Rewel dan tidak mau makan juga minum, begitulah kondisi ketika anak sakit gigi. Melihat ini, hati orang tua mana yang tidak terenyuh dibuatnya. Itu sebabnya pertolongan pertama dan cara meredakan anak sakit gigi sangat diperlukan.
Untuk membantu mengatasi sakit gigi yang dialami si Kecil, Mums perlu memutar otak semaksimal mungkin. Minimal bisa mengurangi rasa nyeri yang dirasakan. Sebab jika tidak segera ditangani, si Kecil akan semakin tersiksa dan tidak berhenti merintih kesakitan.
Baca juga: Penyebab Gigi Anak Geripis dan Cara Mencegahnya
Penyebab Sakit Gigi pada Anak
Kerusakan gigi dan lubang gigi adalah penyebab sakit yang paling umum pada anak-anak. Kerusakan ini umumnya terjadi karena kebersihan gigi yang buruk. Anak-anak umumnya mengonsumsi banyak makanan manis dan bertepung dan jarang membersihkan mulut mereka. Jeda panjang antara menyikat gigi memberi waktu yang cukup bagi pertumbuhan bakteri untuk mulai menumpuk di sekitar gigi dan membentuk plak.
Penumpukan plak pada permukaan gigi merusak enamel gigi dan menyebabkan lubang kecil dan lubang pada gigi. Jika kerusakan gigi diabaikan, dapat menyebabkan lubang gigi, yang akhirnya mengekspos ruang pulpa gigi yang berisi saraf dan pembuluh darah dan menyebabkan sakit gigi.
Perlu diketahui bahwa sakit gigi merupakan masalah kesehatan mulut yang signifikan di kalangan anak-anak. Penelitian di jurnal Brazilian Oral Research (2025), menemukan sekitar 70,6% anak melaporkan pernah mengalami sakit gigi setidaknya sekali seumur hidup mereka. Gigi berlubang menjadi penyebab utama anak sakit gigi.
Di Brasil, kondisi kesehatan mulut anak prasekolah cukup mengkhawatirkan. Meskipun survei epidemiologi terbaru menunjukkan perbaikan, seperti peningkatan 6% pada anak usia lima tahun yang bebas karies, kelompok ini masih menderita prevalensi masalah kesehatan mulut yang tinggi, termasuk karies gigi dan maloklusi. Masalah-masalah ini sering menyebabkan nyeri gigi yang signifikan dan, akibatnya, berdampak negatif pada kehidupan sehari-hari mereka.
Selain gigi berlubang, berikut ini beberapa penyebab sakit gigi pada anak:
1. Gingivitis
Ini adalah peradangan gusi, yang menyebabkan kemerahan, pembengkakan, dan nyeri pada gusi. Jika tidak diobati dengan baik, dapat menyebabkan infeksi gigi yang parah. Penyebab umum gingivitis adalah plak dan pertumbuhan bakteri. Pada anak kecil, peradangan gusi juga dapat terjadi karena tumbuh gigi.
2. Celah pada mahkota gigi
Adanya celah atau lubang kecil pada mahkota gigi bisa menimbulkan nyeri. Dari celah ini, bakteri dapat menembus ke dalam dan menyebabkan peradangan serta rasa sakit saat makan/menggigit.
3. Kecelakaan atau cedera
Balita dan bayi sering terjatuh, melukai mulut dan rahang. Sebagian besar anak-anak usia prasekolah dan sekolah sering mengalami cedera saat berolahraga atau aktivitas fisik lainnya.
4. Menggertakkan gigi
Ini adalah kondisi menggerinda gigi. Beberapa anak memiliki kecenderungan untuk menggertakkan rahang dan mengembangkan gigi yang tidak sejajar. Hal ini mengikis enamel gigi dan memberi tekanan pada sendi temporomandibular (TMJ), yang menyebabkan rasa sakit. Gigi yang retak dan terkikis juga menyebabkan sensitivitas saat makan atau minum.
5. Sinus
Ada hubungan antara sinus dan sakit gigi. Ketika seorang anak mengalami peradangan sinus, hal itu menciptakan tekanan pada gigi, yang menyebabkan rasa sakit. Hidung tersumbat dan tekanan tambahan menimbulkan rasa sakit pada beberapa gigi, yang membaik setelah peradangan hilang.
6. Abses Gigi
Benjolan kecil berisi nanah pada gusi disebut abses gigi. Abses ini menyebabkan nyeri hebat yang menjalar ke rahang, leher, atau telinga. Hal ini sangat menyakitkan bagi anak. Abses terbentuk akibat cedera atau luka terbuka pada gusi.
Abses gigi terutama menyebabkan nyeri yang konstan dan tajam. Gejala lainnya termasuk demam, bau mulut, rasa tidak enak di mulut, gusi yang mengkilap dan bengkak, atau pembengkakan wajah. Para ahli menganggapnya sebagai keadaan darurat gigi yang harus segera ditangani. Jika dibiarkan tanpa perawatan, dapat menyebabkan infeksi yang dapat menyebar ke gigi dan bahkan bagian tubuh lainnya.
7. Menggosok gigi terlalu keras
Anak-anak seringkali bermain-main saat menggosok gigi. Namun, menggosok gigi dengan cara yang salah, keras, atau agresif dapat merusak enamel gigi, dan terkadang gusi menjadi memar.
8. Makanan dan Minuman
Kebiasaan makan dan minum anak ikut berpengaruh pada kesehatan gigi, seperti:
Makanan Manis: Terlalu banyak mengonsumsi makanan manis menyebabkan kerusakan gigi
Makanan Asam: Makanan asam dapat merusak enamel gigi.
Suhu Terlalu Panas atau Dingin: Menggigit atau mengunyah sesuatu yang terlalu panas atau terlalu dingin juga memengaruhi sensitivitas gigi yang dapat menyebabkan nyeri sementara.
Tekstur Makanan Keras: Mengonsumsi makanan yang sulit dikunyah dapat memberi tekanan pada gigi, dan terkadang makanan tersangkut di antara gigi atau di bawah garis gusi. Hal ini juga bisa membuat gigi terasa sakit.
Pertolongan Pertama atau Cara Mengatasi Sakit Gigi pada Anak
Sambil menunggu kunjungan ke dokter gigi, ada beberapa langkah pertolongan pertama anak sakit gigi yang bisa dilakukan. Namun, penting untuk memastikan bahwa si Kecil tidak memiliki alergi terhadap bahan-bahan alami yang digunakan.
Berikut ini pertolongan pertama anak sakit gigi secara alami:
1. Berkumur dengan air garam hangat
Cara ini terbukti efektif membantu dan mengatasi sakit gigi pada orang dewasa maupun anak-anak. Karena sifat garam yang berfungsi membunuh bakteri dan air hangat yang membantu meredakan rasa tidak nyaman dan mengurangi pembengkakan gusi.
Keduanya merupakan kombinasi yang tepat sebagai pertolongan pertama anak sakit gigi. Caranya mudah saja, campurkan setengah sendok teh garam ke dalam segelas air hangat, lalu gunakan sebagai obat kumur.
2. Gunakan bawang putih
Walaupun bawang putih beraroma tajam, namun diyakini berkhasiat dalam meredakan sakit gigi. Sebab bawang putih memiliki sifat antibakteri yang mampu membunuh bakteri penyebab plak gigi dan berfungsi sebagai pereda nyeri.
Cara pertolongan pertama anak sakit gigi dengan bawang putih, hancurkan satu atau dua siung bawang putih hingga menjadi pasta, tambahkan sedikit garam, lalu oleskan pada area yang sakit dengan menggunakan kapas.
3. Kompres dingin
Cara lainnya untuk mengatasi anak sakit gigi bisa digunakan dengan kompres dingin. Letakkan kantong es atau kompres dingin pada pipi bagian luar dekat area yang sakit. Dalam hal ini kompres dingin membantu meredakan nyeri dengan mengurangi pembengkakan dan peradangan. Tahan kompres dingin pada area yang sakit selama 20 menit dan ulangi setiap beberapa jam hingga terasa efeknya.
4. Kantong teh peppermint
Benda yang satu ini juga cukup efektif digunakan sebagai pertolongan pertama anak sakit gigi. Kantong teh peppermint yang telah digunakan bisa dimasukkan ke dalam freezer selama beberapa menit. Lalu tempatkan di antara pipi dan gusi yang sakit.
Jika tidak ada kantong teh peppermint, Mums bisa mencampurkan beberapa tetes minyak esensial peppermint dengan minyak cengkeh. Lalu oleskan pada kapas kemudian tempelkan di area gigi yang sakit.
5. Obat anti inflamasi
Jika sakit gigi si Kecil tak kunjung reda, berikan obat anti inflamasi yang dijual bebas dan aman untuk anak-anak. Seperti ibuprofen atau acetaminophen sesuai dosis yang dianjurkan untuk anak-anak. Cara ini cukup efektif sebagai pertolongan pertama anak sakit gigi sebelum berkunjung ke dokter gigi.
6. Minyak cengkeh
Cengkeh mengandung eugenol, yaitu anestesi alami yang membantu meredakan nyeri dan melawan infeksi. Ambil kapas berukuran kecil, olehkan basahi dengan minyak cengkeh lalu oleskan pada area yang sakit.
Cara lainnya dalam menggunakan minyak cengkeh sebagai pertolongan pertama anak sakit gigi adalah dengan mengunyah cengkeh utuh, yang bertujuan mengeluarkan minyaknya dan menahan di tempat yang sakit selama 30 menit.
7. Gel lidah buaya
Salah satu anti bakteri alamiah yang juga efektif adalah lidah buaya. Manfaatnya bisa membantu membunuh bakteri penyebab kerusakan gigi. Cara penggunaannya oleskan gel lidah buaya pada area yang sakit dan pijat perlahan dengan lembut untuk membantu meredakan sakit.
Kapan Harus ke Dokter Gigi?
Selain tidak nyaman, anak akan rewel saat sakit gigi. Oleh karena itu jika cara alami untuk meredakan nyeri tidak mempan, Mums sebaiknya bawa si Kecil ke dokter gigi. Atau jika ada salah satu dari gejala berikut, jangan tunda membawa anak ke dokter gigi:
1. Rasa sakitnya sangat parah
Jika sakit gigi menyebabkan rasa sakit yang sangat hebat dan tidak mereda dengan obat pereda nyeri seperti ibuprofen atau parasetamol, maka kemungkinan besar itu adalah keadaan darurat gigi yang membutuhkan perhatian segera. Sakit gigi yang sangat menyiksa dan tidak kunjung reda seringkali menunjukkan masalah serius.
2. Sakit gigi sudah berlangsung lama
Jika sakit gigi telah berlangsung selama beberapa hari dan semakin memburuk dari waktu ke waktu, kemungkinan besar ini membutuhkan perawatan gigi darurat. Sakit gigi yang berlangsung selama ini dan tidak diobati berpotensi menyebabkan infeksi mulut yang berbahaya.
3. Bengkak
Apakah ada pembengkakan pada wajah, rahang, atau gusi? Pembengkakan atau peradangan yang signifikan di area wajah di sekitar gigi yang sakit dapat menandakan abses gigi, infeksi, atau selulitis, yang merupakan kondisi serius yang membutuhkan perawatan gigi darurat dan antibiotik. Pembengkakan wajah tidak boleh diabaikan atau ditunda pengobatannya.
4. Demam
Jika sakit gigi disertai demam tinggi maka dapat mengindikasikan infeksi yang menyebar yang membutuhkan intervensi medis segera di ruang gawat darurat. Demam tinggi membutuhkan perawatan darurat bahkan jika tidak ada gejala lain yang muncul.
5. Sulit bernapas atau menelan
Kesulitan bernapas atau menelan yang terjadi bersamaan dengan sakit gigi yang parah dapat berarti infeksi gigi menyebar dan mengganggu fungsi vital, sehingga membutuhkan perawatan di ruang gawat darurat. Kesulitan bernapas atau menelan memerlukan kunjungan segera ke ruang gawat darurat.
6. Gigi goyang, retak, atau berlubang
Gigi yang terlihat goyang, retak, patah, atau rusak parah lainnya yang menyebabkan rasa sakit hebat akan membutuhkan perawatan untuk mencegah memburuknya kondisi atau kehilangan gigi, jika masih dapat diselamatkan. Gigi yang rusak parah mungkin memerlukan pencabutan gigi darurat.
7. Perdarahan di gusi
Perdarahan yang tidak terkontrol dari gusi di dekat gigi yang sakit dapat menandakan trauma, yang memerlukan perawatan gigi darurat untuk menghentikan perdarahan dan mengobati penyebab yang mendasarinya. Perdarahan gigi yang berlebihan adalah keadaan darurat.
8. Lesu disertai perubahan perilaku
Perubahan perilaku yang dramatis, seperti mudah tersinggung, gelisah, atau lesu yang berlebihan disertai dengan sakit gigi, membutuhkan evaluasi medis, karena perubahan kondisi mental menandakan tanda ada sesuatu yang salah.
Tips Mencegah Sakit Gigi pada Anak
Sakit gigi pada si Kecil sebenarnya bisa dicegah dengan berbagai langkah mudah. Untuk mengurangi intensitas atau frekuensi sakit gigi pada anak, berikut langkah pencegahan yang bisa dilakukan:
1. Rutin sikat gigi
Pastikan anak rutin sikat gigi di waktu yang tepat, yaitu sebelum tidur dan sesudah sarapan pagi. Dua waktu ini merupakan hal wajib yang harus dilakukan dalam membersihkan gigi dari sisa-sisa makanan yang berpotensi jadi sumber kerusakan gigi.
2. Batasi konsumsi gula
Gula merupakan sumber makanan yang merusak gigi. Batasi konsumsi gula dan minta anak berkumur dengan air setelah mengonsumsi makanan manis atau bertepung seperti permen, es krim, coklat dan sebagainya.
3. Rutin periksa gigi
Latih anak untuk rutin periksa gigi ke dokter. Bangun kebiasaan baik ini sejak dini agar anak terbiasa dengan klinik gigi. Tujuannya untuk memantau kesehatan gigi anak dan mendeteksi masalah gigi sedini mungkin.
Itulah pertolongan pertama anak sakit gigi dan cara mencegah kerusakan gigi sejak dini. Jika Mums sedang dalam masa kehamilan dan mengalami rasa sakit pada gigi, Mums dapat membaca artikel cara mencegah dan mengatasi sakit gigi pada bumil berikut ini. Sehat selalu ya, Mums!
Baca juga: Balita Suka Menggigit? Begini Cara Menghentikannya
Referensi
Brazilian Oral Research. 2025. Dental pain among children aged 8 to 11 and associated factors: a population-based study


