Selama kehamilan, kadar hormon dalam tubuh wanita berubah secara signifikan, salah satunya berdampak pada produksi keringat berlebih.
Keringat dapat menyebabkan kelembapan di kulit dan meningkatkan bau badan.
Dodorant dapat mengurangi produksi keringat, namun penggunaan kosmetik kimia tertentu pada ibu hamil sebaiknya dibatasi.
Untuk menghilangkan bau badan akibat keringat berlebih, ibu hamil bisa lebih sering mandi, menjaga kulit tetap kering, dan gunakan pakaian yang menyerap keringat.
Penyebab bau badan meningkat saat hamil?
Tubuh kita memiliki jutaan kelenjar keringat yang terbagi menjadi dua jenis, yaitu kelenjar ekrin dan kelenjar apokrin. Kelenjar ekrin umumnya ditemukan di tangan, kaki, punggung, dan sebagainya.
Keringat yang dihasilkan kelenjar ini membantu membuang racun dari tubuh dan mengatur suhu tubuh. Perlu dicatat pula bahwa keringat dari area-area ini biasanya tidak menimbulkan bau yang mengganggu.
Sebaliknya, kelenjar apokrin terutama terkonsentrasi di area ketiak, area genital, kelenjar susu, dan sebagainya. Kelenjar inilah yang menyebabkan timbulnya bau tidak sedap, termasuk bau ketiak. Kelenjar apokrin mengeluarkan protein, asam amino, dan zat lainnya yang, saat diurai oleh bakteri, menciptakan aroma tubuh khas setiap individu dan dapat menimbulkan bau tidak sedap.
Fenomena ini terlihat jelas pada anak-anak, mereka sangat aktif dan banyak berkeringat, namun tidak memiliki bau badan yang menyengat atau tidak sedap seperti orang dewasa.
Sebaliknya, wanita hamil mungkin mengalami peningkatan keringat yang berujung pada bau tidak sedap, terlepas dari apakah mereka sebelumnya memiliki masalah keringat atau bau ketiak.
Selain produksi keringat berlebih, berikut penyebab bau badan meningkat selama hamil:
1. Perubahan hormon
Selama kehamilan, kadar hormon dalam tubuh wanita berubah secara signifikan. Tubuh memproduksi hormon estradiol dalam jumlah besar, yang memicu peningkatan aktivitas kelenjar keringat maupun kelenjar sebasea (kelenjar minyak).
2. Stres
Wanita hamil lebih rentan terhadap stres dan kecemasan, yang dapat memicu peningkatan sekresi asam lemak dari kelenjar keringat. Hal ini merupakan faktor utama penyebab bau badan tidak sedap. Area yang paling terdampak oleh kondisi ini meliputi ketiak dan area genital.
3. Faktor makanan
Konsumsi suplemen dan makanan tertentu selama kehamilan juga dapat memengaruhi timbulnya bau tidak sedap.
Oleh karena itu, baik dalam tingkat ringan maupun berat, wanita hamil mungkin mengalami aroma tubuh yang "tidak biasa", yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman bagi diri mereka sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.
Bolehkah ibu hamil menggunakan deodoran?
Meskipun masalah bau badan bisa dialami oleh siapa saja, ibu hamil sering kali menghadapi masalah ini dengan intensitas yang lebih tinggi. Banyak ibu ingin menjaga tubuhnya tetap segar dan mungkin ingin menggunakan deodoran, namun mereka khawatir akan potensi dampaknya terhadap janin.
Selama masa kehamilan, hampir semua ibu hamil mengutamakan keselamatan calon bayinya. Namun, jika masalah bau badan tidak segera ditangani, kondisinya bisa memburuk. Peningkatan produksi keringat yang disertai aktivitas bakteri dapat memicu pertumbuhan bakteri secara cepat, yang berpotensi menimbulkan risiko bagi bayi.
Cara alami untuk mengatasi bau badan saat hamil biasanya mengandalkan bahan-bahan seperti lemon dan garam untuk membersihkan area ketiak, atau mengenakan pakaian yang longgar, dan sebagainya. Akan tetapi, efektivitas metode-metode ini sering kali terbatas dan hasilnya mungkin hanya bertahan dalam waktu singkat.
Ibu hamil mungkin ragu menggunakan deodoran konvensional karena kekhawatiran akan kandungan bahan kimianya serta potensi dampaknya terhadap bayi.
Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Education and Research in Nursing (2019) menemukan, bahwa ahan kimia dan produk kosmetik diketahui menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan. Mengetahui tingkat paparan bahan kimia dan produk kosmetik pada ibu hamil merupakan hal penting dalam merencanakan perawatan prenatal.
Salah satu zat kimia kosmetik yang sebaiknya diwaspadai adalah yang ada di deodorant. Dalam penelitian tersebut, diketahui bahwa 67,6% ibu hamil menggunakan deodoran/parfum selama kehamilan. Angka ini cukup tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat paparan bahan kimia dan produk kosmetik pada ibu hamil tergolong tinggi.
Menurut para ahli, penggunaan deodorant diperbolehkan selama hamil, namun sebaiknya ibu hamil memilih deodoran tanpa pewangi yang terbuat dari bahan-bahan alami organik. Penting bagi ibu hamil untuk memilih produk berkualitas dari merek tepercaya guna memastikan tidak ada dampak buruk bagi bayi.
Karakteristik umum lainnya dari deodoran adalah aromanya. Selama trimester pertama kehamilan, hingga 80% ibu hamil mengalami peningkatan kepekaan terhadap bau. Aroma yang asing saja bisa menimbulkan rasa tidak nyaman dan reaksi spontan, sehingga membuat ibu hamil lebih enggan menggunakan deodoran biasa dan lebih memilih produk dengan aroma yang lebih alami.
Memilih deodoran untuk ibu hamil
Sebagian besar deodoran yang beredar di pasaran mengandung klorida dan alkohol sebagai bahan utamanya. Bahan-bahan ini bekerja menghambat aktivitas kelenjar keringat sehingga mencegah produksi keringat
Namun, perlu dipahami bahwa berkeringat tidak selalu buruk. Keringat memiliki peran penting dalam mengatur suhu tubuh dan membantu ibu hamil melawan penyakit tertentu seperti demam, pilek, dan sebagainya.
Jadi, mengapa kita harus menghambat proses alami tersebut jika berkeringat pada dasarnya bukanlah hal yang buruk?
Berikut adalah beberapa kriteria dalam memilih deodoran untuk ibu hamil.
1. Pilih deodorant berbahan alami
Pilihlah produk dengan kandungan bahan yang berasal dari sumber alami. Misalnya tawas. Saat ini tawas sudah tersedia dalam formula yang lebih praktis lho, Mums!
Utamakan deodoran berbahan alami yang memiliki aroma menyenangkan dan menyegarkan, seperti lemon, mint, atau kayu manis. Aroma-aroma ini tidak hanya efektif mengatasi bau ketiak, tetapi juga memberikan rasa rileks dan nyaman bagi ibu hamil.
2. Bahan-Bahan yang Perlu Dihindari
Aluminium. Alumunium digunakan dalam antiperspiran untuk menyumbat saluran keringat. Meskipun sumber medis umum menganggap penggunaan dalam jumlah kecil aman.
Paraben. Bahan pengawet yang dapat meniru kerja hormon estrogen dan mengganggu keseimbangan hormon.
Ftalat. Sering kali tersembunyi di balik istilah umum "fragrance" (pewangi) untuk membuat aroma lebih tahan lama; zat ini dapat mengganggu hormon.
Triklosan dan Formaldehida (atau zat pelepas formaldehida). Agen antimikroba atau pengawet yang sebaiknya dihindari selama kehamilan.
Pewangi Sintetis. Dapat memicu iritasi kulit atau memperparah rasa mual akibat kehamilan karena meningkatnya sensitivitas terhadap bau.
Penggunaan deodoran pada umumnya aman selama kehamilan, meskipun banyak tenaga kesehatan dan ibu hamil lebih memilih beralih ke formula yang lebih lembut, alami, atau bebas aluminium.
Referensi:
JERN. 2022. Exposure of Pregnant Women to Chemicals and Cosmetic Products


