Tidak semua kebiasaan buruk anak merupakan tanda masalah; sebagian bisa menjadi bagian dari proses tumbuh kembang dan cara anak menenangkan diri.
Kebiasaan yang umum antara lain mengisap jempol, menggigit kuku, memainkan rambut, mengupil, screen time berlebihan, tantrum, dan berkata kasar.
Cara mengatasinya adalah dengan mencari penyebab, mengingatkan dengan lembut, memberi contoh yang baik, menawarkan aktivitas pengganti, dan menghindari hukuman.
Konsultasikan ke dokter atau psikolog jika kebiasaan tersebut menyebabkan cedera, mengganggu tidur atau aktivitas sehari-hari, semakin berat, atau membuat anak tertekan.
Awalnya sesekali, lama-kelamaan jadi sering dilakukan. Begitulah sebuah kebiasaan buruk anak yang bikin orang tua khawatir. Kebiasaan buruk yang dimaksud seperti menggigit kuku, mengisap jempol, menunda-nunda jika diperintah, dan banyak lagi kebiasaan buruk lainnya.
Kondisi ini, selain bikin orang tua khawatir, juga menguji kesabaran dan akhirnya berujung pada kemarahan yang meledak. Karena itu, jangan abaikan kebiasaan buruk anak yang berlangsung terus-menerus, apalagi bila sudah muncul dampak negatif dari kebiasaan tersebut.
Kebiasan Buruk Anak yang Tak Selalu Buruk
Mums, setiap anak terlahir dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Termasuk keunikannya yang membedakan dia dengan teman sebayanya, bahkan dengan saudara kandungnya sendiri.
Walaupun tidak semua kebiasaan buruk merupakan tanda masalah, namun tetap saja membuat orang tua cemas bahkan khawatir berlebihan.
Menurut systematic review dan meta-analysis terbaru yang dimuat dalam Journal of Oral Biology and Craniofacial Research (2025) menemukan bahwa kebiasaan oral seperti mengisap jempol, menggigit kuku, menggigit bibir, bruxism, dan tongue thrusting cukup umum pada anak. Kebiasaan tersebut juga berpotensi berhubungan dengan masalah perkembangan gigi dan rahang.
Kendati demikian jangan langsung memarahi anak. Jika kebiasaan menetap atau mulai memengaruhi kesehatan mulut, segera konsultasikan dengan dokter gigi anak.
Sementara itu, dalam penelitian berbeda pada Journal of Psychiatric Research (2025) mengenai body-focused repetitive behaviors (BFRBs), termasuk menggigit kuku, mencabut rambut, mengorek kulit, ditemukan adanya hubungan antara gejala kecemasan dan tingkat keparahan BFRB.
Namun, hubungan tersebut hanya rendah hingga sedang, sehingga kebiasaan seperti menggigit kuku tidak boleh langsung dianggap sebagai tanda gangguan kecemasan. Lebih baik mencari tahu kapan dan dalam situasi apa kebiasaan muncul, misalnya ketika anak bosan, lelah, cemas, atau membutuhkan cara untuk menenangkan diri.
Artinya, tidak semua kebiasaan buruk pertanda bahaya. Sebab beberapa kebiasaan yang sudah melekat pada Si Kecil merupakan bagian dari proses perkembangannya. Umumnya, hal ini akan berkurang bahkan menghilang seiring bertambahnya usia.
Berbagai Bentuk Kebiasaan Buruk Anak
Walaupun sebagian besar kebiasaan buruk anak akan hilang seiring bertambahnya usia, namun tetap saja membuat orang tua khawatir dan cemas karena hal tersebut dilakukan berulang-ulang.
Mums, berikut ini beberapa kebiasaan buruk anak yang perlu mendapat perhatian lebih :
1. Mengisap jempol
Salah satu kebiasaan buruk anak-anak yang paling sering ditemui adalah mengisap jempol. Umumnya, hal ini dimulai sejak lahir hingga usia 2-4 tahun. Mengisap jempol merupakan refleks alami yang membuat bayi merasa aman. Sayangnya, pada sebagian anak, hal ini jadi kebiasaan hingga usia 4 tahun.
Si Kecil akan melakukannya kapan pun membutuhkan ketenangan atau saat hendak tidur. Meskipun kebiasaan buruk ini umumnya tidak bermasalah sampai gigi permanennya terbentuk, namun jika terus dilakukan dapat berpengaruh pada susunan gigi dan memicu masalah gigi lainnya. Karena itu, mengisap jempol mesti dihindari sebelum menyebabkan kerusakan jangka panjang.
2. Menggigit kuku
Kebiasaan buruk yang satu ini sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh anak-anak, melainkan juga orang dewasa yang melalukannya di saat sedang stres atau cemas. Begitu juga pada anak-anak, menggigit kuku menjadi cara meredakan ketegangan atau menghilangkan rasa bosan yang dialaminya.
Jika kebiasaan buruk anak menggigit kuku tidak diperbaiki sejak dini, maka akan berlanjut hingga dewasa. Selain itu, kebiasaan buruk ini dapat menyebabkan kuku dan kulit di sekitarnya terluka.
3. Menggigit atau menjilat bibir
Jika bibir bawah Si Kecil sering kering atau pecah-pecah, bisa jadi ia punya kebiasaan menggigit atau menjilat bibir. Penyebab utama kebiasaan buruk anak yang satu ini adalah karena bibir kering, rasa cemas, atau gigi yang tidak sejajar. Saat bibir kering, anak cenderung menjilat atau mengisap bibir untuk melembapkannya.
Selain itu, saat berada di lingkungan baru atau merasa stres, tanpa sadar anak cenderung mengisap atau menjilat bibirnya.
Dalam beberapa kasus, jika gigi atas lebih menonjol daripada gigi bawah, hal ini dapat menyebabkan kebiasaan menggigit atau mengisap bibir. Ini adalah masalah gigi, jadi sebaiknya konsultasikan dengan dokter gigi.
Kebiasaan mengisap atau menggigit bibir yang terus-menerus dapat menyebabkan bibir dan kulit di sekitar mulut menjadi merah, bengkak, dan iritasi. Hal ini juga dapat menimbulkan rasa sakit dan ketidaknyamanan, serta berpotensi merusak jaringan bibir pada kasus tertentu.
4. Memainkan rambut
Kebiasaan buruk anak yang juga sering dilakukan adalah memainkan rambut, dengan cara memutar, menarik, maupun memelintir rambut. Sesekali memainkan rambut mungkin tidak masalah, kadang dibutuhkan sebagai cara untuk menenangkan diri. Namun bila dilakukan terus menerus apalagi menyebabkan kerontokan atau luka di kulit kepala, Mums perlu waspada.
5. Mengupil
Kadang mengupil jadi reaksi spontan yang dilakukan anak. Walaupun cukup umum, kebiasaan buruk yang satu ini bila dilakukan secara berlebihan atau terus-menerus dapat berisiko memicu iritasi maupun mimisan.
6. Menggeretakkan gigi
Seringkali tanpa sadar, anak-anak menggeretakkan gigi atau bruxims terutama di masa pertumbuhan giginya. Banyak juga yang melakukannya saat tidur. Jika kebiasaan buruk ini terus dilakukan dapat berdampak pada terkikisnya enamel gigi.
7. Menunda-nunda
Kebiasaan buruk anak tidak hanya terkait fisik dan kesehatan tubuhnya, melainkan juga pada perilaku sehari-hari. Salah satunya tidak bergegas ketika diperintah juga sering menunda-nunda. Kebiasaan buruk anak yang satu ini jelas akan sangat merugikan dirinya, karena itu Mums mesti memberikan perhatian lebih agar tidak jadi kebiasaan yang menetap.
8. Screen time berlebihan
Dampaknya screen time yang berlebihan sudah sangat jelas, mulai dari berkurangnya aktivitas fisik, malas bergerak, gangguan tidur dan penglihatan, hingga gangguan perilaku dan emosional Si Kecil. Karena itu batasi penggunaan gadget, beri ruang dan kesempatan anak untuk bermain di luar dan berinteraksi dengan teman-temannya.
9. Tantrum
Ini senjata anak-anak untuk merengek meminta sesuatu. Umumnya sering dialami anak usia 1-3 tahun. Di sinilah anak perlu belajar dan berlatih untuk mengendalikan emosi dan mampu menyampaikan keinginannya dengan lugas, sehingga emosinya tidak mudah meledak-ledak.
10. Mengeluh
Mums, terkadang anak mengeluhkan segala hal yang tidak sesuai dengan ekspektasinya. Walhasil, ia menghindari tempat atau orang tertentu yang membuatnya tidak nyaman. Dengan mudahnya ia tidak ingin atau tidak menyukai sesuatu yang menurutnya tidak menarik.
11. Berkata kasar
Kebiasaan buruk yang satu ini umumnya dilakukan oleh anak-anak usia prasekolah. Bisa jadi Si Kecil tidak memahami sepenuhnya arti dari kata-kata kasar yang diucapkan. Umumnya, karena ia mendengar dari orang dewasa atau anak yang lebih besar mengucapkan kata-kata kasar tersebut.
Cara Mengatasi Kebiasaan Buruk Anak
Mums, karena beberapa kebiasaan buruk anak dapat merugikan dirinya sendiri, maka tidak ada alasan untuk membiarkannya. Walaupun seiring bertambahnya usia, beberapa kebiasaan buruk tersebut dapat hilang dengan sendirinya, namun tetap harus diperbaiki sesegera mungkin.
Berikut ini beberapa cara yang dapat Mums lakukan untuk mengatasi kebiasaan buruk anak:
1. Cari tahu penyebabnya
Kebiasaan anak sering kali merupakan bentuk komunikasi. Anak mungkin melakukannya ketika bosan, lelah, cemas, mencari perhatian, atau belum mampu mengelola emosinya. Karena itu, fokusnya bukan sekadar, bagaimana membuat anak menghentikan kebiasaan buruknya, melainkan juga mengapa anak melakukan ini.
Dalam hal ini, perilaku anak dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk memahami dan terhubung dengan anak. Amati kapan kebiasaan buruk anak muncul, misalnya saat lelah, bosan, atau cemas, dan atasi akar penyebabnya.
2. Ingatkan dengan lembut
Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah mengingatkan Si Kecil dengan cara yang lembut. Ingatkan bahwa kebiasaan tersebut dapat berdampak buruk pada dirinya sendiri. Mengingatkan dan membimbing dengan cara yang lembut, akan membantu anak pelan-pelan mengubah perilakunya tanpa merasa diintimidasi atau dimarahi.
3. Berikan contoh yang baik
Anak adalah peniru ulung, apa pun yang orang tuanya lakukan pasti akan diikuti anak-anaknya. Karena itu, berikan contoh yang baik, karena anak-anak belajar dengan memperhatikan orang dewasa di sekitarnya, terutama orang tuanya.
4. Berikan alternatif yang menyenangkan
Pastikan sebelum melarang, Mums sudah memiliki alternatif yang jauh lebih positif dan menyenangkan untuk Si Kecil. Aktivitas positif ini sangat efektif menghentikan kebiasaan buruk anak. Misalnya, jika Si Kecil suka memilih-milih atau memainkan rambutnya hingga kusut, berikan ia bola lembut untuk diremas-remas, guna mengalihkan kebiasaan memainkan rambut.
5. Berikan instruksi yang jelas dan positif
Anak-anak butuh petunjuk yang jelas dan konkret. Berikan instruksi atau petunjuk dengan bahasa sederhana yang dipahami anak, to the point tanpa bertele-tele. Hal ini membantu anak mengetahui secara pasti apa yang harus dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan atau dihentikan.
6. Pahami alasannya dan tawarkan solusi
Setiap kebiasaan buruk anak punya alasan di baliknya mengapa hal itu dilakukan. Jika anak suka menggigit kukunya, bisa jadi ia merasa bosan. Karena itu, berikan mainan kesukaannya atau ajak main bersama, sehingga fokusnya teralihkan.
7. Buat aturan sederhana
Untuk menumbuhkan kebiasaan baik, buat aturan sederhana yang jelas dan sesuai usia anak. Lalu terapkan secara konsisten oleh orang tua, pengasuh, maupun orang dewasa lainnya di rumah. Konsistensi akan membuat anak cepat memahami hal yang benar dan aturan yang mesti dipatuhi.
8. Puji perilaku baiknya
Pujian dan apresiasi sangat berarti untuk anak. Karena ia merasa diperhatikan dan dihargai. Pujian juga mendorong anak untuk terus melakukan hal baik. Bagi Si Kecil, sedikit pujian akan sangat bermanfaat dan membuatnya makin percaya diri.
9. Hindari menghukum anak
Tidak semua kebiasaan buruk anak merupakan sebuah kesalahan, karena itu tidak tepat bila menghukumnya. Sering kali kebiasaan buruk tersebut muncul karena keadaan fisik atau proses pertumbuhannya. Jadi, tidak adil bila memberinya hukuman, termasuk memarahinya di depan umum.
Kapan Kebiasaan Buruk Anak Perlu Dikonsultasikan?
Walaupun kebiasan buruk anak cenderung hilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia anak, namun orang tua mesti memperhatikan, kapan kebiasaan buruk tersebut sudah cukup mengganggu dan mengkhawatirkan.
Nah, di sinilah orang tua mesti paham bahwa kebiasaan buruk tersebut tidak dapat dibiarkan karena bisa berdampak pada tumbuh kembang anak.
Dalam hal ini, Mums mesti segera ambil keputusan untuk berkonsultasi dengan dokter atau psikolog untuk berkonsultasi lebih lanjut soal kebiasaan buruk Si Kecil.
Berikut ini kondisi yang menunjukkan bahwa kebiasaan buruk anak perlu segera dikonsultasikan:
Menyebabkan luka atau cedera pada bagian tubuhnya.
Mengganggu kualitas tidur, pola makan, mengganggu sekolah, maupun aktivitas sehari-hari lainnya.
Semakin sering dilakukan atau semakin berat intensitasnya.
Membuat anak sangat tertekan dengan kebiasaan buruk yang dilakukannya.
Disertai perubahan perilaku maupun perkembangan lainnya.
Mums, jika anak mengalami salah satu bahkan lebih dari poin-poin tersebut, maka jangan tunda lagi, segera konsultasikan pada dokter atau psikolog anak yang kompeten sehingga Si Kecil mendapatkan terapi yang tepat.
Kebiasaan Buruk Anak dan Bagian dari Perkembangan
Dari penjelasan di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa tidak semua kebiasaan buruk anak termasuk dalam kategori keburukan.
Sebagian merupakan konsekuensi dari sebuah proses tumbuh kembang. Dan kebiasaan tersebut muncul sebagai reaksi spontan, maupun cara anak beradaptasi, merespons, dan berproses mengatur dirinya.
Alih-alih memarahi apalagi menghukum anak, lebih baik cari tahu penyebab dan latar belakang munculnya kebiasaan buruk tersebut. Dengan mengetahui penyebabnya, maka dapat teridentifikasi dan orang tua mampu menetapkan batasan yang jelas antara kebiasaan buruk atau bukan.
Dan yang tidak kalah pentingnya adalah, orang tua memberikan contoh perilaku yang tepat, memperkuat perilaku positif Si Kecil dan mengapresiasi seringan apa pun keberhasilan yang ditunjukkan.
Mums, dengan pendekatan yang hangat, konsisten, dan sesuai dengan konteks juga usia anak, maka kebiasaan buruk ini dapat segera diatasi dengan lebih konkret dan tuntas. Sehingga tidak muncul lagi di masa yang akan datang. Sebab anak sudah paham konteks dan kebutuhan emosionalnya.
Pendekatan yang hangat, konsisten, dan sesuai usia membantu anak belajar mengganti kebiasaan buruk menjadi perilaku yang jauh lebih baik dan lebih sehat untuk dirinya yang sedang dalam masa pertumbuhan.
Referensi :
Journal of Oral Biology and Craniofacial Research. 2025. Prevalence of Oral Deleterious Habits among Children.
Journal of Psyciatric Research. 2025. Anxiety and body-focused repetitive behaviors: A Systematic review and meta-analysis of comorbidity rates and symptom associations.


