pernikahan, setiap individu membawa “peta hidup” masing-masing. Mums maupun Dads tentunya punya nilai, kebiasaan, keyakinan, dan prioritas berbeda yang dibentuk oleh keluarga, pengalaman hidup, pendidikan, dan lingkungan. Misalnya perbedaan pandangan terkait gaya hidup, pengasuhan anak, kehidupan sosial, atau karier dapat membuat pasangan kesulitan menyatukan langkah. Ketika dua nilai yang berbeda bertemu, perbedaan itu bisa semakin meruncing jika tidak diselaraskan dengan baik.
4. Peran dan Beban Kerja yang Tidak Seimbang
Beban dan peran yang tidak merata, terutama setelah memiliki anak, sering memicu konflik. Penelitian menunjukkan bahwa persepsi ketidakadilan pembagian tugas sangat memengaruhi kebahagiaan dalam pernikahan.
Dalam buku Research on household labor: Modeling and measuring the social embeddedness of routine family work (2000) dikatakan bahwa saat ini beban istri untuk pekerjaan rumah tangga telah berkurang dan peran suami perlahan sedikit meningkat dibandingkan beberapa tahun lalu. Meskipun kontribusi para suami telah meningkat, perempuan atau istri masih melakukan setidaknya dua kali lebih banyak pekerjaan rumah tangga rutin daripada suami.
Pembagian tugas rumah tangga yang lebih seimbang dikaitkan dengan perempuan yang merasakan keadilan, sehingga mengalami depresi yang lebih sedikit dan menikmati kepuasan perkawinan yang lebih tinggi.
5. Kehadiran Pihak Ketiga
Kehadiran pihak ketiga tidak selalu ada pria atau wanita idaman lain atau perselingkuhan. Terkadang kehadiran keluarga besar, teman, dalam rumah tangga dapat memicu konflik. Namun, adanya pihak ketiga dalam konteks perselingkuhan menjadi penyebab tersering konflik yang tidak jarang berakhir dengan perpisahan.
Beberapa Cara Efektif Mengatasi Konflik dalam Pernikahan
Konflik dalam pernikahan sebenarnya dapat menjadi momen pertumbuhan dalam hubungan Mums dan Dads, asal dikelola dengan cara yang tepat. Berikut beberapa metode yang telah terbukti efektif mengatasi konflik dalam pernikahan:
1. Latihan Komunikasi Asertif dan Mendengarkan Aktif
Komunikasi asertif maksudnya adalah mengungkapkan keinginan dan perasaan tanpa menyerang pasangan, sementara active listening adalah kesediaan untuk mendengar, fokus penuh, refleksi, dan kemudian memberikan empati.
Cara menerapkannya:
Gunakan kalimat “Aku merasa…” daripada “Kamu selalu…”
Ulangi apa yang diucapan pasangan untuk memastikan Mums atau Dads memahami maksudnya.
Hindari menyela dan menjelaskan diri sebelum pasangan selesai berbicara.
2. Luangkan Waktu untuk Diskusi
Menyelesaikan konflik saat emosi memuncak sering malah membuat situasi semakin memburuk. Menunda diskusi sementara, bukan berarti menghindar, tetapi memberi ruang untuk salaing menenangkan diri.
Mums dan Dads dapat membuat jadwal khusus untuk membahas masalah dengan kepala dingin. Hal ini penting untuk dilakukan karena penelitian menemukan bahwa regulasi emosi sebelum diskusi penyelesaikan konflik dapat meningkatkan kualitas komunikasi.
3. Teknik Time-Out
Ketika konflik mulai memanas, lakukan teknik time-out yang sangat membantu. Caranya, lakukan jeda 10–30 menit untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan percakapan. Cara ini efektif mencegah munculnya kata-kata yang saling melukai dan bisa jadi akan disesali seumur hidup oleh Mums dan Dads.
4. Menggunakan Pendekatan Problem-Solving
Pendekatan ini fokus mencari solusi bersama, bukan mencari siapa yang salah. Tahapan umumnya dari problem solving adalah:
Identifikasi masalah secara jelas.
Cari beberapa alternatif solusi.
Pilih solusi yang menguntungkan Mums dan Dads.
Evaluasi setelah beberapa hari atau minggu.
5. Menerapkan Aturan “Tidak Menyerang Karakter”
Serang masalahnya, bukan pribadinya. Kritik yang menyerang karakter akan memicu sikap defensif dan memperburuk konflik. Contoh yang harus diubah kalau Mums melihat Dads kurang berkontribusi dalam pekerjaan rumah tangga bukan dengan “Kamu malas!”, namun dengan kalimat “Aku butuh bantuan lebih untuk urusan rumah.”
6. Menghidupkan Kembali Koneksi Emosional
Kadang konflik muncul karena ada jarak emosional. Artinya Mums dan Dads semakin tidak terhubung secara emosi karena kesibukan, jarak, atau kehadiran anak. Coba rutin lakukan aktivitas seperti date night, melakukan hobi bersama, atau saling memberi pujian kecil. Ini semua dapat meredakan ketegangan dan memperkuat ikatan. Penelitian menunjukkan bahwa pasangan dengan interaksi positif harian lebih tahan terhadap stres dan konflik.
Hal yang Harus Dihindari Saat Menghadapi Konflik
Menghindari kesalahan komunikasi akan membantu konflik lebih cepat mereda. Berikut beberapa hal yang sebaiknya dihindari oleh Mums dan Dads:
1. Menggunakan “Four Horsemen”
Seperti yang dijelaskan Gottman di atas, empat pola komunikasi negatif berikut perlu dihindari:
Kritik berlebihan (menyalahkan karakter)
Cemoohan/merendahkan
Sikap defensif
Stonewalling (menghindar atau diam seribu bahasa)
2. Mencampurkan Masalah Lama
Membahas kesalahan lama setiap terjadi konflik membuat pembicaraan tidak fokus dan semakin melebar.
3. Menggeneralisasi
Kata-kata seperti “kamu selalu”, “kamu tidak pernah” hanya memperburuk situasi dan membuat pasangan merasa diserang.
4. Mengirim Pesan di Tengah Emosi
Mengirimkan teks panjang saat marah, curhat ke orang lain, atau memposting keluhan di media sosial rentan memperbesar masalah dan mengarah pada kesalahpahaman.
5. Mengancam dengan Kata “Cerai”
Menggunakan perceraian sebagai ancaman membangun rasa tidak aman dalam hubungan dan merusak kepercayaan jangka panjang.
Kapan Melibatkan Profesional atau Konselor Pernikahan?
Tidak semua konflik dapat diselesaikan berdua. Ada kalanya bantuan profesional sangat diperlukan—dan itu bukan tanda kegagalan, tetapi bentuk komitmen untuk memperbaiki hubungan.
Inilah tanda Mums dan Dads perlu melibatkan psikolog atau konselor pernikahan:
1. Konflik Berulang Tanpa Penyelesaian
Jika masalah yang sama muncul terus-menerus meski sudah dibicarakan berbagai kali, ini tanda bahwa pola komunikasi tidak efektif dan membutuhkan mediator profesional.
2. Ketika Emosi Terlalu Intens
Jika salah satu atau kedua pihak sering meluapkan emosi berlebihan, seperti meledak-ledak, menangis intens, atau shutdown total, maka konselor dapat membantu mengelola regulasi emosi.
3. Ketidaksetiaan atau Kehilangan Kepercayaan
Menurut Journal of Marital and Family Therapy, (2007) terapi pasangan sangat efektif dalam memulihkan kepercayaan setelah perselingkuhan melalui pendekatan seperti Emotionally Focused Therapy (EFT).
4. Ketika Salah Satu Merasa Tidak Aman
Jika konflik mulai mengarah pada kekerasan verbal, emosional, atau fisik, sangat penting untuk mencari bantuan profesional, termasuk dukungan hukum atau lembaga perlindungan.
5. Perubahan Besar dalam Hidup
Misalnya setelah kelahiran anak, kehilangan pekerjaan, pindah rumah, atau sakit berat. Konselor dapat membantu pasangan beradaptasi dan mengatur ulang peran serta ekspektasi.
Konflik dalam pernikahan tidak bisa dihindari, tetapi dapat Mums dan Dads kelola dengan komunikasi yang sehat, empati, dan keinginan untuk memperbaiki hubungan dan mempertahankan keluarga harmonis. Menyadari penyebab umum konflik, menerapkan teknik-teknik pengelolaan yang efektif, serta menghindari pola komunikasi yang merusak, akan membantu pasangan membangun ikatan yang lebih kuat. Bila diperlukan, bantuan profesional seperti konseling pernikahan dapat menjadi langkah penting untuk menemukan kembali keharmonisan.
Referensi
1. PubMed.Journal of Family Psychology.(2002). A two-factor model for predicting when a couple will divorce: exploratory analyses using 14-year longitudinal data
2. Journal of Family and Economic Issue (2011). The Association Between Consumer Debt and the Likelihood of Divorce
3. APA PsycNet. 2000. Research on household labor: Modeling and measuring the social embeddedness of routine family work
4. Journal of Marital and Family Therapy. 2007. Emotionally Focused couples therapy: An outcome study


