Semua orang tua tentu menginginkan anak sehat, jika perlu selamanya. Namun, Mums dan Dads pasti memahami, bahwa kita hidup di planet dengan segala jenis makhluk, mulai makhluk renik sampai homo sapiens. Paparan dari lingkungan, dapat memengaruhi tubuh dan membuat si Kecil sakit. Beberapa penyakit umum pada anak, seperti sakit perut, batuk, flu, sakit gigi, pastinya pernah Mums hadapi.
Harus juga dipahami bahwa perkembangan anak sejak lahir sampai usia pra remaja, masih terus terjadi. Di masa awal kehidupan seorang anak, daya tahan tubuh atau sistem imunnya juga masih berkembang, membuat anak rentan terhadap berbagai gangguan kesehatan.
Sebagai orang tua tentu merasa khawatir karena buah hati sering jatuh sakit meskipun sebatas demam atau batuk ringan saja. Agar Mums lebih siap menghadapi kemungkinan berbagai penyakit umum yang dapat terjadi pada anak, artikel berikut mengelompokkan penyakit umum pada anak berdasarkan area tubuh, menjelaskan penyebabnya, serta bagaimana mengatasinya.
Nah, Mums berikut ini beberapa penyakit yang umum ditemui pada anak, berdasarkan organ yang terdampak:
Penyakit di saluran pencernaan
Sistem pencernaan yang sehat adalah pintu gerbang utama bagi nutrisi masuk ke tubuh anak. Bahkan saluran pencernaan adalah bagian dari sistem imun penting. Penelitian yang dipublikasikan di Pubmed (2014) menyatakan bahwa saluran cerna memainkan peran kunci dalam sistem imun. Saluran cerna bertanggung jawab untuk melindungi tubuh terhadap infeksi.
Jadi Mums, gangguan pada saluran ini termasuk salah satu penyebab anak sering sakit. Gangguan atau penyakit saluran pencernaan yang sering terjadi pada anak, di antaranya:
1. Diare atau radang saluran cerna (gastroenteritis)
Penelitian dari Jurnal Universitas Airlangga (2022) menyatakan diare merupakan penyebab kematian tertinggi pada balita di seluruh dunia. Secara global, penyebab tersering diare pada bayi dan balita adalah infeksi rotavirus. Virus ini menyerang hampir setiap anak sebelum usia 5 tahun, dan menjadi penyebab signifikan dari rawat inap akibat dehidrasi berat.
Selain rotavirus, penyebab diare juga bisa berasal dari bakteri, parasit, maupun faktor higienis. Ketidakseimbangan mikroflora juga dapat memperburuk kondisi ini jika tidak ditangani dengan baik. Oleh karena itu, penanganan diare yang tepat dapat mencegah kematian akibat diare.
Gejala umum diare adalah sakit perut, buang air besar lebih sering dengan konsistensi cair, terkadang disertai muntah dan demam. Mums, penting sekali untuk memberikan pertolongan pertama pada anak sakit perut. Segera temui dokter jika diare tidak membaik dalam waktu 24 jam.
2. Sembelit
Anak dikatakan konstipasi atau sulit BAB jika frekuensi BAB-nya sangat jarang (kurang dari 3 kali per minggu) atau fesesnya keras. Penyebab umum sembelit pada anak adalah kurang konsumsi serat, kurang minum, kebiasaan suka menahan BAB dan perubahan diet atau pola makan.
Jika berlangsung lama, anak bisa mengalami nyeri saat BAB hingga feses berdarah akibat luka kecil di anus. Perlu waspada jika sembelit berlangung kronis, meskipun diet sudah diperbaiki. Bisa jadi ada sumbatan pada usus atau saluran pencernaannya.
3. Typus
Selain diare karena rotavirus, typus atau atau demam tifoid adalah penyakit yang umum ditemui pada anak. Penyebabnya adalah infeksi Salmonella typhi. Bakteri ini menyerang saluran cerna dan sistem umum anak, menimbulkan demam berkepanjangan dan gangguan pencernaan yang berat.
4. Cacingan
Jenis cacing paling sering menyebabkan infeksi pada anak adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing cambuk (Trichuris trichiura), dan cacing tambang (Ancylostoma spp.) Ketiganya termasuk ke dalam kelompok soil-transmitted helminths (STH), artinya ditularkan melalui tanah atau kontaminasi akibat kebersihan yang kurang terjaga. Tidak heran, infeksi ini sering terjadi di daerah dengan sanitasi buruk dan kebersihan kurang baik.
Tanda cacingan pada anak bisa bervariasi, tetapi gejala yang paling umum adalah
Sakit perut, mual, diare atau sembelit
Nafsu makan menurun, lemas, berat badan menurun
Anemia yang disebabkan cacing mengkonsumsi nutrisi yang ada di darah anak
Gangguan pertumbuhan dan perkembangan bila infeksi kronis
5. Sakit Perut
Sakit pada bagian perut adalah keluhan umum yang terjadi pada anak dan dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Seringkali, posisi nyeri pada perut dapat menandakan penyebab sakit perut pada anak.
Berikan penanganan saat anak sakit perut untuk membantu meredakan sakitnya. Namun, penting bagi Mums untuk tetap lakukan evaluasi dan jika perlu konsultasi ke dokter jika nyeri perut tidak berkurang atau semakin memburuk.
Penyakit pada telinga-hidung-tenggorokan (THT)
Penyakit THT pada anak paling sering disebabkan infeksi virus dan bakteri. Karena saluran napas anak lebih pendek dan sistem imun belum matang, infeksi mudah menyebar dari hidung ke telinga atau tenggorok. Menjaga kebersihan tangan, imunisasi lengkap, serta nutrisi yang baik membantu menurunkan risiko infeksi.
1. ISPA
Di area telinga. Hidung, tenggorokan, penyakit yang sering dialami anak-anak adalah Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Gejalanya batuk, pilek, atau nyeri tenggorokan dan kadang demam. ISPA adalah salah satu alasan paling umum anak dibawa ke fasilitas kesehatan.
2. Pneumonia
Penelitian di Journal Clinical dan Experimental Pediatric (2024) menyatakan pneumonia adalah penyakit infeksi umum pada anak yang sudah dikenal oleh dokter anak dan merupakan penyebab utama rawat inap di seluruh dunia. Studi epidemiologi terkini yang dirancang dengan baik di negara-negara maju menunjukkan bahwa virus menjadi penyebab tersering pneumonia (30%–70%) dan bakteri hanya 7%–17%, pada anak yang dirawat di rumah sakit karena pneumonia yang didapat dari komunitas (CAP).
Pneumonia ini bisa bermula sebagai penyakit sederhana ya Mums, bisanya batuk pilek yang lalu berkembang hingga menjadi bronkitis atau radang paru. Pneumonia sering kali menyebabkan demam tinggi, batuk produktif, dan sesak napas.
Gejala khas pneumonia adalah napas cepat diikuti tarikan dinding dada yang dalam. Jika Mums mendapati si Kecil mengalami gejala ini, jangan tunda pergi ke rumah sakit.
3. Sinus
Sinusitis akut sering ditemukan terutama pada balita yang batuk-pilek berulang. Sinusitis pada anak adalah peradangan pada rongga sinus, yaitu rongga berisi udara yang ada di balik hidung dan pipi. Biasanya, ketika anak pilek atau infeksi saluran napas atas terus menerus, rongga sinus ikut terinfeksi.
Pada anak, kondisi ini cukup sering terjadi karena daya tahan tubuhnya masih berkembang dan saluran sinusnya lebih sempit dibanding orang dewasa. Menurut pedoman dari American Academy of Pediatrics (2025), sinusitis pada anak dibagi menjadi:
Akut: gejala berlangsung kurang dari 4 minggu
Subakut: 4–12 minggu
Kronis: lebih dari 12 minggu
Gejalanya bisa berbeda dengan orang dewasa. Pada anak, tanda yang sering muncul antara lain plek lebih dari 10 hari tanpa membaik, ingus kental berwarna kuning atau hijau, batuk yang memburuk di malam hari, demam (terutama jika lebih dari 3 hari), yyeri atau tekanan di wajah (anak kecil biasanya rewel tanpa bisa menjelaskan nyeri), dan kadang disertai bau mulut (halitosis) dan nafsu makan menurun
4. Otitis Media (Radang Telinga Tengah)
Otitis media adalah infeksi pada telinga tengah, sering terjadi setelah anak pilek atau flu, akibat infeksi bakteri seperti Streptococcus pneumoniae. Gejala utamanya adalah nyeri telinga dan kadang disertai keluar cairan dari telinga. Seringkali anak menjadi rewel dan disertai demam. Otitis media ini sering berulang. Jadi waspada karena bisa mengganggu pendengaran dan perkembangan bicara.
5. Tonsilitis (Radang Amandel)
Tonsilitis adalah peradangan pada amandel, bisa karena virus atau bakteri seperti Streptococcus pyogenes.
Gejalanya adalah sakit menelan, demam dan terlihat amandel membesar. Kadang disertai bau mulut. Jika sering kambuh dan berat, dokter dapat mempertimbangkan tindakan operasi.
Penyakit pada Gigi dan Mulut
Masalah kesehatan rongga mulut sering dianggap sepele, padahal berkontribusi signifikan terhadap kualitas hidup anak serta frekuensi sakit yang dialami.
1. Karies gigi atau gigi berlubang
Karies gigi adalah kerusakan jaringan keras gigi akibat aktivitas bakteri dalam plak. Gigi berlubang adalah penyakit kronis paling umum pada anak di seluruh dunia. Penelitian yang dipublikasikan di ScienceDirect (2024) menunjukkan kejadian karies gigi di kalangan anak-anak Indonesia tetap sangat tinggi, baik dari peneltian yang dilakukan di Jakarta dan di luar Jakarta.
Sedangkan menurut laporan WHO, ribuan juta anak mengalami karies gigi, dan prevalensinya sangat tinggi bahkan di antara usia sekolah dasar.
Kondisi ini seringkali menyebabkan rasa nyeri saat makan, mengganggu nafsu makan, serta kualitas tidur anak karena rasa tidak nyaman. Kebiasaan konsumsi gula tinggi dan kurangnya edukasi sikat gigi secara efektif menjadi faktor utama.
Selain karies, infeksi pada jaringan lunak rongga mulut juga dapat muncul pada anak dengan kondisi tertentu seperti stunting atau status gizi buruk, dan hal ini memperparah masalah makan dan pertumbuhan anak. Oleh karena itu, berikan pertolongan pertama untuk meredakan sakit gigi pada anak. Apabila tidak kunjung mereda, bawa anak ke dokter gigi supaya kondisi gigi tidak semakin parah.
2. Infeksi jamur di mulut
Infeksi jamur di mulut atau oral thrush disebabkan infeksi jamur kandida (Candida albicans). Kondisi ini umum terjadi pada bayi dan anak kecil karena sistem imun mereka belum matang.
Oral thrush ditandai dengan munculnya bercak putih seperti susu di lidah, pipi bagian dalam, langit-langit mulut, atau gusi. Bercak ini sulit dibersihkan dan bila dipaksa bisa meninggalkan permukaan kemerahan atau berdarah ringan.
Dokter biasanya memberikan obat antijamur dalam bentuk tetes atau gel mulut, seperti nistatin atau miconazole, yang dioleskan beberapa kali sehari. Pengobatan harus dihabiskan sesuai anjuran meski gejala sudah membaik.
Oral thrush bisa dicegah dengan menyeterilkan dot, empeng, dan peralatan makan bayi sebelum digunakan. Jika Mums menyusui dan mengalami nyeri atau kemerahan di puting, perlu evaluasi juga karena bisa terjadi infeksi silang
3. Bau Mulut atau halitosis
Halitosis adalah kondisi napas berbau tidak sedap yang menetap dan bisa mengganggu rasa percaya diri anak. Meski sering dianggap sepele, bau mulut pada anak bisa menjadi tanda adanya masalah pada rongga mulut, THT, maupun saluran cerna.
Penyebab bau mulut pada anak antara laina kebersihan mulut yang kurang. Infeksi amandel, mulut kering, atau sinusitis.
Penyakit pada kulit (dermatitis)
Kulit adalah garis pertahanan pertama terhadap lingkungan luar. Ketika terganggu, anak dapat mengalami berbagai penyakit kulit yang menyebabkan gatal, nyeri, dan iritasi. Berikut ialah penyakit kulit pada anak yang sering ditemui:
1. Dermatitis atopik (eksim)
Dermatitis atopik adalah masalah kulit yang umum pada bayi akibat alergi. Dermatitis atopik biasanya dikaitkan dengan riwayat alergi keluarga. Anak dengan dermatitis atopik memiliki kulit yang mudah teriritasi. Kulit yang retak atau rusak karena gatal dapat menjadi pintu masuk bagi bakteri atau virus, menimbulkan infeksi sekunder yang memperparah rasa sakit dan gatal.
Gejala eksim adalah kulit kering, kemerahan disertai gatal hebat. Area yang terdampak bisa di pipis, lipatan siku, hingga belakang lutut.
2. Biang keringat
Biang keringat terjadi akibat saluran keringat tersumbat, terutama pada bayi di cuaca panas dan lembap.
Gejalanya berupa bintik merah kecil yang terasa gatal. Bintik-bintik umumnya muncul di dahi, leher, punggung, atau lipatan kulit. Cara mengatasinya dengan menjaga kulit tetap kering dan sejuk.
3. Bisul (Furunkel dan Karbunkel)
Bisul merupakan salah satu penyakit kulit bernanah yang kerap menyerang anak-anak. Bisul umumnya terjadi ketika ada infeksi lebih dalam pada folikel rambut yang menghasilkan kumpulan nanah. Penampakannay muncul benjolan merah nyeri, makin hari makin besar dan terasa hangat, bagian tengah berisi nanah. Karbunkel merupakan gabungan beberapa bisul dalam satu area.
4. Cacar air
Cacar air adalah infeksi virus yang sangat menular akibat infeksi virus varicella zoster. Diawali dengan demam kemudian muncul ruam merah yang berubah menjadi lenting berisi cairan. Lesi ini sangat gatal.
Sebagian besar cacar air dapat sembuh sendiri dalam waktu sekitar 7-10 hari, menyisakan bekas lesi berwarna kehitaman yang akan terlepas sendiri. Saat anak mengalami cacar air, Mums perlu menjaga agar anak tidak menggaruk untuk mencegah infeksi sekunder.
Mengapa Anak Sering Sakit?
Banyak anak sering sakit bukan karena mereka lemah, tetapi karena sistem imun sedang berkembang. Oleh karena itu, saat anak, terutama balita terpapar virus atau bakteri, mereka rentan terinfeksi, mulai gejala ringan hingga berat. Selain imun yang belum berkembang sempurna, berikut ini alasan lain balita sering sakit:
1. Lingkungan
Bermain bersama teman, berbagi mainan, atau kurangnya menjaga kebersihan diri dan tidak dibiasakan mencuci tangan merupakan faktor utama penularan penyakit infeksi baik itu di saluran napas, pencernaan, atau kulit.
2. Nutrisi
Konsumsi makanan tinggi gula, kurang serat, atau pola makan tidak teratur dapat menjadi faktor risiko karies, obesitas, bahkan gangguan pencernaan.
3. Higienitas dan sanitasi
Sanitasi yang buruk (misalnya air minum tercemar) atau kebersihan pribadi yang rendah meningkatkan risiko diare dan infeksi parasit.
Cara Menjaga Anak Tetap Sehat
Sering sakit pada anak bukan semata karena tubuhnya lemah, tetapi lebih karena proses adaptasi sistem imun terhadap lingkungan sekitar yang kompleks. Dengan mengetahui penyakit yang umum terjadi pada anak serta penyebabnya, Mums dapat lebih sigap dalam memberikan perawatan, melakukan pencegahan, dan berkonsultasi dengan tenaga medis bila perlu.
Oleh karena itu, Mums perlu mengetahui cara meningkatkan imun pada anak agar anak tidak mudah terserang penyakit. Peran imunisasi, pola makan sehat, kebiasaan dan perilaku hidup bersih, serta edukasi sejak dini terbukti menjadi kunci dalam mengurangi frekuensi sakit pada anak dan mendukung tumbuh kembang anak tetap optimal.
Referensi
1. PubMed. 2014. Guardians at the Gate: Immune System in Gastrointestinal Diseases
2. Jurnal Universitas Airlangga. 2022. Factors associated with diarrhea management in children under five years in Indonesia
3. Journal Clinical dan Experimental Pediatric (2024). Community-acquired pneumonia in children: updated perspectives on its etiology, diagnosis, and treatment
4. ScienceDirect. 2024. Prevalence of dental caries among children in Indonesia: A systematic review and meta-analysis of observational studies
5. American Academy of Pediatrics. 2024. Sinusitis


