Gatal pada kulit anak, merupakan hal biasa. Sebab anak-anak rentan mengalami iritasi maupun infeksi kulit lantaran sering berlain di lingkungan terbuka juga mengabaikan kebiasaan cuci tangan dengan benar.
Dua kebiasaan ini jadi pintu masuk terjadinya penyakit kulit pada anak. Bentuknya tidak hanya infeksi kulit yang bikin gatal biasa, melainkan penyakit kulit bernanah pada anak. Walaupun penyakit kulit bernanah pada anak terbilang biasa, namun tetap saja bikin orang tua panih dan tidak biasa,
Jenis-jenis penyakit kulit bernanah pada anak
Kulit anak, terutama balita memang masih sangat sensitive. Itu sebabnya rentan terhadap infeksi bakteri, iritasi, maupun luka kecil yang terkontaminasi kuman. Kulit berfungsi sebagai “barrier” atau pelindung tubuh dari mikroorganisme. Namun pada anak, sistem pertahanan kulit belum sekuat orang dewasa. Menurut konsensus internasional dalam Pubmed (2019) tentang infeksi kulit anak, disebutkan bahwa sebagian besar infeksi bernanah disebabkan bakteri Staphylococcus aureus atau Streptococcus pyogenes.
Berikut ini jenis-jenis penyakit kulit bernanah ada anak yang biasa terjadi:
1. Impetigo
Infeksi ini terjadi ketika bakteri masuk ke kulit anak melalui luka, goresan, gigitan serangga, atau bahkan iritasi kulit akibat kondisi seperti eksim. Paling sering menyerang anak usia 2-5 tahun. Biasanya dimulai sebagai luka merah yang cepat pecah dan membentuk kerak berwarna madu atau cokelat kekuningan. Luka ini biasanya muncul di sekitar hidung dan mulut anak, tetapi dapat menyebar melalui garukan.
Ada dua jenis utama impetigo yaitu Impetigo non-bulosa, yang muncul sebagai lepuh kecil yang pecah dan membentuk kerak. Dan Impetigo bulosa, yang muncul sebagai lepuh berisi cairan yang bertahan lebih lama sebelum pecah.
2. Folikulitis
Berupa infeksi pada folikel rambut yang menyebabkan bintil merah kecil berisi nanah. Gejalanya meliputi bintik kecil seperti jerawat, area kemerahan, gatal dan perih. Biasanya muncul pada kulit kepala, paha, bokong, dan area lainnya yang tertutup pakaian. Pemicunya keringat berlebih, gesekan pakaian, maupun kebersihan kulit yang kurang maksimal.
3. Bisul (Furunkel dan Karbunkel)
Bisul merupakan salah satu penyakit yang umum menyerang anak. Bisul terjadi ketika ada infeksi lebih dalam pada folikel rambut yang menghasilkan kumpulan nanah. Penampakannya muncul benjolan merah nyeri, makin hari makin besar dan terasa hangat, bagian tengah berisi nanah. Karbunkel merupakan gabungan beberapa bisul dalam satu area.
4. Selulitis
Termasuk jenis infeksi kulit yang cukup serius karena meyebar ke jaringan lebih dalam. Gejalanya berupa kulit merah meluas, bengkak, nyeri, disertai demam pada beberapa kasus. Jika terjadi segera bawa ke dokter untuk mendapatkan pertolongan agar tidak berkembang menjadi infeksi sistemik jika terlambat ditangani.
5. Abses kulit
Jenis penyakit kulit bernanah pada anak ini berupa kantong berisi nanah yang terbentuk akibat respons tubuh terhadap infeksi. Gejanya berupa benjolan lunak berisi cairan, terasa nyeri saat disentuh, kadang disertai demam. Jika abses cukup besar, dokter biasanya akan melakukan drainase untuk mengeluarkan nanahnya.
6. Infeksi sekunder pada eksim
Kondisi ini rentan terjadi pada anak dengan dermatitis atopik (eksim) sehingga memicu terjadinya infeksi bernanah. Yang ditandai dengan eksim tiba-tiba memburuk, muncul luka bernanah, kerak kuning, disertai demam ringan. Jangan tunda, segera periksakan diri ke dokter agar cepat tertangani.
Apa saja yang tidak boleh dilakukan bila kulit anak bernanah?
Terkadang penyakit kulit pada anak terlihat sepele, yang bikin bertambah parah justru perlakukan terhadap luka tersebut. Berikut ini kesalahan umum yang mesti dihindari saat kulit anak bernanah :
1. Memencet atau mengorek luka bernanah
Orang tua berpikir nanah mesti dikeluarkan supaya luka cepat sembuh. Padahal memencet dapat mendorong bakteri masuk lebih dalam, risiko infeksi menyebar meningkat. Luka bisa menjadi abses lebih besar dan memicu jaringan parut (scar). Drainase hanya boleh dilakukan oleh tenaga medis dengan teknik steril. Intinya jika luka bernanah, jangan dipencet sendiri.
2. Mengoleskan bahan rumahan yang tidak teruji
Pasta gigi, minyak panas, bawang putih, dan ramuan tradisional tanpa dasar medis sering digunakan pada luka bernanah. Bahan tersebut justru bisa mengiritasi kulit yang sensitif, memperparah inflamasi, menghambat penyembuhan luka. Prinsip perawatan luka itu simpel: bersih, kering, dan sesuai rekomendasi medis.
3. Menutup luka terlalu rapat tanpa membersihkan
Jangan langsung menutup luka dengan plester atau kain tebal. Sebab lingkungan lembap membuat bakteri berkembang lebih cepat, nanah terperangkap di dalam, dan infeksi bisa membesar tanpa terlihat. Jika perlu ditutup, gunakan kasa steril dan bersihkan luka terlebih dahulu.
4. Terlalu sering menyentuh atau membersihkan berlebihan
Niatnya baik, ingin menjaga kebersihan, tetapi terlalu sering menyentuh luka justru bisa membawa bakteri baru dari tangan dan merusak jaringan yang sedang sembuh. Membersihkan luka 1–2 kali sehari biasanya sudah cukup, kecuali ada instruksi dokter berbeda.
5. Menggunakan antibiotik tanpa resep
Selain menggunakan antibiotik tanpa resep, memakai sisa antibiotik lama, dan tidak menghabiskannya, dengan alasan sudah sembuh. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat bisa menyebabkan bakteri kebal dan infeksi lebih sulit diobati di kemudian hari.
6. Mengabaikan luka kecil
Sering kali infeksi serius berawal dari gigitan nyamuk, goresan kecil, jerawat kecil. Kesalahannya menganggap sepele padahal pada anak, luka kecil bisa cepat terinfeksi jika sering digaruk, area lembap, imunitas menurun.
Mums, banyak infeksi kulit bernanah menjadi lebih parah bukan karena penyakitnya berbahaya, tetapi karena penanganan awal yang kurang tepat. Jaga kebersihan kulit, jangan menggaruk, dan segera ke dokter jika disertai gejala lain apalagi kondisi makin memburuk.
Dengan langkah yang tepat sejak awal, sebagian besar penyakit kulit bernanah pada anak dapat sembuh dengan cepat tanpa komplikasi. Jangan lupa agar diiringi dengan meningkatkan imun anak, menerapkan pola makan sehat, serta memastikan kebersihan lingkungan ya, Mums.
Referensi
Pubmed. 2022. Common Community-acquired Bacterial Skin and Soft-tissue Infections in Children: an Intersociety Consensus on Impetigo, Abscess, and Cellulitis Treatment.


