Banyak pasangan yang baru menikah, berencana menunda kehamilan karena berbagai alasan. keputusan ini diambil atas kesepakatan bersama pasangan dan mulai diterapkan tepat setelah pernikahan dilangsungkan.
Memang pilihan hamil, menunda, atau bahkan tidak mau hamil sekalipun, adalah hak prerogative kedua pasangan tersebut. Namun sebelum menentukan pilihan, pastikan memahami plus minus maupun konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil, termasuk menunda kehamilan.
Alasan umum menunda kehamilan
Fenomena menunda kehamilan memang sedang terjadi saat ini. Menurut penelitian dalam jurnal Population Studies (2024) menemukan bahwa masyarakat di Eropa semakin menganggap usia lebih matang sebagai waktu yang “ideal” untuk memiliki anak.
Fenomena delayed fertility meningkat karena faktor pendidikan, karier, ekonomi, dan perubahan gaya hidup pasangan modern. Ada tiga point penting dalam temuan tersebut, yaitu : banyak pasangan memilih memiliki anak pertama setelah usia 30 tahun. Orang tua yang lebih matang sering merasa lebih siap secara emosional dan finansial. Namun, penundaan terlalu lama tetap berkaitan dengan penurunan kesuburan alami.
Berikut ini alasan umum menunda kehamilan :
1. Mengenal pasangan lebih jauh
Ada pasangan yang butuh waktu untuk beradaptasi dan mengenal pasangan lebih jauh setelah menikah. Itu sebabnya mereka memilih untuk menunda kehamilan agar punya waktu bersama lebih lama lagi.
2. Belum siap mental
Menjadi orang tua memang bukan perkara mudah, dibutuhkan kesiapan mental untuk menjalankan peran dan tanggung jawab yang besar ini. Dan menunda kehamilan adalah alasan umum bagi mereka yang belum siap secara mental.
3. Karier dan karier
Mengejar karier juga jadi alasan yang dipilih banyak pasangan untuk menunda kehamilan. Apalagi bagi pasangan yang tuntutan kariernya begitu tinggi dan kesempatan yang sama belum tentu terulang lagi.
Selain karier, sekolah lanjutan atau pendidikan yang lebih tinggi sering jadi alasan menunda kehamilan. Untuk bisa fokus belajar dan meraih jenjang pendidikan tertinggi sesuai keinginan.
4. Merencanakan jarak usia anak
Pasangan yang ingin merencanakan jarak usia anak dengan lebih baik, memilih untuk menunda kehamilan. Alasan ini mungkin berkaitan dengan pendidikan sekolah anak nantinya.
5. Kesehatan
Kondisi kesehatan pasangan yang tidak memungkinkan untuk hamil jadi alasan pasangan menunda kehamilan setelah menikah. Fokus mereka adalah pengobatan untuk pemulihan kesehatan sebelum bisa benar-benar hamil.
Plus minus menunda kehamilan
Apa pun alasan yang mendasari keputusan untuk menunda kehamilan, ada plus minus atau konsekuensi dari keputusan tersebut.
Berikut ini nilai plus atau kelebihan dari menunda kehamilan :
1. Hubungan suami istri lebih kuat
Masa awal pernikahan sering menjadi waktu adaptasi besar bagi pasangan. Menunda kehamilan dapat memberi kesempatan untuk keduanya belajar memahami karakter pasangan dan membangun komunikasi yang sehat.
2. Ekonomi lebih siap
Memiliki anak membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mulai dari pemeriksaan kehamilan, persalinan, kebutuhan bayi, hingga pendidikan. Dengan menunda kehamilan, pasangan dapat menabung lebih banyak, melunasi utang, menyiapkan rumah, atau membangun dana darurat keluarga.
3. Kesehatan mental dan fisik lebih terjaga
Sebagian pasangan membutuhkan waktu untuk benar-benar siap menjadi orang tua. Menunda kehamilan dapat membantu menjaga kesehatan mental, terutama jika pasangan masih mudah stres, belum siap dengan perubahan besar, atau masih menyesuaikan diri dengan kehidupan pernikahan.
4. Kesempatan mengembangkan diri
Sebagian pasangan memanfaatkan masa awal pernikahan untuk melanjutkan pendidikan, membangun usaha, mengejar target karier, atau menikmati pengalaman hidup bersama. Hal ini bukan sesuatu yang salah selama tetap direncanakan dengan baik.
Minus menunda kehamilan :
1. Risiko menurunnya kesuburan
Seiring bertambahnya usia, kesuburan terutama pada wanita akan menurun. Kesuburan wanita umumnya mulai menurun setelah usia 30 tahun dan lebih signifikan setelah 35 tahun. Karena itu, jika ingin menunda cukup lama, pasangan tetap perlu memahami kondisi kesehatan reproduksi masing-masing.
2. Tekanan sosial
Menunda kehamilan berarti harus siap menerima tekanan sosial baik dari keluarga maupun lingkungan. Tekanan sosial kadang memicu stres atau konflik dalam rumah tangga. Padahal keputusan memiliki anak seharusnya menjadi hak pasangan itu sendiri.
3. Risiko kehamilan usia lebih tua
Kehamilan pada usia yang lebih matang tetap bisa sehat, tetapi beberapa risiko medis dan komplikasi kehamilan meningkat. Risiko ini tentu tidak terjadi pada semua orang, tetapi tetap perlu dipahami sebagai bagian dari perencanaan kehamilan.
Tips menunda kehamilan yang aman
Bagi pasangan baru yang memilih menunda kehamilan, pastikan melakukan tips berikut ini agar penundaan tersebut tetap aman tidak berujung masalah di kemudian hari :
1. Diskusikan dengan pasangan
Pastikan keputusan menunda kehamilan disepakati bersama, bukan karena tekanan sepihak.
Diskusikan alasan menunda, berapa lama ingin menunda, target finansial, dan rencana memiliki anak di masa depan. Komunikasi terbuka dapat mencegah kesalahpahaman dalam rumah tangga.
2. Konsultasikan dengan dokter
Setelah sepakat, lanjutkan dengan berkonsultasi pada dokter. Untuk memastikan kondisi kesehatan juga kesuburan kedua pasangan, termasuk risiko yang mungkin terjadi jika menunda kehamilan.
3. Gunakan alat kontrasepsi
Ada banyak pilihan kontrasepsi yang bisa dipertimbangkan, seperti kondom, pil KB, suntik KB, IUD, implan, atau metode alami. Pemilihan kontrasepsi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan, kenyamanan, efektivitas, dan rencana kehamilan ke depan.
4. Tetap jaga kesehatan reproduksi
Walau sedang menunda kehamilan, jaga kesehatan reproduksi dengan tidur cukup, makan bergizi, olahraga rutin, menghindari rokok dan alkohol, serta rutin memeriksakan kesehatan. Kesehatan reproduksi yang baik dapat membantu meningkatkan peluang kehamilan sehat di masa depan.
5. Tentukan target waktu
Menunda kehamilan tanpa target waktu yang jelas adalah kesalahan. Pastikan target waktunya, misalnya menunda 1–2 tahun setelah menikah, atau setelah menyelesaikan pendidikan. Memiliki target membantu pasangan lebih siap secara emosional dan praktis.
Mums, menunda kehamilan bagi pasangan baru adalah keputusan yang wajar dan sering dilakukan banyak pasangan modern. Ada berbagai keuntungan seperti kesiapan mental, finansial, dan hubungan yang lebih matang. Namun, ada juga risiko yang perlu dipertimbangkan, terutama terkait usia dan kesuburan. Karenanya, penting untuk berdiskusi terbuka dengan pasangan dan berkonsultasi dengan dokter kandungan atau bidan.
Referensi :
Population Studies. 2024. Change in the perceived reproductive age window and delayed fertility in Europe


