Anak secara alamiah akan dekat dengan ibunya, namun seiring usia bertambah bisa jadi ia lebih nyaman dengan dengan ayahnya.
Anak yang dekat dengan ayahnya bukan berarti ia lebih sayang dengan ayah namun hanya bagian dari fase perkembangan.
Preferensi anak terhadap salah satu orang tua bisa berubah-ubah dan dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari tahap perkembangan, pengalaman sehari-hari, hingga pola interaksi yang sedang terbentuk.
Buat Mums, jangan jadikan kebiasaan anak yang lebih suka nempel ke Dads sebagai sebuah kompetisi, namun tetaplah hadir sebagai ibu.
Pernah mengalami hal seperti ini? Anak yang biasanya dekat dengan Mums tiba-tiba lebih sering mencari Dads, meminta ditemani Dads, atau bahkan menolak ketika Mums yang membantunya. Situasi ini kadang membuat Mums bertanya-tanya, “Kok sekarang lebih nempel ke ayahnya, ya?”
Tak perlu buru-buru merasa tersisih. Anak yang lebih lengket kepada ayah pada suatu fase perkembangan bukan berarti ia lebih sayang kepada ayah atau tidak membutuhkan Mums.
Preferensi anak terhadap salah satu orang tua bisa berubah-ubah dan dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari tahap perkembangan, pengalaman sehari-hari, hingga pola interaksi yang sedang terbentuk.
Setiap anak bisa punya “fase favorit”
Anak dapat menunjukkan preferensi terhadap salah satu orang tua pada periode tertentu. Hari ini mungkin lebih mencari Dads, beberapa waktu kemudian kembali lebih lengket kepada Mums. Hal ini bisa menjadi bagian dari proses anak membangun hubungan dengan masing-masing orang tua.
Anak juga sedang belajar bahwa Mums dan Dads adalah dua individu yang berbeda. Masing-masing memiliki cara bermain, berbicara, merespons, dan menghabiskan waktu bersama anak.
Jadi, ketika anak berkata, “Mau sama ayah!” tidak otomatis berarti “Aku lebih sayang Ayah daripada Mama.” Bisa jadi, saat itu anak memang sedang merasa lebih tertarik atau nyaman dengan aktivitas dan interaksi yang biasanya dilakukan bersama Ayah.
Berikut ini yang menjadi alasan si Kecil lebih dekat ke ayahnya:
1. Ayah mungkin punya gaya bermain yang berbeda
Anak sering kali tertarik pada aktivitas yang terasa seru dan berbeda dari rutinitas sehari-hari. Misalnya, Dads lebih sering mengajak anak bermain fisik, berlari, bermain bola, membangun balok, bermain di luar rumah, atau melakukan permainan yang penuh gerakan.
Sementara itu, Mums mungkin lebih sering terlibat dalam rutinitas seperti mandi, makan, tidur, atau bersiap ke sekolah. Bukan berarti salah satu lebih baik. Anak hanya mendapatkan jenis pengalaman yang berbeda dari masing-masing orang tua.
Ketika Dads hadir dan mengajak bermain, anak mungkin langsung antusias karena mengasosiasikan kehadiran Dads dengan aktivitas yang menyenangkan.
2. Ayah bisa menjadi “sesuatu yang berbeda” bagi anak
Jika sehari-hari anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama Mums, dari pagi sampai malam, kehadiran Dads mungkin terasa lebih spesial. Misalnya, Dads baru pulang bekerja dan anak langsung berlari menyambut. Momen tersebut menjadi sesuatu yang menarik karena Dads tidak selalu ada sepanjang hari.
Sementara itu, Mums yang selalu berada di dekat anak mungkin justru menjadi sosok yang dianggap sebagai “tempat aman” yang selalu tersedia.
Menariknya, anak yang terlihat sangat antusias ketika ayahnya datang bukan berarti hubungannya dengan ibunya kurang dekat. Justru, rasa aman dengan Mums dapat membuat anak merasa nyaman mengeksplorasi hubungan dengan orang lain.
3. Anak sedang belajar membangun hubungan dengan Ayah
Kedekatan tidak hanya terbentuk karena siapa yang paling sering bersama anak. Kualitas interaksi juga berperan. Ketika Dads rutin meluangkan waktu untuk bermain, mengobrol, membaca buku, menemani anak tidur, atau melakukan aktivitas sederhana bersama, anak mendapatkan banyak kesempatan untuk membangun hubungan yang hangat dengan ayah.
Kedekatan tersebut tidak harus selalu dibangun melalui aktivitas besar. Makan bersama, mengantar sekolah, membacakan cerita sebelum tidur, atau sekadar mendengarkan cerita anak tentang harinya juga bisa menjadi momen penting.
4. Anak sedang menguji kemandirian
Seiring bertambahnya usia, anak mulai menyadari bahwa ia bisa memilih, menentukan keinginan, dan memiliki preferensi sendiri. Kalimat seperti: “Aku mau Ayah!” bisa menjadi salah satu bentuk anak mengekspresikan pilihannya.
Pada fase ini, anak memang sedang belajar tentang kemandirian. Ia mulai memahami bahwa keinginannya bisa berbeda dari orang lain dan mencoba melihat bagaimana orang tua merespons pilihan tersebut. Orang tua dapat menghargai preferensi anak selama tetap dalam batas yang aman dan sesuai.
5. Anak mungkin sedang mencari pengalaman yang berbeda
Anak bisa saja memilih Dads untuk aktivitas tertentu dan Mums untuk aktivitas lainnya. Misalnya, “Kalau mau main, sama Ayah.” Tetapi “Kalau sakit, maunya Mama.”
Atau ketika ingin tidur, anak justru kembali mencari orang tua yang selama ini membuatnya merasa paling nyaman. Jadi, jangan melihat kedekatan anak hanya dari satu situasi.
Hubungan anak dengan masing-masing orang tua memiliki dinamika yang berbeda dan dapat berubah sesuai kebutuhan serta situasi.
Jangan jadikan preferensi anak sebagai kompetisi
Ketika anak lebih memilih Ayah, Mama mungkin tanpa sadar merasa sedih atau tersinggung. Namun, sebisa mungkin hindari menjadikan situasi tersebut sebagai kompetisi.
Hindari pertanyaan seperti: “Kamu lebih sayang Mama atau Ayah?” atau “Kenapa sih nggak mau sama Mama?”
Pertanyaan seperti ini dapat membuat anak merasa harus memilih salah satu orang tua. Padahal, anak tidak perlu memilih. Anak dapat mencintai dan merasa dekat dengan kedua orang tuanya dengan cara yang berbeda.
Lalu, apa yang bisa dilakukan Mums?
Jika anak sedang lebih lengket kepada Dads, maka Mums tidak perlu memaksanya untuk kembali memilih Mums. Tetap hadir dan nikmati kesempatan untuk membangun kedekatan tanpa membuat anak merasa bersalah.
Mums bisa menciptakan ritual kecil yang menyenangkan, misalnya:
membaca buku bersama sebelum tidur,
memasak atau menyiapkan camilan bersama,
berjalan-jalan sore,
menggambar atau membuat kerajinan,
mengobrol sebelum tidur,
atau sekadar memeluk dan mendengarkan cerita anak.
Yang penting bukan membuat anak kembali ke ibunya, tetapi membangun hubungan yang hangat secara konsisten.
Ayah juga punya peran penting
Ketika anak sedang sangat lengket kepada ayahnya, Dads juga dapat membantu menjaga kedekatan anak dengan Mums. Misalnya ketika anak berkata, “Aku mau sama ayah!”, Dads bisa merespons: “Boleh, tapi Mama juga bisa menemani kamu. Yuk, kita lakukan bersama.”
Dads juga bisa melibatkan Mums dalam permainan atau aktivitas yang sedang dilakukan. Dengan begitu, anak belajar bahwa kedekatan dengan MUms tidak berarti harus menjauh dari Mums.
Kapan orang tua perlu lebih memperhatikan?
Preferensi terhadap salah satu orang tua umumnya dapat terjadi dalam berbagai tahap perkembangan. Namun, orang tua tetap perlu memperhatikan jika perubahan perilaku anak berlangsung sangat ekstrem atau disertai perubahan lain yang mengkhawatirkan.
Misalnya, anak tiba-tiba menunjukkan ketakutan yang intens terhadap salah satu orang tua, sangat menarik diri, mengalami perubahan perilaku yang drastis, atau tampak tidak nyaman ketika berada dalam situasi tertentu.
Dalam kondisi seperti ini, penting untuk mencari tahu apa yang mungkin sedang dialami anak, bukan sekadar menganggapnya sebagai fase “lebih sayang Ayah”.
Jika orang tua merasa khawatir atau perubahan tersebut mengganggu keseharian anak, konsultasi dengan dokter anak atau tenaga profesional terkait dapat membantu memahami situasinya.


