Pelit terkadang menjadi karakter seseorang yang tidak bisa diubah karena sudah menetap kuat dalam dirinya. Jangan mimpi untuk bisa mengubah karakter pelit jadi dermawan, sebab hal ini akan sangat mustahil, sebab karakter seseorang tidak bisa diubah.
Yang perlu Mums lakukan apabila memiliki suami pelit bukan lah mengubahnya, melainkan menyikapinya dengan tepat tanpa harus menjadi pemicu pertengkaran dalam rumah tangga terkait pengaturan keuangan.
Sebelum mengetahuhi cara menyikapi suami yang memiliki karakter pelit, Mums perlu membedakan dulu antara hemat dan pelit.
Perbedaan Hemat dan Pelit
Mums, sebelum menentukan apa yang mesti dilakukan dalam menyikapi suami pelit, kenali dahulu perbedaan mendasar antara hemat dan pelit.
Pahami dulu bahwa suami hemat dan suami pelit itu merupakan dua hal yang berbeda. Hemat itu adalah menggunakan uang dengan hati-hati, terukur, dan jelas target atau tujuannya. Sikap hemat biasanya dilakukan demi tujuan finansial yang lebih sehat, misalnya menabung, menyiapkan dana pendidikan anak-anak, menyisihkan untuk dana darurat, atau merencanakan masa depan keluarga.
Orang yang hemat biasanya lebih mengutamakan kebutuhan ketimbang keinginan tanpa harus mengorbankan kenyamanan atau kepentingan keluarga.
Sebaliknya, sikap pelit biasanya cenderung berlebihan dalam membatasi keuangan, sulit atau enggan memenuhi kebutuhan yang sebenarnya wajar, serta mengabaikan kebutuhan keluarga.
Perbedaan keduanya terletak pada keseimbangan antara pengelolaan uang dan perhatian terhadap prioritas kebutuhan keluarga.
Suami Pelit Pemicu Konflik Rumah Tangga
Kehidupan rumah tangga memang tidak terlepas dari adanya konflik maupun kesalahpahaman. Pertengkaran kecil dan perbedaan pendapat juga adalah hal wajar dan pasti terjadi. Pemicunya pun beragam, mulai dari hal sepele hingga berat. Salah satunya, sikap suami pelit yang terlalu membatasi soal keuangan.
Terkait hal ini, penelitian dalam Financial Planning Research Journal (2023) menemukan bahwa pasangan yang terbuka soal keuangan, membuat keputusan bersama, dan berdiskusi tentang pengeluaran cenderung memiliki kepuasan pernikahan yang lebih tinggi.
Sebaliknya, sikap terlalu tertutup, terlalu mengontrol uang, atau kurang transparan dapat meningkatkan konflik rumah tangga dan menurunkan kualitas hubungan. Apalagi konflik soal uang lebih emosional, lebih sering berulang, dan lebih sulit diselesaikan dibanding konflik rumah tangga lainnya.
Itulah sebabnya jika suami pelit atau terlalu perhitungan atau tidak mau berdiskusi soal kebutuhan keluarga, hubungan dapat menjadi penuh tekanan, minim kehangatan emosional, dan membuat pasangan merasa tidak dihargai.
Ciri-ciri suami pelit
Sebelum memberikan label suami pelit, pastikan adakah ciri-ciri berikut ini yang melekat dalam dirinya:
1. Sangat perhitungan
Untuk urusan kebutuhan rumah tangga, suami pelit biasanya sangat perhitungan. Hal ini biasanya ditandai dengan terlalu menghitung setiap pengeluaran dengan detail, bahkan kebutuhan penting dan rutin seperti makan, kebutuhan anak, hingga biaya kesehatan. Terkadang Mums mesti minta berkali-kali hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.
2. Mementingkan pengeluaran untuk diri sendiri
Suami pelit itu cenderung egois karena hanya mengutamakan kepentingan dirinya sendiri dan mengabaikan kebutuhan anggota keluarga lainnya. Sering kali ia enggan mengeluarkan uang untuk keluarga, namun begitu royal jika untuk kebutuhannya sendiri seperti gadget, kendaraan, rokok, game, hobi, atau pergaulannya sendiri.
3. Membuat pasangan merasa bersalah
Suami pelit sering menolak keinginan istri untuk memenuhi kebutuhannya. Sehingga para istri merasa selalu bersalah ketika pengeluarannya terlalu banyak. Hal ini ditunjukkan suami dengan sikap selalu mengatakan pengeluaran terlalu banyak, menyindir istrinya boros, atau membuat pasangan takut meminta sesuatu.
4. Tidak transparan soal uang
Ciri-ciri suami pelit salah satunya tidak transparan soal keuangan. Ia sangat tertutup terutama mengenai penghasilan, tabungan, maupun kondisi keuangan yang sebenarnya. Padahal dalam rumah tangga, keterbukaan finansial sangat penting agar pasangan bisa saling memahami dan bekerja sama mengatur kebutuhan keluarga.
5. Terlalu takut mengeluarkan uang
Selain sangat berhitung, suami pelit biasanya selalu takut ketika harus mengeluarkan uang. Cemas bila uangnya tidak cukup dan berkurang terus. Hal ini bisa dipengaruhi oleh kecemasan berlebihan, trauma masa lalu, atau pola asuh sejak kecil.
Cara Bijak Menyikapi Suami Pelit
Mums, mengubah karakter seseorang dari pelit menjadi dermawan memang cukup menantang dan relatif mustahil. Namun begitu, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi suami pelit dengan bijak, berikut ini :
1. Bedakan kebutuhan dan keinginan
Penting untuk memahami perbedaan kebutuhan dan keinginan. Tentukan mana yang memang menjadi kebutuhan dasar dan mana yang sekadar keinginan tambahan. Jika perlu buatkan catatan, agar suami pun memahami hal ini. Pendekatan ini membantu suami melihat lebih objektif kebutuhan keluarga.
2. Lakukan pendekatan dengan tenang
Tidak ada gunanya menyerang secara langsung suami yang pelit sebab dia kan defensif dan membela diri. Lebih baik lakukan pendekatan yang lebih tenang, seperti mengatur keuangan bersama, serta menentukan kebutuhan berdasarkan skala prioritas.
3. Komunikasi terbuka soal keuangan
Salah satu trik menghadapi suami pelit ialah bangun komunikasi terbuka, diskusikan bersama soal prioritas kebutuhan keluarga, target tabungan, kebutuhan bulanan, maupun batasan pengeluaran yang perlu disepakati. Komunikasi yang terbuka membantu pasangan memahami sudut pandang satu sama lain.
4. Hargai sikap hemat yang masih wajar
Tidak semua penghematan adalah bentuk kepelitan. Jika pasangan masih memenuhi kebutuhan keluarga, bertanggung jawab, dan mau berdiskusi, maka sikap hemat tersebut bisa menjadi hal positif bagi masa depan rumah tangga.
Mums, itulah cara bijak menyikapi suami pelit tanpa harus memicu konflik atau pertengkaran dalam rumah tangga. Menghadapi suami yang pelit memang butuh kesabaran eksra.
Suami pelit sering kali berkaitan dengan kurangnya transparansi finansial, komunikasi yang buruk, hingga rasa tidak aman terhadap uang. Karena itu, cara menyikapinya dengan bijak bukan melalui pertengkaran atau saling menyalahkan, melainkan membangun komunikasi terbuka, membuat kesepakatan finansial bersama, memahami latar belakang pasangan, mengutamakan kepentingan keluarga.
Referensi :
Financial Planning Research Journal. 2023. Financial Transparency and Marital Satisfaction.


