Ptosis, Kelainan pada Bayi Baru Lahir Berupa Kelopak Mata Turun

Dipublish: Sabtu, 6 Desember 2025 11:16 WIB

Diperbarui: Rabu, 3 Juni 2026 13:50 WIB

Ptosis atau kelopak mata turun
Ella Nurlaila

Ella Nurlaila

Bagikan :

Informasi artikel ditinjau oleh

dr. Astrid Sophia

Sejak hari pertama kehidupannya, seorang bayi menggunakan penglihatannya untuk belajar mengenali wajah, memahami lingkungan, mengenali gerak, membangun ikatan semosional, hingga mengembangkan kemampuan motorik dan kognitifnya. Itu sebabnya kelainan pada mata, sekecil apa pun itu, termasuk kelopak mata bayi turun, bisa berpengaruh besar dalam tumbuh kembangnya. 

Kelopak mata bayi turun atau yang dikenal dengan istilah ptosis, merupakan kelainan yang bisa dijumpai. Istilah "ptosis" berasal dari kata Yunani "jatuh" dan mengacu pada turunnya bagian tubuh tertentu. Blefaroptosis adalah turunnya kelopak mata atas, sementara mata berada pada posisi pandangan utama.

Bentuk mata, posisi kelopak mata, bentuk, dan posisi alis menentukan identitas seseorang. Dikutip dari Jurnal The National Center for Biotechnology Information, kelopak mata yang turun dapat menyebabkan gangguan fungsional atau kosmetik.

Ptosis dapat terjadi pada semua kelompok usia dan merupakan akibat dari berbagai faktor. Perlu diingat bahwa ketika seorang pasien datang dengan keluhan mata turun, hal tersebut hanyalah gejala dan bukan diagnosis. Evaluasi menyeluruh sangat penting untuk menentukan penyebabnya. Kabar baiknya, ptosis bisa langsung segera ditangani sehingga peluang keberhasilannya lebih besar. Ptosis sering bikin orang tua khawatir walaupun sebenarnya tidak selalu berbahaya. 


Penyebab Kelopak Mata Bayi Turun


Kelainan yang dibawa sejak lahir ini, terjadi ketika salah satu atau kedua kelopak mata bayi tampak turun dan menutupi sebagian pupil. Kondisi ini bisa terlihat segera atau muncul dalam beberapa minggu pertama kehidupannya. 


Jika kelopak mata bayi terlalu turun hingga menghalangi pupil, bayi bisa mengalami gangguan visual karena cahaya tidak masuk secara optimal ke retina. 


Kelainan kelopak mata bayi turun ini bersifat bawaan sejak lahir maupun akibat kondisi yang berkembang setelah bayi lahir. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya : 


1. Perkembangan otot kelopak mata tidak sempurna

Pada banyak kasus kelopak mata bayi turun disebabkan murni kelainan kongenital atau bawaan lahir. Ptosis disebabkan oleh perkembangan otot kelopak mata (levator palpebrae) yang tidak sempurna saat bayi masih dalam kandungan.


2. Gangguan perkembangan atau genetik 

Kelainan tertentu dapat mengganggu pembentukan struktur mata. Misalnya albinisme, katarak kongenital, retinitis pigmentosa. Kelainan ini sering diikuti dengan ptosis, nystagmus atau gangguan gerakan matan lainnya. 


3. Paparan alkohol saat hamil 

Inilah salah satu alasan mengapa saat hamil dilarang minum alkohol, karena bisa memicu kelainan kelopak mata bayi turun. Alkohol berlebihan bisa menyebabkan fetal alcohol syndrome yang berdampak pada perkembangan mata. Termasuk gangguan penglihatan dan ketidakstabilan gerak mata. 


4. Infeksi selama kehamilan 

Kelopak mata bayi turun juga bisa disebabkan oleh infeksi seperti toxoplasmosis, rubella, CMV, atau herpes dapat menyebabkan peradangan pada mata janin sehingga memengaruhi pembentukan kelopak mata. 


5. Paparan obat-obatan tertentu 

Beberapa obat seperti kokain atau obat kejang dapat menyebabkan malformasi mata. Hal ini bisa meningkatkan risiko ptosis, strabismus, dan gangguan otot mata lainnya. 

6. Penyebab setelah bayi lahir 

Selain bawaan lahir, kelopak mata bayi turun juga bisa muncul setelah bayi lahir yang terjadi setelah persalinan. Seperti mata malas, retinopati prematuritas (ROP) yang bisa mengganggu perkembangan visual sehingga memengaruhi fungsi otot kelopak mata. Juga infeksi mata akibat virus atau bakteri, dan cedera atau trauma lahir. Biasanya karena proses persalinan dengan alat bantu yang memengaruhi saraf atau otot kelopak mata. 


Tanda-Tanda Ptosis pada Bayi Baru Lahir 

Mums, jangan lupa untuk selalu memperhatikan kondisi mata bayi baru lahir. Waspadai jika mengalami kelainan berupa kelopak mata bayi turun, yang ditandai oleh beberapa kondisi berikut ini : 

  • Salah satu atau kedua kelopak tampak lebih rendah dari biasanya 

  • Pupil mata tertutup sebagian 

  • Bayi sering mengangkat dagu untuk melihat, disebut juga dengan chip up position 

  • Mata tampak tidak seimbang atau terlihat juling

  • Bayi tidak mengikuti objek dengan baik 

  • Mata mudah berair atau iritasi 


Jika ptosis menutupi pupil, bayi dapat mengalami hambatan perkembangan visual, sehingga deteksi dini sangatlah penting. 


Pengobatan Kelopak Mata Bayi Turun

Ptosis yang diketahui sejak dini akan memiliki peluang kesembuhan yang cukup besar. Pengobatan atau terapi yang digunakan tergantung pada tingkat keparahan dan penyebabnya. Beberapa metode yang dapat dilakukan, meliputi : 


1. Observasi teratur 

Untuk ptosis ringan yang tidak menutupi pupil, dokter biasanya menganjurkan pemantauan rutin sambil memastikan perkembangan visual bayi tetap normal. 


2. Terapi Amblyopia 

Jika ada risiko mata malas, dokter dapat merekomendasikan beberapa hal seperti menutup mata yang lebih kuat, memberi kacamata khusus, dan latihan mata. 


3. Pengobatan infeksi 

Jika ptosis disebabkan infeksi, antibiotik atau antiviral akan diberikan. 


4. Operasi ptosis 

Operasi biasanya dilakukan bila terjadi salah satu dari kondisi berikut ini, yaitu kelopak menutupi pupil, terdapat risiko amblyopia, bayi menunjukkan postur kepala abnormal. Waktu operasi tergantung kondisi masing-masing bayi. Pada kasus berat, pembedahan dini dapat mencegah kerusakan visual permanen. 


Mums, kelainan kelopak mata bayi atau ptosis bukan hanya masalah estetika, tetapi dapat memengaruhi perkembangan penglihatan bila tidak ditangani dengan tepat. Deteksi dini, pemeriksaan rutin, dan penanganan sesuai penyebab sangat penting untuk memastikan bayi memiliki penglihatan yang optimal di masa tumbuh kembangnya.


Dengan pemantauan dan terapi yang tepat, sebagian besar bayi dengan ptosis dapat memiliki penglihatan yang baik tanpa komplikasi jangka panjang. 



Referensi : 

Jurnal The National Center for Biotechnology Information. Ptosis Corection.

Kasih Saran, Yuk!