Keterlambatan bicara atau speech delay pada anak sering terjadi saat ini. Sebagai orang tua, ketika mendengar istilah speech delay sering dibuat bingung, apa bedanya speech delay dengan tidak lancar bicara biasa?
Simak artikel di bawah ini untuk tahu jawabannya.
Apa itu Speech Delay
Secara umum, speech delay atau gangguan bicara dan bahasa merupakan kondisi ketika kemampuan bicara anak berada di bawah apa yang seharusnya dicapai anak seusianya. Bukan sekadar “anak telat ngomong”, tapi ada pola perkembangan bunyi atau bahasa yang melambat dibanding standar umum.
Penting dipahami juga bahwa menurut PubMed (2019) speech (bicara) itu berbeda dari language (bahasa). Speech lebih ke cara anak mengucapkan bunyi, sementara bahasa lebih ke cara anak memahami dan menyusun kata jadi makna.
Jenis speech delay
Speech delay tidak hanya satu jenis yang dikenal secara ilmiah. Variasinya sangat bervariasi karena kondisinya yang memang berbeda. Karena itulah penanganannya atau cara mengatasi speech delay juga sangat tergantung pada jenis yang dialami.
Berikut ini jenis speech delay yang biasanya terjadi :
1. Expressive speech delay
Kondisi ini terjadi saat anak mengerti kata-kata dan petunjuk, tapi susah atau lambat mengucapkan kata, kalimat, atau mengungkapkan ide secara verbal. Anak dengan delay tipe ini sering, paham apa yang orang lain bilang, tapi sulit bicara balasannya. Artikulasinya kurang jelas dan kosakata terbatas dibanding teman sebayanya.
Sama seperti anak yang sudah tahu arti kata “mama” dan “makan”, tapi ketika diminta menyusun kalimat, ia cuma bisa ucap “mama… makan” tanpa struktur yang lengkap.
2. Receptive speech delay
Kebalikan dari sebelumnya, receptive speech delay adalah kondisi anak sulit memahami perintah, cerita, atau kata, meskipun ia bisa mencoba bicara. Anak tipe ini sering tampak tidak merespons saat diajak ngobrol, tidak bisa mengikuti instruksi sederhana, atau bingung dengan arah verbal. Inilah yang disebut sebagai receptive language disorder, yaitu pemahaman bahasa yang tertunda.
Contoh:
Meski kamu bilang “ambilkan bola biru”, anak hanya bingung atau melakukan aksi yang tidak sesuai karena belum memahami instruksi.
3. Phonological delay
Disebut juga dengan Articulation Disorder, ini terjadi ketika anak sudah punya kosakata, tapi cara mereka menghasilkan bunyi bahasa belum sesuai usia. Misalnya, bilang “tat” bukan “cat” atau “bup” bukan “cup.”
Dalam istilah ilmiah yang dimuat di JAMA Network (2023) kondisi ini disebut speech sound disorders, di mana si anak memiliki pattern bunyi yang berbeda dari norma — akibat sulit menggabungkan konsonan atau vocal. Tipikalnya anak masih “ganti” suara tertentu sampai usia di mana teman sebayanya sudah jelas mengucapkan kata tersebut.
4. Developmental verbal dyspraxia
Ini merupakan salah satu jenis speech delay yang “lebih teknis” di mana anak tau apa yang mau dia ucapkan, tapi otak tidak bisa mengontrol gerakan mulut yang tepat untuk menghasilkan suara tersebut.
Dalam dunia klinis sering disebut developmental verbal dyspraxia atau childhood apraxia of speech (CAS)—artinya masalah bukan di otot, tetapi pada perencanaan motorik bicara di otak. Kabar buruknya, anak dengan jenis speech delay yang satu ini bisa sangat frustrasi karena tahu kata yang dimau, tapi susah “melontarkan” suara yang benar. Ini bukan sekadar “anak lambat ngomong”, tapi butuh penanganan khusus dari terapis wicara.
5. Mixed Receptive-Expressive Language Disorder
Beberapa anak mengalami dua hal sekaligus, mereka tak cuma sulit bicara, tapi juga sulit memahami bahasa. Itu dinamakan mixed receptive-expressive language disorder. Situasi ini jelas lebih kompleks, karena kedua sisi kemampuan bahasa bekerja tidak optimal.
Anak dengan tipe ini biasanya susah mengerti instruksi, kesulitan menyusun kalimat, dan sering tampak “bingung” atau menarik diri dalam komunikasi.
6. Secondary Speech Delay
Disebut juga dengan speech delay karena penyebab lain. Kadang keterlambatan bicara bukan berasal dari masalah otak bicara itu sendiri, tapi akibat kondisi lain, seperti : gangguan pendengaran, autisme atau SPEKTRUM autis, trauma neurologis, gangguan perkembangan umum, maupun kondisi medis lain seperti cerebral palsy atau genetika tertentu
Inilah kenapa dokter sering melakukan skrining menyeluruh, karena terkadang speech delay adalah salah satu tanda awal kondisi lain, seperti autisme atau gangguan pendengaran.
Pentingnya bedakan jenis speech delay
Karena beda jenis maka beda penanganannya, itu sebabnya sangat penting mengetahui jenis speech delay yang dialami si Kecil, adalah jenis:
Expressive delay sering perlu terapi bahasa yang fokus pada ekspresi
Receptive delay perlu latihan memahami bahasa dulu
Phonological/articulation delay bisa ditangani lewat terapi suara
Apraxia butuh pendekatan motor planning oleh professional
Secondary delay memerlukan penanganan kondisi penyebabnya
Terapi yang tepat waktu terbukti membantu perkembangan bahasa lebih optimal dan mencegah dampak jangka panjang sosial atau akademik si Kecil.
Mums, speech delay itu bukan satu hal tunggal — ada banyak jenisnya, tergantung bagian mana dari kemampuan bicara atau bahasa si kecil yang tertunda. Memahami jenis-jenis speech delay ini bukan sekadar istilah akademik — tapi jalan menuju penanganan yang tepat agar anak dapat berkembang optimal dalam komunikasi dan kehidupan sosialnya.
Referensi
1. PubMed. 2019. Speech and language delay in children: Prevalence and risk factors.
2. JAMA Network. 2023. Screening for Speech and Language Delay and Disorders in Children 5 Years or Ypunger Evidence Report and Systematic Review for the US Preventive Services Task Force.


