Membesarkan anak-anak yang tidak hanya cerdas tetapi juga baik hati tentu menjadi harapan semua orang tua ya, Mums! Apalagi saat ini kita sudah sangat sering disuguhi kejahatan dan perilaku orang tidak bertanggungjawab di media sosial, atau di lingkungan kita sendiri.
Mendidik anak agar memilkiki kasih sayang kepada sesama bukan hal yang mustahil, karena dasar-dasarnya harus diperkuat di lingkungan terkecil yaitu keluarga. Ya, langkah pertama dalam mengajari anak-anak untuk mengenal kasih sayang adalah dengan mencontohkan kebaikan dan kasih sayang di rumah.
Jika Mums adalah orang tua yang berpikir bahwa mengajarkan anak-anak untuk bersikap ramah, murah hati, dan penuh perhatian terhadap teman-teman mereka sama pentingnya dengan menjadi cerdas atau atletis, berikut ini cara sederhana untuk membantu anak-anak dari segala usia tumbuh menjadi orang dewasa yang peduli dan memiliki empati tinggi.
Pentingnya Anak-Anak Belajar Kasih Sayang dan Empati
Ketika anak-anak belajar empati, ia akan belajar merasakan apa yang orang lain rasakan. Dari empati inilah kelak anak akan mudah mendapatkan teman dan membuka jalan saat ini mulai aktif di kehidupan sosial.
Jangan salah, anak-anak yang memiliki empati tinggi ternyata juga akan memiliki peningkatan dalam nilai akademis. Hal ini karena anak lebih kooperatif dengan guru, mudah berteman dengan teman sebaya, dan itu dapat membantu mereka mendapatkan hasil maksimal dari nilai akademisnya.
Keterampilan berempati ini juga menumbuhkan kepercayaan diri. Peduli terhadap orang lain, katanya, membantu anak-anak merasa lebih tenang dan lebih berkembang kreativitasnya.
Cara Mengajari Anak Agar Memiliki Kasih Sayang dan Empati
Dunia digital saat ini membawa risiko nyata yaitu "Terputusnya hubungan sosial dan risiko terisolasi". Itulah mengapa para ahli menegaskan bahwa membesarkan anak-anak yang memiliki empati dan kepedulian tinggi saat ini harus dijadikan prioritas.
Empati dan kasih sayang, adalah alat yang dibutuhkan anak-anak untuk menavigasi saat mereka terjun ke “masyarakat kita yang semakin kompleks dan serba menggunakan teknologi.” Bagaimana caranya?
Dimulai dari rumah. Semua pelajaran diawali dari hal kecil, ibarat menanam biji kecil yang akan tumbuh besar menjadi pohon raksasa. Apa yang kita ajarkan ke anak, akan membawa mereka ke mana saat mereka besar.
Berikut ini beberapa cara yang bisa Mums dan Dads lakukan untuk mengasah rasa kasih sayang dan empati pada diri anak-anak:
1. Soft spoken sejak dini
Bahkan sebelum anak-anak bisa berbicara, mereka sudah menangkap isyarat emosional: kelembutan suara, ekspresi wajah Mums dan Dads, dan cara Mums merespons ketika orang lain sedang sedih, adalah pelajaran buat anak.
Pengamatan awal tersebut membentuk cetak biru internal mereka tentang bagaimana orang seharusnya memperlakukan satu sama lain. Bayi memperhatikan ketika Mums menghibur Dads yang sedang mengalami hari yang sulit. Mereka kemudian akan meniru, mungkin dengan menepuk-nepuk atau memeluk boneka kesayangannya atau kucing dan anjing pelihraan di rumah.
2. Gunakan cerita sesuai usia
Cerita adalah salah satu alat paling ampuh untuk membangun empati. Anak-anak senang mendengarkan dongen pengantar tidur, dan mereka akan memiliki imajinasi kehidupan tokoh dalam dongeng.
Coba Mums membacakan kisah yang terjadi di dunia ini, tentang penderitaan sesama manusia di belakah bumi lainnya. Misalnya, cerita tentang pengungsian, bencana alam, atau anak-anak yang kurang beruntung karena kehilangan orang tua.
Bagi anak-anak kecil, buku bergambar tentang pengungsi membantu mereka memvisualisasikan ketahanan, keluarga, dan kelangsungan hidup dengan cara yang tidak menakutkan atau melemahkan semangat.
3. Ceritakan tentang peristiwa dunia
Bahkan anak-anak kecil pun menyerap sedikit informasi tentang konflik, kekerasan, dan bencana, baik melalui teman sekelas, TV di ruang tunggu, atau percakapan orang dewasa yang tidak sengaja mereka dengar. Daripada membiarkan anak-anak membangun rasa takut atau kesalahpahaman, Mums dan Dads sebaiknya berperan aktif dalam bagaimana mereka menerima berita tentang peristiwa dunia.
Ketika anak-anak mendapatkan informasi dari orang tuanya, mereka merasa lebih aman dan lebih terhubung dengan pengalaman bukan hanya orang-orang di sekitar mereka tetapi juga orang-orang yang tidak akan pernah mereka temui.
Untuk anak-anak yang lebih kecil, berikan penjelasan singkat dan berlandaskan pada hal yang paling penting bagi mereka: keselamatan, keadilan, dan para penolong yang bekerja untuk melindungi orang-orang. Mums mungkin akan berkata, “Beberapa keluarga harus meninggalkan rumah mereka karena tidak aman, tetapi orang-orang di seluruh dunia membantu mereka.”
4. Ciptakan ruang untuk bercerita
Empati tidak dibangun melalui tindakan besar, melainkan tumbuh dalam ritme sederhana dan sehari-hari kehidupan keluarga. Prioritaskan waktu bersama, seperti makan malam keluarga, untuk membicarakan apa yang terjadi di dunia.
Rutinitas yang konsisten membantu anak-anak merasa aman dan nyaman, memberi mereka kesempatan mengajukan pertanyaan besar dan mengungkapkan kekhawatiran mereka. Anak-anak yang lebih kecil mungkin bertanya mengapa seseorang di berita menangis, sementara remaja mungkin bergumul dengan cara membentuk opini mereka sendiri tentang ketidakadilan, politik, atau ketidaksetaraan global.
Ketika percakapan ini terjadi secara teratur, anak-anak belajar bahwa pikiran mereka penting dan bahwa orang tua mereka adalah penuntun yang aman ketika dunia terasa membingungkan.
5. Dorong anak-anak beraksi nyata
Ajarkan anak berdonasi dan menyumbang mereka yang kurang beruntung, berbuat baik, dan peduli pada orang lain dapat meningkatkan rasa percaya diri dan dapat memberi anak tyjuan hidup.
Untuk anak-anak sekolah dasar, pilih mainan, buku, atau pakaian untuk disumbangkan.Untuk anak yang lebih besar, ajak menjadi sukarelawan seperti acara di masjid, gereja, atau membantu mengumpulkan dana untuk tim olahraga atau tari.


