Belajar Makan Sendiri dan Manfaatnya untuk Tumbuh Kembang si Kecil

Dipublish: Selasa, 31 Maret 2026 14:11 WIB

Diperbarui: Selasa, 31 Maret 2026 14:22 WIB

Anak sedang makan sendiri
Ella Nurlaila

Ella Nurlaila

Bagikan :

Informasi artikel ditinjau oleh

dr. Astrid Sophia

Belajar makan adalah salah satu milestone penting dalam perkembangan anak. Aktivitas yang terlihat sederhana ini sebenarnya melibatkan banyak kemampuan sekaligus, mulai dari koordinasi tangan dan mulut, keterampilan motorik halus, hingga kemampuan mengenali rasa dan sinyal lapar dan kenyang.

Selama proses belajar makan ini, Mums akan bersiap dengan meja yang kotor, mulut belepotan, dan makanan yang berceceran. Intinya jauh dari rapi. Kadangkala, orang tua menjadi tidak sabar dan lebih baik anak disuapi saja meskipun sebenarnya anak harus sudah mulai bejalar makan sendiri. Banyak orang tua bertanya: lebih baik anak makan sendiri atau disuapi? Jawabannya bukan salah satu saja, melainkan kombinasi keduanya sesuai tahap perkembangan anak.

Belajar makan memberikan manfaat yang sangat besar untuk masa depan anak. Di antaranya anak belajar tentang tekstur makanan, mengenal berbagai rasa makanan, hingga mengenal rasa lapar dan kenyang. Jadi Mums, biarkan kotor dan berantakan. Karena ini adalah masa yang penting, dan ada masanya anak anak pintar makan sendiri. Siapa yang bangga?

Yuk, belajar lagi di artikel ini tentang manfaat belajar makan pada anak dan tips mendampingi anak belajar makan sediri.


Mengapa Anak Perlu Belajar Makan Sendiri?


Dalam penelitian yang dipublikasikan di Italian Journal of Pediatric (2024) dikatakan, proses pemberian makan dan menelan pada bayi usia dini merupakan proses motorik kompleks yang melibatkan banyak otot secara terkoordinasi. Oleh karena itu dibutuhkan proses belajar bagi seorang anak sampai bisa terampil makan sendiri. 

Tujuan akhir anak belajar makan adalah saat si kecil bisa mengunyah dan menelan dan  makan sendiri dengan berbagai jenis makanan dari diet keluarga. Kemampuan makan sendiri atau self-feeding merupakan bagian dari perkembangan kemandirian anak. Saat anak memegang makanan, menggenggam sendok, dan memasukkannya ke mulut, ia sedang melatih koordinasi motorik dan eksplorasi sensorik.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa cara pemberian makan dapat memengaruhi perilaku makan anak di kemudian hari. Studi tentang metode Baby-Led Weaning (BLW) yang dipublikasikan di Journal of Pediatric Nursing (2023) yang mendorong anak makan sendiri sejak awal MPASI menunjukkan adanya perbedaan perilaku makan dibanding metode spoon feeding (disuapi), termasuk respons anak terhadap makanan dan tingkat ketertarikan mereka terhadap makanan. 

Selain itu, self-feeding membantu anak:

  • Mengembangkan motorik halus (menggenggam, menjepit, memegang sendok)

  • Mengenali tekstur, rasa, suhu, dan aroma makanan

  • Belajar mengatur rasa lapar dan kenyang

  • Meningkatkan kemandirian dan kepercayaan diri

Dengan kata lain, waktu makan bukan hanya tentang nutrisi, tetapi juga proses belajar yang penting bagi perkembangan anak.

Kapan Anak Mulai Belajar Makan Sendiri?

Sebagian besar ahli menyarankan bahwa belajar makan sendiri dapat mulai diperkenalkan sejak usia sekitar 6–9 bulan, ketika bayi sudah mulai mendapatkan MPASI dan memiliki kemampuan menggenggam makanan. 

Namun, proses ini biasanya berlangsung bertahap, sesuai perkembangan motorik anak. Berikut ini tahapan belajar makan sendiri:

1. Usia 6–8 bulan: eksplorasi makanan
Pada tahap awal MPASI, anak masih banyak disuapi, tetapi bisa mulai dikenalkan dengan makanan yang bisa digenggam.

Ciri anak siap belajar makan sendiri:

  • Bisa duduk dengan stabil

  • Mulai mengambil makanan dari piring

  • Tertarik memegang sendok atau makanan

Pada fase ini anak sering memegang, meremas, atau menjatuhkan makanan. Ini adalah proses belajar normal.


2. Usia 8–10 bulan: mulai makan dengan tangan
Di usia ini kemampuan menggenggam anak semakin baik sehingga mereka bisa mulai makan finger food.

Contoh makanan yang cocok:

  • Wortel kukus

  • Brokoli rebus

  • Kentang kukus

  • Pisang

  • Pepaya

  • Tahu lembut

  • Telur dadar lembut

Finger food biasanya dipotong memanjang atau kecil agar mudah digenggam dan bertekstur lembut untuk mengurangi risiko tersedak. 


3. Usia 12–18 bulan: belajar menggunakan sendok
Pada usia ini koordinasi tangan dan mulut semakin berkembang. Anak mulai bisa mencoba menggunakan sendok sendiri, walaupun masih sering tumpah.

Sebagian anak sudah cukup mandiri makan di usia ini, sementara sebagian lainnya masih membutuhkan bantuan orang tua. 

Sampai Kapan Anak Perlu Disuapi?

Walaupun makan sendiri penting, menyuapi tetap memiliki peran dalam proses belajar makan anak. Menyuapi dianjurkan dalam beberapa kondisi berikut:

1. Saat anak baru mulai MPASI

Di awal fase makan, anak masih belajar mengunyah dan menelan, sehingga sebagian makanan biasanya masih perlu disuapi agar kebutuhan nutrisi tetap terpenuhi.


2. Saat anak belum memiliki koordinasi motorik yang cukup

Beberapa anak membutuhkan waktu lebih lama untuk mengembangkan kemampuan motorik halus.

Jika anak:

  • Belum bisa menggenggam dengan baik

  • Mudah frustrasi saat makan sendiri

  • Terlalu sedikit makanan yang masuk

Orang tua boleh membantu dengan menyuapi sebagian makanan.


3. Saat anak sedang sakit atau sangat lelah

Ketika anak sakit, nafsu makan biasanya menurun dan energi juga terbatas. Dalam kondisi ini, menyuapi bisa membantu memastikan anak tetap mendapatkan nutrisi yang cukup.

Pendekatan yang Dianjurkan: Kombinasi Makan Sendiri dan Disuapi


Banyak ahli menyarankan pendekatan responsive feeding, yaitu cara makan yang responsif terhadap kebutuhan dan kesiapan anak. Contoh praktiknya, anak diberi kesempatan makan sendiri terlebih dahulu, lalu orang tua membantu menyuapi di akhir agar nutrisi tercukupi. Jangan pernah memaksa anak  menghabiskan makanan. Pendekatan ini membantu anak tetap belajar mandiri sekaligus memastikan kebutuhan gizi terpenuhi.


Tantangan Saat Anak Belajar Makan Sendiri

Belajar makan sendiri sering membuat orang tua khawatir karena biasanya makanan  berantakan atau anak justri bermain-main dengan makanan sehingga porsi yang dimakan sedikit

Namun kondisi tersebut normal dalam proses belajar. Bahkan eksplorasi makanan membantu anak mengenali tekstur dan meningkatkan penerimaan terhadap berbagai jenis makanan.

Beberapa tips yang bisa dilakukan orang tua:

  • Sediakan alas makan atau bib besar

  • Gunakan piring dan sendok khusus bayi

  • Sajikan porsi kecil terlebih dahulu

  • Makan bersama keluarga agar anak bisa meniru

Lingkungan makan yang positif juga membantu anak lebih tertarik mencoba makanan baru. Dengan dukungan orang tua yang sabar dan responsif, waktu makan tidak hanya menjadi rutinitas harian, tetapi juga momen belajar yang menyenangkan bagi anak.


Referensi: 

1. Italian Journal of Pediatric. 2024. Development of eating skills in infants and toddlers from a neuropediatric perspective

2. Journal of Pediatric Nursing. 2023. The effect of baby-led weaning and traditional complementary feeding trainings on baby development

Kasih Saran, Yuk!