Perceraian cukup menjadi masalah bagi orang tua, tidak untuk anak-anak. Bagaimanapun kondisinya, anak-anak tetap berhak mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya walaupun sudah berpisah.
Di sinilah co-parenting dibutuhkan agar pengasuhan tetap berjalan. Sehingga hubungan antara anak dan orang tua tetap terjalin dengan baik. Sebab, ikatan darah tidak bisa tergantikan oleh apa pun juga.
Apa itu co-parenting setelah bercerai?
Tidak ada pasangan yang ingin gagal dalam berumah tangga. Namun, sering kali takdir tidak bisa dicegah. Perceraian yang dihindari tetap saja terjadi. Dan korban pertama dari sebuah perceraian orang tua adalah anak-anak.
Tentu saja, setelah bercerai, pengasuhan anak mengalami perubahan. Di sinilah orang tua mesti bijak menerapkan co-parenting dengan tepat. Demi kebutuhan dan tumbuh kembang anak-anaknya.
Co-parenting adalah pengasuhan bersama setelah perceraian. Kedua orang tua tetap berperan aktif dalam kehidupan sehari-hari anak-anak mereka.
Bisa dibilang co-parenting adalah cara terbaik untuk memastikan bahwa semua kebutuhan anak terpenuhi dan memungkinkan mereka mempertahankan hubungan yang dekat dan hangat dengan kedua orangtuanya sekalipun sudah tidak tinggal serumah.
Pentingnya Co-parenting untuk Anak
Pernikahan boleh berakhir, namun menjadi orang tua bagi anak-anak tidak pernah mengenal kata akhir. Karena itulah co-parenting tetap diperlukan sekalipun orang tua sudah berpisah.
Terkait hal ini, hasil penelitian dalam jurnal Child Protection and Practice (2025) menyebutkan bahwa faktor keberhasilan co-parenting salah satunya adalah ketika mendapat pendampingan profesional yang juga fokus pada kepentingan terbaik anak. Peneliti menegaskan bahwa bahkan dalam perceraian yang penuh konflik, co-parenting yang sehat tetap dapat menjadi faktor protektif bagi perkembangan anak.
Berikut ini berbagai manfaat co-parenting untuk anak :
1. Anak tetap prioritas utama
Melalui co-parenting ini, anak menyadari bahwa mereka lebih penting daripada konflik pernikahan orang tuanya. Artinya, anak-anak tetap jadi prioritas utama di tengah konflik pribadi orang tuanya. Bahwa cinta dan kasih sayang orang tua tidak berubah sekalipun keadaan berubah.
2. Merasa aman
Orang tua yang kooperatif memberikan rasa aman bagi anak-anaknya. Ketika anak yakin dengan kasih sayang orang tuanya, anak-anak akan lebih cepat dan mudah beradaptasi dengan kehidupan barunya.
3. Memahami solusi terbaik
Anak-anak yang melihat bagaimana orang tuanya bekerja sama dalam mewujudkan co-parenting, mungkin diam-diam belajar bagaimana menyelesaikan masalah secara efektif, damai, dan mencapai solusi terbaik.
4. Lebih sehat secara mental dan emosional
Dengan co-parenting yang sehat, anak-anak minim terpapar konflik orang tua yang semestinya tidak diketahui anak. Sehingga anak tumbuh dengan lebih sehat secara mental dan emosional.
Tantangan Co-Parenting Setelah Perceraian
Menjalani co-parenting tentu saja tidak mudah. Ada sejumlah tantangan yang mesti dihadapi, di antaranya :
1. Aspek emosional
Sebagus apa pun mengendalikan emosi dan konflik dengan pasangan, pasti akan berimbas juga pada pengasuhan anak. Di sinilah orang tua ditantang untuk berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan mantan pasangan, untuk kemudian mengasuh anak tanpa embel-embel emosi yang belum selesai.
2. Perbedaan pola asuh
Tantangan berikutnya dalam co-parenting adalah perbedaan pola asuh antara dua orang tua ini. Walaupun berbeda cara, asal orang tua tetap konsisten dengan nilai-nilai atau prinsip dasar dalam pengasuhan, harusnya tidak masalah. Misalnya, disiplin dalam pemberian screen time pada anak, jam tidur, pola makan sehat, dan lain-lain.
3. Menjaga komunikasi
Faktor komunikasi dan interaksi yang sehat dengan mantan pasangan setelah melewati konflik perceraian juga tak kalah menantangnya. Terutama untuk hal-hal yang menyangkut kebutuhan anak. Misalnya, memilih sekolah, menentukan jenis ekskul yang akan diikuti, jadwal tinggal bergiliran antara orang tua.
4. Pasangan baru
Keberadaan pasangan baru juga jadi tantangan tersendiri. Apalagi jika anak-anak sulit atau belum menerima kehadirannya. Orang tua mesti pandai bersikap dan bertindak, memprioritaskan kebutuhan dan hak anak, ketimbang pasangan barunya.
Cara Menerapkan Co-Parenting Setelah Bercerai
Agar co-parenting berjalan dengan lancar dan mendapatkan manfaat maksimal untuk anak maupun orang tua, berikut ini cara efektif menerapkannya :
1. Tetapkan jadwal pengasuhan
Sejak awal, tetapkan jadwal pengasuhan atau jadwal tinggal bersama salah satu orang tua. Hal ini penting agar anak terhubung secara emosional dan meningkatkan bonding dengan orang tuanya.
2. Bersikap fleksibel
Meskipun rutinitas dan jadwal sudah ditetapkan, jika ada hal-hal di luar kendali atau tidak bisa diprediksi sebelumnya, tetaplah mengikutinya. Jangan memaksakan diri untuk sesuatu yang di luar kuasa sebagai orang tua. Hal ini penting untuk meminimalkan risiko konflik dengan mantan pasangan maupun anak itu sendiri.
3. Tidak memanipulasi
Jangan sekali-kali memanipulasi keadaan, keputusan, maupun kondisi hanya untuk memenuhi keinginan untuk lebih lama bersama anak, maupun melanggar kesepakatan bersama. Ingat, kebutuhan dan kebahagiaan anak adalah prioritas utama.
4. Hadir bersama di momen penting anak
Pastikan kedua orang tua hadir bersama di momen penting anak seperti kelulusan sekolah. Tunjukkan pada anak bahwa orang tuanya tetap kompak dan tulus memberikan kasih sayang dan perhatian padanya. Hal ini penting untuk menjaga rasa percaya diri anak.
Mums, itulah beberapa cara menerapkan co-parenting yang tepat. Untuk memastikan anak tetap mendapatkan haknya dan meraih kebahagiaannya. Anak bertumbuh dan berkembang dengan sehat sekalipun orang tuanya sudah berpisah. Co-parenting yang sehat menegaskan bahwa perceraian cukup menjadi masalah bagi orang tua, tidak untuk anak-anaknya.
Referensi :
Child Protection and Practice. 2025. The Coparenting Experience of Parents Involved in Supervised Access: A Systematic Review.


