Tingkepan atau mitoni adalah tradisi Jawa yang biasanya dilakukan ketika kehamilan memasuki usia tujuh bulan. Kata mitoni berasal dari pitu yang berarti tujuh.
Tradisi ini menjadi momen untuk memanjatkan doa dan ungkapan syukur agar kehamilan berjalan lancar, ibu dan bayi diberikan keselamatan, serta proses persalinan nantinya dimudahkan.
Beberapa bagian dalam tingkepan memiliki simbol dan filosofi tersendiri mulai dari siraman, ganti kain 7 kali, memcah telur, jualan rujak, dan memecah kelapa cengkir.
Di masyarakat Jawa, budaya tingkepan ini masih kuat dan kadang berbaur dengan ajaran Islam
Bagi masyarakat Indonesia yang kental dengan tradisi dan budaya, kehamilan bukan sekadar urusan mendapatkan keturunan dan proses reproduksi semata. Melainkan ada unsur budaya, keagamaan, juga tradisi turun temurun dari leluhur. Salah satunya melalui tradisi Tingkepan atau tujuh bulanan.
Sesuai dengan namanya, tradisi ini dilakukan ketika kehamilan memasuki usia tujuh bulan, khususnya untuk kehamilan pertama atau anak pertama bagi seorang ibu. Bahkan saking menjunjung tinggi simbol tujuh bulanan, segala sesuatu yang terkait dengan tingkepan ini, semuanya mesti serba tujuh.
Tingkepan, Tradisi Tujuh Bulanan Kehamilan Pertama
Selain dikenal dengan Tingkepan, tradisi ini juga sering disebut dengan istilah Mitoni. Tingkepan adalah tradisi dalam Suku Jawa yang biasanya dilakukan ketika kehamilan pertama memasuki usia tujuh bulan.
Terkait hal ini ada sebuah penelitian yang secara khusus membahas tradisi kehamilan Indonesia seperti tingkepan dimuat dalam Asian Journal of Psychiatry 2026. Disebutkan bahwa tradisi ini berkaitan dengan dukungan sosial dan kesehatan mental perinatal
Sebab bagi keluarga Suku Jawa, kehamilan bukan hanya perjalanan menuju kelahiran bayi. Ada berbagai tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bentuk syukur, doa, sekaligus cara keluarga memberikan dukungan kepada calon ibu.
Itu sebabnya dalam acara Tingkepan ini, diisi berbagai rangkaian kegiatan yang sarat makna melalui dengan nilai-nilai simbolik. Mulai dari siraman, sungkeman, brojolan, hingga selamatan.
Acara tradisional ini dilakukan dengan tujuan memohon doa keselamatan dan kelancaran kehamilan juga persalinan. Kesehatan dan keselamatan untuk ibu maupun calon bayinya. Selain itu, ungkapan syukur atas karunia kehamilan yang diberikan Tuhan sebagai bentuk terkabulnya doa minta diberikan keturunan.
Dan yang tidak kalah pentingnya adalah, Tingkepan jadi ajang untuk bersilaturahmi antar keluarga besar, baik dari pihak istri maupun pihak suami. Termasuk juga silaturahmi dengan para tetangga, teman, dan kolega. Semua berkumpul mengucap syukur dan memanjatkan doa bersama untuk calon ibu dan ayah, juga calon bayi dalam kandungan. Agar kehamilannya berjalan lancar dan sehat, tidak kurang satu apa pun.
Sebagai ritual tradisi, Tingkepan dilakukan untuk melestarikan tradisi warisan leluhur. Hal ini sebagai bentuk kepatuhan seorang anak terhadap warisan budaya orang tua hingga komitmen menjunjung tinggi tradisi yang dimiiki. Pengenalan tradisi ini dilakukan bahkan jauh sebelum anak keturunan dilahirkan. Tujuannya tentu saja untuk terus mewariskan lintas generasi.
Waktu Pelaksanaan Tingkepan
Karena Tingkepan sangat terkait dengan usia kehamilan menginjak tujuh bulan, maka waktu pelaksanaanya adalah ketika kehamilan sudah berusia tepat tujuh bulan atau sekitar 210 hari.
Biasanya dikhususkan untuk kehamilan pertama atau anak pertama dari sang ibu. untuk waktu pelaksanaannya sendiri, biasanya dipilih hari baik berdasarkan penanggalan Jawa. Sering kali yang dipilih adalah Hari Rabu atau Sabtu.
Untuk tanggalnya, umumnya orang tua terdahulu memilih tanggal yang ada unsur angka 7, sesuai dengan istilah tujuh bulanan. Yaitu antara tanggal 7, 17, dan 27 pada kalender tersebut.
Walaupun tidak diketahui secara pasti alasan pemilihan ketiga tanggal tersebut, namun pakem ini tetap diikuti hingga generasi saat ini. Meskipun mulai ada pergeseran terkait hari pelaksanaannya yang umumnya dilakukan di akhir pekan atau Hari Sabtu maupun Hari Minggu dengan alasan kesibukan dari pihak yang bersangkutan.
Tidak hanya pemilihan tanggal, simbol tujuh juga diterapkan hingga ke menu hidangan khas tujuh bulanan. Seperti menggunakan tujuh jenis buahan berbeda untuk menu rujak tujuh bulanan di daerah tertentu. Juga menggunakan kain tujuh lapis untuk prosesi siraman.
Mums, itulah beberapa penjelasan terkait acara Tingkepan atau Mitoni dalam tradisi daerah terkait tujuh bulanan kehamilan. Apa pun hari yang dipilih dan tanggal yang ditetapkan untuk melakukan Tingkepan atau Tujuh Bulanan dalam tradisi masyarakat, hal menjadi keunikan budaya dan kearifan lokal yang tetap perlu dilestarikan dari generasi ke generasi.
Sebab, jika dilakukan dengan tepat dan sesuai kaidah tradisi, tidak melenceng dari aturan agama, maka tradisi Tingkepan ini sangat boleh dilakukan oleh mereka yang ingin mensyukuri nikmat kehamilan. Tingkepan dapat menjadi wadah dukungan sosial dan emosional.
Dengan harapan, doa bersama yang dilakukan di momen bahagia ini senantiasa menjadi penguat bagi calon orang tua baru yang akan menyambut kehadiran buah hati tercintanya.
Referensi :
Asian Journal of Psychiatry. 2026. Integrating cultural rituals and social support into perinatal mental health frameworks: Lessons from Indonesian pregnancy traditions.


