Operasi caesar atau metode persalinan melalui sayatan bedah di area perut dan rahim ini dilakukan atas berbagai indikasi medis. Operasi Caesar dapat direncanakan jika ada komplikasi kehamilan yang tidak memungkinkan atau berisiko fatal jika dilakukan dengan persalinan normal pervaginam.
Selain atas indikasi tertentu, persalinan Caesar juga “meramalkan” bahwa persalinan berikutnya kemungkinan perlu operasi Caesar lagi. Mengetahui bagaimana metode, persiapan, dan biaya operasi Caesar yang diperlukan dapat membantu Mums mempersiapkan diri jelang operasi Caesar yang sudah ditentukan.
Metode persalinan Caesar
Menurut penelitian yang dipublikasikan di PMC (2025) metode persalinan Caesar merupakan prosedur kelahiran melalui sayatan di perut dan rahim ibu untuk mengeluarkan bayi. Ketika menurut medis persalinan normal melalui vagina berisiko bagi ibu dan bayi, maka ketika itulah persalinan Caesar menjadi solusinya. Atau jika ada kondisi lain yang indikasi medisnya menunjukkan perlunya persalinan darurat yang tak bisa menunggu proses alami.
Secara klinis, ada beberapa metode yang digunakan dalam persalinan Caesar yang umumnya diterapkan oleh tim medis, yaitu:
1. Low transverse (Pfannenstiel) incision
Merupakan teknik yang paling sering digunakan di banyak negara barat, dan dikaitkan dengan penyembuhan yang lebih cepat serta rendahnya risiko robek pada kehamilan berikutnya. Selain itu, sayatan horizontal ini juga memberikan hasil estetis yang lebih baik.
2. Teknik bedah berbasis bukti
Studi ilmiah terbaru menekankan pentingnya prosedur berbasis bukti dalam setiap tahapan persalinan Caesar, mulai dari persiapan pra-operatif hingga pemulihan pascapersalinan. Tinjauan sistematis terhadap ratusan uji klinis mengidentifikasi prosedur yang berkaitan dengan manfaat nyata, termasuk persiapan kulit, pencegahan infeksi dengan antibiotik, pengosongan kandung kemih sebelum operasi, serta pengelolaan luka pasca operasi untuk mengurangi komplikasi.
Persiapan menjalani operasi Caesar
Agar metode persalinan operasi Caesar berjalan dengan lancar, sejumlah persiapan mesti dilakukan. Untuk operasi Caesar yang direncanakan atau bukan karena kondisi darurat, biasanya dokter atau perawat sudah memberitahu sejak awal dan merekomendasikan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Berikut ini sejumlah persiapan yang perlu dilakukan menjelang operasi Caesar:
1. Pemeriksaan kesehatan
Sebelum melakukan operasi caesar, sejumlah pemeriksaan mesti dilakukan, seperti USG dan pemantauan janin, tes darah lengkap untuk memastikan tidak ada anemia atau gangguan koagulasi, pemantauan tekanan darah dan gula darah, serta konsultasi tentang anestesi, seperti spinal block atau epidural.
Selain itu, sangat penting untuk menyampaikan riwayat medis pada dokter, misalnya alergi obat, rencana persalinan, termasuk apakah operasi Caesar terencana atau kemungkinan darurat.
2. Puasa sebelum operasi
Sebelum operasi caesar, ibu hamil biasanya diminta puasa minimal beberapa jam (tergantung kebijakan rumah sakit dan protokol medis) untuk meminimalkan risiko aspirasi saat prosedur anestesi dilakukan.
3. Edukasi
Prosedur edukasi tidak boleh dilewatkan karena ini menjadi langkah penting untuk menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang operasi yang akan dilakukan. Edukasi yang disampaikan di antaranya ialah mengenai alasan yang mendasarinya, kemungkinan risiko yang akan terjadi, manfaat yang didapat dari pilihan metode ini, serta rencana perawatan pasca operasi Caesar.
4. Dukungan emosional
Untuk mengurangi kecemasan dan menguatkan mental, mintalah dukungan moral dari orang-orang terdekat. Bagaimanapun, menjalani prosedur operasi tetap membuat khawatir. Karena itu, dukungan emosional dibutuhkan untuk meyakinkan diri bahwa operasi akan berjalan lancar.
5. Perlengkapan persalinan
Siapkan perlengkapan persalinan yang dibutuhkan sesuai anjuran tim medis. Pastikan semua perlengkapan tersebut telah lengkap sebelum jadwal operasi dilakukan. Selain perlengkapan, persyaratan administrasi seperti dokumen penting juga perlu dibawa serta.
Kisaran biaya operasi Caesar
Selayaknya tindakan pembedahan besar lainnya, tentu saja operasi Caesar membutuhkan biaya yang tidak sedikit, terutama mengingat tindakan ini melibatkan tim medis dari berbagai disiplin spesialis, dilakukan di ruang operasi khusus, dan dengan peralatan dan teknologi kesehatan terkini.
Berdasarkan hal tersebut, biaya yang diperlukan untuk menjalani operasi Caesar relatif besar, terutama di rumah sakit atau rumah bersalin swasta yang tidak ditanggung oleh BPJS Kesehatan maupun asuransi swasta. Namun, biaya tersebut sangat tergantung pada kebijakan rumah sakit, prosedur, hingga fasilitas kesehatan yang didapat.
Kisaran biaya operasi Caesar di RS swasta tanpa BPJS Kesehatan sekitar Rp 15.000.000 – Rp 70.000.000, sangat tergantung pada fasilitas yang didapatkan. Komponen biaya ini termasuk tindakan operasi, kamar rawat inap sekitar 2-3 hari, hingga jasa dokter dan perawat. Harga tersebut bisa jadi belum termasuk obat-obatan maupun tambahan fasilitas atau perlengkapan lain yang dibutuhkan.
Sementara itu, biaya operasi Caesar di RS pemerintah berkisar antara Rp 5.000.000 – Rp 20.000.000. Sedangkan, operasi Caesar menggunakan BPJS Kesehatan umumnya gratis, asalkan sesuai prosedur rujukan dan indikasi medis yang ketat, dan bukan atas keinginan sendiri.
Risiko operasi Caesar berkali-kali
Sampai dengan artikel ini dimuat, belum ada angka pasti mengenai berapa banyak operasi caesar yang bisa dijalani. Akan tetapi, para ahli bidang kesehatan sepakat bahwa risiko operasi caesar akan meningkat seiring dengan prosedur yang dilakukan secara berulang. Hal ini mungkin mempengaruhi apakah nantinya Mums dapat kembali menjalani operasi caesar atau tidak.
Beberapa risiko operasi caesar yang dilakukan berkali-kali di antaranya ialah:
Ruptur rahim
Pendarahan hebat yang menyebabkan transfusi darah
Cedera pada kandung kemih atau usus
Histerektomi pada saat persalinan, risikonya terus meningkat setiap kali operasi caesar
Implantasi plasenta yang tidak normal, seperti plasenta akreta
Adhesi yang berkembang seiring bertambahnya ketebalan setiap kali operasi caesar baru dilakukan
Hernia
Diastasis recti, ketika otot perut terpisah dan perut menonjol
Mati rasa dan nyeri di area sayatan
Endometriosis pada sayatan
Mums, persalinan Caesar memang sudah menjadi pilihan yang umum jika terdapat indikasi medis yang mengharuskan persalinan dengan cara ini. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan risiko, serta menyelamatkan nyawa ibu dan bayi ketika persalinan normal sudah tidak mungkin dilakukan.
Sama seperti operasi besar lainnya, operasi Caesar perlu persiapan yang matang, baik mental maupun material. Karena itu, kerja sama tim medis, pasien, dan keluarga yang saling mendukung akan sangat menentukan keberhasilan operasi Caesar ini. Bahkan hingga proses pemulihan pascaoperasi Caesar sampai Mums sehat sempurna setelah melahirkan.
Referensi
PMC. 2025. Evidence-based medical procedures to optimise caesarean outcomes


