Salah satu situasi yang ingin dihindari para pasangan yang sudah lama tidak dikaruniai momongan adalah ditanya kapan punya anak. Pertanyaan ini selalu saja keluar dari orang-orang yang ditemui. Baik dari keluarga, kerabat, teman, kolega, bahkan orang-orang yang tidak terlalu dekat sekalipun.
Bagi banyak orang mungkin pertanyaan berulang “Kapan punya anak?” tampak sepele, terlihat sederhana, dan basa basi belaka. Namun bagi sebagian orang, pertanyaan basa basi ini berdampak besar, bikin psikologis dan mentalnya tertekan.
Studi multicenter yang diterbitkan di BMC Women's Health (2025) melibatkan 1.232 perempuan usia 18–45 tahun. Peneliti menemukan bahwa perempuan yang menunda memiliki anak mengalami tekanan psikologis lebih tinggi. 54,6% pada kelompok delayed childbearing melaporkan tekanan dari ekspektasi sosial dan budaya, sementara 65,1% mengalami kecemasan terkait usia.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa faktor seperti tekanan karier, kondisi finansial, masalah kesehatan reproduksi, dan ekspektasi sosial berhubungan dengan kondisi emosional negatif.
Sementara itu studi mengenai childlessness di Jakarta dengan 430 responden yang dipulbikasikan dalam jurnal Pusat Sumber Belajar FEB UI (2022) menemukan bahwa tekanan keluarga merupakan salah satu faktor penting dalam sikap masyarakat terhadap keputusan tidak memiliki anak.
Hal ini tentu saja sangat relevan dengan budaya keluarga besar di Indonesia, ketika pertanyaan mengenai anak terkadang muncul dari orang tua, mertua, saudara, teman, bahkan orang yang baru dikenal.
Ditanya Kapan Punya Anak? Ini Jawaban yang Tepat
Satu pertanyaan mengandung banyak persepsi, begitu juga jawabannya. Ada banyak pilihan jawaban untuk pertanyaan basa basi berulang, “Kapan punya anak?” Ketika ditanya kapan punya anak, berikut ini pilihan jawaban yang bisa diberikan sesuai dengan konteks, kondisi, dan situasi emosi tentunya :
1. Versi sopan dan elegan
Cocok untuk menjawab pertanyaan dari keluarga besar, para sesepuh, atau orang yang dihormati. Dalam situasi formal, maupun kondisi yang tidak memungkinkan untuk bercanda. Lebih baik gunakan jawaban yang hangat dan elegan, berikut ini pilihannya :
“Mohon doanya ya, semoga kami segera diberi kepercayaan untuk punya anak.”
“Kami juga berharap begitu. Untuk sekarang kami jalani dulu dengan tenang, ya. Kalau ada kabar baik pasti kami sampaikan.”
“InsyaAllah kalau waktunya sudah tepat, pasti ada kabar. Doakan kami saja.”
“Doakan saja ya, semoga ketika waktunya sudah tepat, kami diberi kesempatan untuk punya momongan.”
“Cuma Tuhan yang tahu kapan waktu terbaik yang sudah diatur. Mohon doanya ya.”
“Hehehe, masih jadi rahasia Tuhan. Kalau sudah waktunya, pasti kami kabari.”
“Kehamilan itu kan anugerah dari Tuhan. Jadi saya tidak bisa menjawab, cuma Tuhan yang bisa jawab.”
“Doakan saja yang terbaik, ya.”
“Lagi program dan ikhtiar terus, mohon doanya dari semua ya.”
“Terima kasih sudah perhatian. Untuk urusan anak, kami memilih menjadikannya hal yang cukup pribadi. Semoga bisa dimaklumi, ya.”
“Doakan saja ya, semoga ketika waktunya tepat, kami diberi kesempatan dan dipercaya untuk menjadi orang tua.”
2. Tegas tetapi tetap sopan
Jika pertanyaan yang sama berulang ditanyakan, sehingga membuat tidak nyaman bahkan cenderung meresahkan. Berikut ini pilihan jawabannya :
“Terima kasih perhatiannya, tapi soal anak cukup menjadi urusan pribadi kami.”
“Kami menghargai perhatian ini, tetapi kami belum nyaman membicarakan hal tersebut.”
“Untuk hal ini, kami ingin menyimpannya sebagai privasi keluarga.”
“Kalau ada kabar baik, tentu keluarga akan jadi orang pertama yang tahu.”
“Kami punya pertimbangan sendiri soal kapan memiliki anak, semoga bisa dihargai.”
“Mohon maaf tidak ada timeline untuk hal yang sangat personal.”
“Semoga tidak keberatan kalau pertanyaan tentang anak, kami simpan sebagai urusan pribadi.”
3. Versi santai dan humor
Cocok untuk teman dekat, teman seangkatan atau sebaya, komunitas dan dalam situasi santai atau non formal.
“Kapan ya? Kalau sudah ada pengumuman resminya, pasti kami kasih tahu!”
“Hehe, tunggu tanggal mainnya!”
“Doain dulu, doong. Jangan ditagih terus.”
“Kalau sudah ada pengumuman resmi, pasti dikabari.”
“Masih loading nih, doakan lancar.”
“Belum tahu, masih menunggu kabar dari Yang Di Atas.”
“Nanti kalau ada kabar, grup keluarga langsung ramai.”
“Belum ada tanggal pastinya, tapi semoga ada kabar baik.”
“Yang penting sekarang rumah tangga aman dulu, soal anak menyusul.”
“Kapan? Kamu mau jadi sponsor?”
“Kenapa, kamu sudah siap jadi babysitter?”
“Nanti kalau ada breaking news, kamu masuk daftar pertama.”
“Masih rapat internal keluarga.”
“Proposalnya masih dalam tahap pembahasan.”
“Belum launching, masih tahap development.”
“Masih menunggu restu dari semesta.”
“Sabar, season berikutnya belum tayang.”
Mums, itulah beberapa pilihan jawaban ketika ditanya kapan punya anak yang sering kali dilontarkan. Baik oleh keluarga besar, saudara dekat maupun jauh, teman, kerabat, kolega, dan siapa pun yang seolah tampak perhatian. Namun tetap saja bernuansa intimidasi. Memang kita tidak bisa mengendalikan atau menghentikan pertanyaan tersebut.
Yang bisa dilakukan adalah menyikapinya dengan bijak, menjawab sesuai konteks, dan meresponsnya dengan tepat. Sehingga pertanyaan tersebut tidak ikut memperkeruh suasana batin, melainkan jadi doa dan dukungan moral yang tulus agar terwujud impian punya momongan.
Referensi :
BMS Women’s Health. 2025. Fertility-related psychological health and social pressure among women of average and delayed childbearing age: a multicentre survey.
Pusat Sumber Belajar FEB UI. 2022. Barriers and encouragements of childlessness in Indonesia.


