Perjalanan melewati kanker tidak berhenti ketika pengobatan medis selesai. Bagi para penyintas kanker, fase pascapengobatan menjadi bagian penting dari perjalanan untuk kembali membangun kepercayaan diri, berinteraksi secara sosial, mengembangkan potensi diri, sekaligus menemukan ruang untuk bertumbuh bersama.
Kanker bukan penyakit yang mudah, apalagi saat penyakit ini terjadi pada anak-anak. Data Kementerian Kesehataan menunjukkan, pada tahun 2020, terdapat sekitar 11.156 kasus baru kanker pada anak usia 0-19 tahun. Leukemia menjadi jenis kanker paling banyak diderita anak-anak dengan 3.880 kasus (34,8%), diikuti oleh kanker getah bening (limfoma) dan kanker otak, masing-masing dengan sekitar 640 kasus (5,7%).
Pengobatan kanker anak membutuhkan proses yang panjang. Bahkan setelah pengobatan medis yang tidak mudah selesai, penyintas kanker anak butuh perjuangan untuk bisa kembali ke lingkungan sekolah dengan penuh percaya diri.
Menyadari bahwa proses tersebut, Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) mengadakan mempertemukan 57 peserta penyintas kanker anak yang tergabung dalam Cancer Buster Community (CBC), dalam acara Survivors Camp 2026, dari tanggal 17–18 September 2026. Kali ini acara diselenggarakan di kawasan Candi Borobudur, Jawa Tengah.
Overthinking Penyintas Kanker Anak
Selain berkegiatan di kawasan Candi Borobudur, penyintas kanker anak mendapatkan bekal tentang bagaimana menghadapi kegelisahan dan kekhawatiran mereka akan masa depan, atau overthinking, dari Psikolog Ninuk Widyantoro.
Semua orang pernah mengalami overthinking. Overthinking adalah ketika kita memikirkan sesuatu secara berulang dan berlebihan, sampai pikiran tersebut tidak lagi membantu kita memahami masalah atau menemukan jalan keluar.
"Cara kita berpikir tidak terbentuk begitu saja. Sejak lahir sampai dewasa, cara kita melihat, memahami, dan merespons sesuatu terus berkembang dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan di sekitar kita. Dan proses ini terus berlangsung sepanjang hidup kita," jelas Ninuk.
Ditambahkan Ninuk, setiap pengalaman ikut membentuk cara kita memahami dunia. Hal ini relate dengan penyintas kanker anak. Pengalaman selama menjalani masa pengobatan, ikut memengaruhi cara mereka berpikir. Kadang muncul rasa tidak percaya diri karena mungkin secara fisik mereka sudah berbeda.
Di sinilah, Indonesian Childhood Cancer Survivors Camp 2026 menjadi ruang edukasi, pengembangan diri, serta pembinaan mental dan sosial bagi para penyintas kanker anak. Berbagai kegiatan di dalamnya diarahkan untuk membantu peserta meningkatkan kualitas hidup setelah menyelesaikan rangkaian pengobatan medis.
Kehadiran peserta dari berbagai daerah di Indonesia ini menjadi ruang bagi para penyintas untuk membangun persahabatan, memperluas jejaring, bertukar pengalaman dan budaya, serta memberikan dukungan satu sama lain dalam menjalani kehidupan.
“Kami ingin mendukung perjalanan para penyintas dengan menghadirkan pengalaman baru yang bermakna di kawasan Candi Borobudur. Bagi kami, semangat mereka untuk terus melangkah, melewati berbagai tantangan, dan tidak berhenti untuk berkembang merupakan sesuatu yang sangat menginspirasi. Semangat untuk tetap berdaya dan menjalani kehidupan dengan penuh optimisme menjadi pengingat bagi kami bahwa setiap perjalanan memiliki makna dan kekuatan tersendiri,” jelas Direktur Utama PT Taman Wisata Borobudur, Mardijono Nugroho saat membuka agenda di Manohara Borobudur Cultural Center, Magelang, Jawa Tengah, Jumat (18/9/2026).
Ketua Cancer Buster Community Saprita Tahir bercerita komunitas Cancer Child Survivors di bawah naungan Yayasan Onkologi Anak Indonesia bertujuan agar para penyintas ini bisa belajar budaya di Borobudur dengan lebih dalam dan aku berharap bisa diaplikasikan ke kehidupan sehari-hari.
Dalam rangkaian kegiatan, peserta diajak mengenal lebih dekat kekayaan warisan budaya yang tumbuh di kawasan Borobudur. Pengalaman itu diperoleh melalui aktivitas budaya di Museum dan Kampung Seni Borobudur. Di Pendopo Kampung Seni Borobudur (KSB), peserta berkesempatan mengenal proses pembuatan batik dan gerabah secara langsung.
Didampingi oleh pelaku seni lokal, mereka mencoba membuat motif batik sekaligus mengolah tanah liat menjadi kerajinan gerabah. Aktivitas tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk belajar bahwa tradisi dan keterampilan budaya dapat dikenalkan melalui pengalaman yang sederhana, interaktif, dan menyenangkan.
Salah satu peserta Faris Fadhli Domili mengatakan bahwa pengalamannya belajar membatik dan membuat gerabah di Kampung Seni Borobudur memantik ketertarikan dirinya yang suka dengan bidang seni. Bagi survivor kanker tulang atau osteosarcoma ini, kegiatan di kawasan Candi Borobudur ini bisa menumbuhkan semangat dan percaya diri di masing-masing peserta.
“Intinya ini sangat bermanfaat untuk survivor karena yang pertama jelas itu salah satu hal ini support system juga untuk menumbuhkan semangat, percaya diri survivor dan banyak mempengaruhi kehidupan kita ke depan. Pengetahuan baru bisa kita dapatkan di sini gitu. Jadi, karena banyak teman yang support kita juga sedikit banyak memperbaiki arah hidup kita ke depannya,” jelasnya.
Ketua Yayasan Onkologi Anak Indonesia Rahmi Adi Putra Tahir mengatakan bahwa Cancer Care Community merupakan sebuah komunitas yang mewadahi para survivor kanker anak seluruh Indonesia. Komunitas ini mengajak anggotanya untuk terus belajar berkembang, menemukan potensi diri dan menjalani kehidupan yang bermakna bermakna bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.
Semangat inilah yang kemudian menjadi bagian penting dalam Child Cancer Survivors Camp 2026 salah satu program unggulan YOAI yang merupakan bagian dari program YOAI yaitu Recovery Program. Program dirancang untuk penyintas kanker anak agar mereka dapat melalui fase kehidupan yang lebih baik setelah sembuh dari kanker dan mempunyai kepercayaan diri yang tinggi.


