Berhenti merokok atau menggunakan vape kapan pun selama kehamilan atau menyusui akan berdampak buruk pada bayi. Di awal kehidupannya yang masih sangat rentan, tubuh mungil bayi mesti berhadapan dengan dampak buruk dari ibu menyusui ngevape.
Kabar baiknya, untuk ibu menyusui ngevape yang ingin berhenti karena khawatir dengan kesehatan bayinya, ada beberapa cara mudah untuk berhenti dari kebiasaan buruk ini. Misalnya dengan mengenali pemicu Mums nge-vape, lalu berhenti secara bertahap.
Cara apalagi yang bisa dicoba? Baca artikel berikut ya!
Bahaya vape untuk ibu menyusui
Rokok elektronik atau vape mengandung baterai, alat pemanas, dan kartrid untuk menampung cairan. Cairan tersebut biasanya mengandung nikotin, perasa, dan bahan kimia lainnya. Alat bertenaga baterai memanaskan cairan dalam kartrid menjadi aerosol yang dihirup pengguna.
Berikut ini bahaya vape untuk ibu menyusui:
1. Paparan nikotin berbahaya
E-rokok, vape, dan sejenisnya mengandung nikotin tidak aman digunakan selama kehamilan dan menyusui. Nikotin merupakan zat berbahaya karena dapat merusak otak dan paru-paru bayi di masa perkembangannya. Selain itu, beberapa perasa yang digunakan dalam vape juga sangat berbahaya.
Sayangnya, banyak orang menganggap vape “lebih aman” dibandingkan dengan rokok biasa. Padahal, menurut CDC Centers for Disease Control and Prevention (2025) disebutkan bahwa nikotin dan zat kimia vape tetap bisa masuk ke ASI dan berdampak pada bayi.
2. Gangguan pernapasan
Kadar nikotin pada ASI berkaitan erat dengan tingkat kecanduan ibu. Dampak ibu menyusui ngevape bagi bayi di antaranya bayi lebih gelisah, gangguan tidur, detak jantung meningkat, risiko gangguan perkembangan paru, dan potensi gangguan perkembangan otak.
Penggunaan rokok elektrik saat menyusui memungkinkan nikotin, logam berat, bahan kimia berbahaya, masuk ke tubuh bayi melalui ASI maupun udara sekitar.
CDC juga menegaskan bahwa tidak ada vape yang benar-benar aman untuk ibu menyusui, erosol vape tetap dapat mencemari lingkungan bayi, dan secondhand aerosol dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan bayi.
3. Menurunkan kualitas ASI
Studi biomedis dari jurnal Biochemical and Biophysical Research Communications (2025) menunjukkan bahwa nikotin dapat mengganggu sel kelenjar payudara yang bertugas memproduksi protein ASI (casein secretion).
Temuan penting dari studi ini disebutkan bahwa nikotin memengaruhi jalur hormon prolaktin dan fungsi sel payudara sehingga produksi ASI bisa menurun, masa menyusui lebih pendek, dan kualitas ASI dapat berubah. Hal ini juga sudah lama ditemukan pada ibu perokok aktif.
4. Bahaya lain selain dari nikotin
Cairan vape mengandung berbagai zat lain seperti propylene glycol, glycerine, flavoring chemicals, volatile organic compounds (VOC), juga logam berat. Saat dipanaskan, zat tersebut dapat berubah menjadi senyawa toksik. Sehingga paparan uap vape tanpa nikotin pun tetap berbahaya.
5. Risiko jangka panjang
Ibu menyusui ngevape, bahayanya tidak hanya saat itu, melainkan jangka panjang pada tumbuh kembang bayi. Beberapa jurnal internasional mengaitkan paparan nikotin melalui ASI dan lingkungan dengan risiko Sudden Infant Death Syndrome, infeksi saluran napas, bronchitis, gangguan paru, infeksi telinga berulang, hingga masalah perilaku dan perhatian di kemudian hari.
Cara mudah berhenti ngevape bagi ibu menyusui
Mums, berhenti vape memang tidak selalu mudah, terutama jika sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Namun, demi kesehatan sendiri dan si Buah Hati, berhenti ngevape mesti dilakukan dengan beberapa langkah mudah sehingga proses berhenti terasa lebih ringan, berikut ini :
1. Kurangi bertahap
Jika berhenti total sangat sulit, maka lakukan secara bertahap dengan cara mengurangi frekuensi vaping, memperpanjang jeda penggunaan, atau menurunkan kadar nikotin secara bertahap. Langkah kecil ini akan sangat berarti jika dilakukan dengan konsisten.
2. Kenali situasi pemicu vape, cari alternatifnya
Biasanya keinginan untuk vaping muncul di saat tertentu. Seperti saat stres, kurang tidur, merasa lelah, atau sedang sendirian. Cobalah mencari pengganti yang lebih sehat seperti minum air putih, ngemil sehat, berjalan santai, mendengarkan musik, atau melakukan relaksasi napas.
3. Jauhkan vape dari jangkauan
Menyimpan alat vape di dekat diri sendiri dapat memicu keinginan untuk menggunakannya lagi. Karena itu, buang atau simpan jauh perangkat vape dari jangkauan, termasuk POD, dan cairan isi ulangnya. Lingkungan bebas vape membantu proses berhenti lebih efektif.
4. Cari dukungan
Niat dan tekad sendiri saja sering kali tidak cukup, mesti ditambah dukungan dari pasangan maupun orang terdekat. Mums akan lebih mudah berhenti jika lingkungan sekitar juga mendukung gaya hidup bebas asap dan vape. Minta mereka untuk mengingatkan dan membantu, tidak memperlihatkan vape, apalagi menggunakannya di depan busui.
5. Fokus pada manfaat untuk bayi
Mums, setiap kali muncul keinginan untuk vaping, ingat bahwa manfaat berhenti ini tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk si Kecil agar hidupnya lebih sehat. Lebih spesifiknya, berhenti vaping dapat membantu menjaga kualitas ASI, mengurangi paparan nikotin pada bayi, dan mendukung tumbuh kembang anak lebih optimal.
6. Konsultasi dengan tenaga medis
Jika merasa sangat sulit berhenti, konsultasikan dengan dokter atau konselor laktasi. Bantuan profesional dapat membantu Mums menemukan metode berhenti yang lebih aman selama menyusui.
Mums, itulah cara efektif berhenti ngevape untuk ibu menyusui yang patut dicoba. Ingat, vape tidak aman untuk ibu menyusui. Karena nikotin dan bahan kimianya dapat merusak ASI yang berdampak pada tumbuh kembang si Kecil. Berhenti bertahap dengan dukungan lingkungan biasanya lebih berhasil dibandingkan dengan memaksa berhenti mendadak tanpa strategi yang tepat.
Referensi :
1. Centers for Disease Control and Prevention. 2025. Tobbaco and Electronic Cigarettes .
2. Biochemical and Biophysical Research Communications. 2025. Nicotinic acetylcholine receptors modulate casein secretion and claudin expression in mammary epithelial cells by regulating STAT5 and Akt pathways.


