Meskipun tantrum adalah bagian normal dari perkembangan balita, hal itu dapat menimbulkan tekanan bagi orang tua atau pengasuh anak. Kadang anak tantrum tidak mengenal waktu dan tidak terduga. Bahkan Mums sendiri tidak paham penyebab anak tiba-tiba tantrum.
Mengatasi anak tantrum tidak semudah membujuk anak untuk berhenti menangis loh Mums, sebab emosi anak saat mengalami temper tantrum biasanya sangat kuat atau meledak-ledak.
Artikel berikut akan membahas semua hal tentang temper tantrum pada balita, mulai dari penyebab dan cara mengatasinya.
Apa Itu Temper Tantrum dan Mengapa Balita Mengalaminya?
Dikutip dari penelitian di jurnal NCBI (2023), temper tantrum adalah ledakan emosi yang biasanya terjadi pada anak usia balita atau di bawah 5 tahun ketika mereka belum mampu mengungkapkan perasaan atau keinginannya dengan kata-kata. Kondisi ini wajar terjadi sebagai bagian dari proses tumbuh kembang anak, terutama dalam belajar mengelola emosi.
Dengan bahasa awam, temper tantrum juga sering disebut dengan amukan atau mengamuk. Istilah ini lebih sering ditujukan untuk anak yang usianya lebih besar. Amukan adalah episode singkat perilaku ekstrem, tidak menyenangkan, dan terkadang agresif sebagai respons terhadap frustrasi atau kemarahan.
Anak mengamuk atau tantrum biasanya tidak memperhitungkan situasi. Pada balita, perilaku biasanya meliputi menangis, berteriak, lemas, meronta-ronta, memukul, melempar barang, menahan napas, mendorong, atau menggigit.
Tingkat keparahan, frekuensi atau seberapa sering, dan lamanya temper tantrum secara alami akan mulai berkurang seiring bertambahnya usia anak. Meskipun sebagian besar amukan pada balita adalah tipikal dan bagian dari perilaku balita normal, amukan atipikal dapat menjadi ciri khas gangguan perilaku dan kejiwaan.
Usia Berapa Anak Paling Sering Mengalami Tantrum?
Penelitian di Jurnal Clinical and Experimental Pediatric (2025) menunjukkan bahwa usia rata-rata anak mengalami tantrum adalah 4 – 5 tahun. Namun di Jurnal NCBI (2023) dikatakan bahwa tantrum paling sering terjadi antara usia 2 dan 3 tahun, tetapi dapat terjadi sejak usia 12 bulan.
Para peneliti telah menemukan bahwa tantrum terjadi pada 87% anak berusia 18 hingga 24 bulan, 91% anak berusia 30 hingga 36 bulan, dan 59% anak berusia 42 hingga 48 bulan.
Balita umumnya mengalami tantrum setidaknya sekali sehari, seperti yang terjadi pada 20% anak berusia 2 tahun, 18% anak berusia 3 tahun, dan 10% anak berusia 4 tahun. 5% hingga 7% anak berusia 1 hingga 3 tahun mengalami tantrum yang berlangsung setidaknya 15 menit sebanyak 3 kali atau lebih per minggu.
Anak-anak dengan gangguan bahasa atau autisme mungkin memiliki perilaku tantrum yang lebih sering dan agresif karena frustrasi tambahan yang terkait dengan kesulitan mengekspresikan diri.
Penyebab Utama Tantrum yang Sering Tidak Disadari Orang Tua
Temper tantrum pada balita sering dianggap sebagai perilaku “rewel” atau tidak mau diatur. Padahal, tantrum sebenarnya adalah bentuk komunikasi anak ketika mereka belum mampu mengungkapkan kebutuhan dan emosinya dengan kata-kata.
Yang sering tidak disadari, pemicunya bukan hanya hal besar, tapi justru hal-hal sederhana dalam keseharian, misalnya anak kelelahan, kelaparan, atau sakit. Frustrasi juga merupakan penyebab umum lainnya.
Agar Mums lebih memahami soal temper tantrum, berikut ini beberapa pemicunya yang kerap tidak disadari:
1. Lapar
Salah satu penyebab paling umum tapi sering terlewat adalah rasa lapar. Saat kadar gula darah menurun, anak jadi lebih mudah:
Rewel
Marah tanpa sebab jelas
Sulit fokus dan cepat frustrasi
Balita belum bisa mengidentifikasi rasa lapar dengan baik, jadi yang muncul adalah ledakan emosi.
2. Kurang tidur
Kurang istirahat bisa membuat sistem kontrol emosi anak menurun loh, Mums. Tanda-tandanya mungkin bisa Mums amati sebelum terjadi ledakan tantrum, yaitu si kecil mulai lebih sensitif dari biasanya, mudah menangis, dan sulit ditenangkan. Banyak tantrum terjadi hanya karena anak sebenarnya sudah terlalu lelah.
3. Overstimulasi
Lingkungan yang terlalu ramai, bising, atau terlalu banyak aktivitas bisa membuat anak kewalahan dan ia pada akhirnya meledak karena tidak mampu mengekspresikan kecemasannya.
Mums patut waspada kalau si kecil mulai menunjukkan perilaku rewel karena terlalu lama di tempat ramai. Salah sedikit bisa jadi temper tantrum tidak berkesudahan.
Di rumah, terlalu sering dan terlalu lama main gadget atau tontonan layar juga bisa memicu perilaku agresif. Apalagi jika aktivitas ini berlangsung tanpa jeda istirahat. Akibatnya, anak menjadi “meledak” karena otaknya kelelahan memproses rangsangan.
4. Perubahan rutinitas
Anak kecil sangat bergantung pada rutinitas. Perubahan kecil saja bisa memicu ketidaknyamanan, seperti jam makan berubah, waktu tidur mundur, atau berada di lingkungan baru. Hal ini membuat anak merasa tidak aman dan akhirnya rewel.
5. Ingin mandiri
Kadang anak menjadi tantrum karena ingin melakukan semuanya mandiri, padahal ia belum mampu. Di usia balita, anak mulai ingin merasa “punya kendali”.
Tantrum bisa muncul ketika ia tidak diberi pilihan, semua keputusan ditentukan orang tua atau anak dilarang mencoba sendiri. Jadi, tidak perlu khawatir berlebihan Mums, sebab Ini sebenarnya bagian dari perkembangan kemandirian.
6. Menginginkan sesuatu
Balita sering ingin sesuatu, tapi belum punya kemampuan bahasa yang cukup untuk menjelaskannya. Ketika tidak dimengerti, anak bisa merasa frustrasi dan akhirnya menangis atau marah sebagai bentuk pelampiasan.
Karena belum bisa menyampaikan dengan baik jika menginginkan sesuatu, anak akan belajar bahwa tantrum adalah cara efektif untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan atau menghindari apa yang tidak mereka inginkan dalam jangka pendek.
7. Butuh Perhatian dan Koneksi Emosional
Kadang tantrum muncul bukan karena ingin sesuatu, tetapi karena anak ingin diperhatikan. Ketika merasa kurang diperhatikan, anak bisa “menarik perhatian” lewat perilaku emosional yang intens.
8. Frustrasi
Balita belajar melalui eksplorasi lingkungan mereka dan mungkin menjadi frustrasi ketika orang lain mencegah mereka melakukan hal ini, misalnya ketika orang dewasa ikut campur karena alasan keamanan.
Cara Merespons Tantrum dengan Tenang dan Efektif
Tantrum adalah bagian dari perkembangan anak yang sehat, sehingga beberapa pakar perkembangan anak menyarankan untuk mengelola tantrum dengan bijak. Ingat ya Mums, tantrum ini bukan suatu kelainan atau penyakit, sehingga sangat jarang dilakukan pemberian obat untuk perilaku ekstrem atau agresif.
Pencegahan adalah cara terbaik untuk menangani tantrum yang sering dan berulang. Mums harus paham pemicu anak tantrum apa, lalu mengurangi pemicu umum, seperti saat anak sudah terlihat lelah, hentikan aktivitasnya dan biarkan ia tidur atau beristirahat.
Ada kalanya Mums atau pengasuh tidak dapat menghindari tantrum, tetapi dapat meminimalkan stres mereka dengan mempraktikkan strategi manajemen yang konsisten.
1. Tetap tenang
Kunci menghadapi anak tantrum adalah tetap tenang, namun nyatakan dengan tegas terhadap perilaku agresif. Misalnya, katakan "jangan menggigit" dengan nada netral. Pendekatan yang tenang dan pengalihan perhatian sangat berguna.
2. Awasi dari jauh
Mungkin tidak mengabaikan total. Hanya saja Mums mungkin perlu bersikap tenang, meninggalkan ruangan, gedung, atau taman bermain bersama anak dan menunggu hingga perilaku tersebut berhenti. Menuruti tuntutan dapat memperkuat perilaku yang tidak diinginkan.
3. Berikan pujian
Saat anak tantrum dan Mums melakukan hukuman dengan menjauh atau time-out mungkin kurang efektif jika digunakan terlalu sering. Cobalah dengan mengubah strategi dengan lebih sering memberikan pujian dan dorongan positif.
4. Hindari hukuman fisik
Jangan memberikan hukuman fisik, karena dapat menyebabkan perilaku tantrum meningkat dalam tingkat keparahan atau durasinya. Hukuman fisik juga mengajarkan anak bahwa memukul diperbolehkan ketika marah atau frustrasi.
Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Orang Tua Saat Anak Tantrum
Saat anak mengalami temper tantrum, respons orang tua sangat menentukan bagaimana anak belajar mengelola emosinya di masa depan. Reaksi yang kurang tepat justru bisa memperburuk kondisi dan membuat anak semakin sulit tenang.
Berikut beberapa hal yang sebaiknya dihindari saat anak tantrum.
1. Membentak atau Berteriak
Membalas teriakan anak dengan teriakan hanya akan meningkatkan emosi. Anak bisa merasa lebih takut, tidak dipahami dan semakin sulit untuk tenang. Membentak atau memarahi, alih-alih meredakan, situasi justru bisa makin kacau.
2. Mengabaikan Secara Total (Silent Treatment)
Mengabaikan anak sepenuhnya saat tantrum bisa membuatnya merasa ditolak. Padahal, saat tantrum anak sebenarnya sedang membutuhkan rasa aman dengan kehadiran orang tua. Ia membutuhkan waktu untuk meregulasi emosi. Diam tanpa respons sama sekali bukan solusi yang tepat.
3. Mengancam anak
Contoh ancaman seperti “kalau nangis lagi, mama tinggal” dapat membuat anak semakin cemas, kehilangan rasa aman, dan tidak belajar mengelola emosi dengan sehat. Ancaman mungkin menghentikan tantrum sementara, tetapi tidak menyelesaikan akar masalah.
4. Memukul atau memberi hukuman fisik
Hukuman fisik tidak membantu anak memahami emosinya. Sebaliknya, ini dapat menimbulkan rasa takut, menghambat perkembangan emosi, dan membuat anak meniru perilaku agresif. Ingat ya, Mums, disiplin bukan berarti menyakiti.
5. Langsung menuruti semua keinginan anak
Memberi semua yang diminta saat tantrum bisa menjadi “pola belajar” bahwa menangis artinya mendapatkan keinginan. Akibatnya tantrum bisa semakin sering, anak sulit belajar batasan, dan emosi jadi alat untuk mendapatkan sesuatu.
6. Mempermalukan anak di depan orang lain
Mengomentari atau mempermalukan anak saat tantrum di tempat umum bisa berdampak buruk pada rasa percaya dirinya. Anak bisa merasa malu, tidak aman secara emosional dan anak merasa sedih dan tidak dipahami. Harga diri anak akan jatuh dan ini tidak baik untuk ke depannya.
Kapan Harus ke Ahli ?
Temper tantrum adalah bagian dari tumbuh kembang anak, saat anak belajar mengatur dan mengeskpresikan emosi. Namun, tidak semua perilaku tantrum normal, terutama yang berlangsung terus menerus dan disertai perilaku yang sangat ektrem atau agresif.
Mums perlu membawa si Kecil ke psikolog, dokter anak atau ahli yang kompeten lainnya ketika anak menunjukkan gaya tantrum yang dikaitkan dengan risiko lebih tinggi mengalami kondisi kejiwaan.
Tandanya antara lain:
- Anak-anak ini menunjukkan agresi secara konsisten
- Sengaja melukai diri sendiri
- Tidak mampu menenangkan diri
- Aktivitas tantrum berlangsung lebih dari 25 menit.
Anak-anak dengan gaya tantrum seperti ini mungkin akan mendapat manfaat dari rujukan ke dokter anak spesialis perkembangan, psikolog anak, atau psikiater anak.
Kesimpulan
Saat anak tantrum, yang paling dibutuhkan bukan hukuman, tetapi ketenangan, pendampingan, dan rasa aman dari orang tua. Dengan respons yang tepat, anak akan belajar bahwa emosi itu boleh dirasakan, tetapi juga bisa dikendalikan dengan cara yang sehat.
Bagi Mums yang ingin berkonsultasi dengan ahli Psikolog untuk memahami perilaku dan tumbuh kembang anak, Mums bisa mendapatkannya di Psikolog Corner Teman Bumil dan Parenting.
Referensi:
NCBI. 2023. Temper Tantrums
Clinical and Experimental Pediatric. 2025. Characteristics of temper tantrums in 1–6-year-old children and impact on caregivers


