Infertilitas adalah ketidakmampuan satu pasangan untuk mendapatkan kehamilan setelah melakukan hubungan seksual secara teratur selama 1 tahun tanpa kontrasepsi.
Penyebab infertilitas bisa berasal dari faktor wanita, pria, kombinasi keduanya atau faktor yang tidak bisa dijelaskan.
Pasangan tidak perlu menunggu satu tahun untuk cek ke dokter jika menikah sudah di usia lebih 35 tahun, atau ada riwayat gangguan sebelumnya.
Setelah diagnosis ditegakkan, ada beberapa pilihan untuk mengupayakan kehamilan, dari inseminasi sampai bayi tabung
Mums dan Dads mungkin sekarang sedang menunggu kehadiran buah hati. Jika sudah menunggu selama setahun dan belum juga terjadi kehamilan, kemungkinan ada gangguan kesuburan. Jangan patah semangat, karena data menunjukkan ada 10-15% pasangan usia produktif yang mengalami gangguan kesuburan atau infertilitas. Penyebabnya bisa dari faktor istri, suami, keduanya, atau tidak bisa diketahui penyebabnya.
Sayangnya, belum banyak pasangan yang memahami bahwa untuk mendeteksi dan mengatasi infertilitas, harus diupayakan dari pihak suami atau istri. Selain itu, saat ini juga tersedia teknologi berbantu untuk menghadirkan kehamilan.
BAMED Woman’S Clinic Meruya, pada Minggu, 4 Oktober 2026, mengadakan edukasi kepada beberapa Mums & Dads, dalam talkshow “Lets Talk About Promil”.
Dalam acara ini dr. Yassin Yanuar Muhammad Sp.OG, Subsp.F.E.R, M.Sc, menjelaskan, “Gangguan infertilias adalah ketidakmampuan satu pasangan untuk mendapatkan kehamilan setelah melakukan hubungan seksual secara teratur selama 1 tahun tanpa kontrasepsi.”
5-6 Juta Pasangan di Indonesia Alami Gangguan Kesuburan
Menurut dr. Yassin, gangguan kesuburan atau infertilitas bisa terjadi pada pasangan yang belum pernah hamil atau pada pasangan yang sudah pernah hamil sebelumnya, atau disebut infertiltas sekunder.
“Jika ada sekitar10-15% di Indonesia mengalami infertilitas, berarti ada sekitar 4-5 juta pasangan. Karena saat ini diperkirakan jumlah pasangan usia subur di Indonesia antara 39,8 juta hingga 46 juta pasangan,” tambah dr. Yassin.
Penyebab Infertilitas
Penyebab gangguan kesuburan adalah:
- 30% dari pihak laki-laki (seperti gangguan hormon, gangguan pada sperma, atau penyakit tertentu)
- 30% dari faktor perempuan (gangguan ovulasi terutama PCOS, penyumbatan saluran telur, gangguan di rahim dan sebagianya).
- Kombinasi dari pihak wanita dan pria
- Tidak diketahui penyebabnya, angkanya mencapai 10-15%
1. Penyebab dan pemeriksaan infertilitas untuk pria
Dokter spesialis andrologi, dr. William, SpAnd, AIFO-K, faktor ketidaksuburan dari faktor suami di Asia Tenggara cukup tinggi, mencapai 40%.
Penyebab ketidaksuburan pada pria:
- frekuenai hubungan seksual kurang atau timing-nya tidak tepat, tidak di masa subur
- Masalah libido atau libido rendah
- Kecemasan pada performa seksual
- Faktor gaya hidup tidak sehat seperti rokok, berat badan, tidur, stres berlebih
Namun, di antara berbagai penyebab tersebut, gangguan pada sperma adalah penyebab cukup umum gangguan kesuburan pria. Gangguan sperma bisa berupa masalah bentuk sperma, jumlah, maupun kecepatan sperma.
“Pemeriksaan pada pria untuk mendeteksi kesuburan meliputi anamnesis untuk melihat riwayat penyakit, lalu dilanjutkan pemeriksaan fisik, dan mengubah gaya hidup. Setelah itu dilakukan analisis sperma, untuk menentukan apakah jumlah, bentuk, dan gerakan sperma normal,” jelas dr. William.
2. Penyebab dan pemeriksaan infertilitas pada wanita
dr. Yassin menjabarkan bahwa penyebab infertilitas pada wanita bisa berasal dari penyumbatan saluran telur, gangguan pematangan telur atau ovulasi, biasanya karena PCOS, atau gangguan di rahim baik itu kista, kista coklat (endometriosis), atau miom.
“Untuk mendiagnosis gangguan rahim bisa dilakukan dengan USG transvaginal, biasanya akan terlihat kalau ada polip, miom, adenomiosis, endometrioais atau pcos. Sedangkan pemeriksaan saluran telur atau tuba jika ada penyumbatan dilakukan dengan HSG. Ini adalah pemeriksaan pertama sebelum memulai program hamil,” jelas dr. Yassin.
Selain pemeriksaan tersebut, dokter juga akan melakukan pemeriksaan cadangan telur. Sel telur wanita hanya diproduksi sekali saat janin perempuan, sebanyak 1 juta sel telur, namun saat seorang anak memasuki masa pubertas jumlah cadangan sel telur tinggal 400.000, dan akan habis saat seorang wanita memasuki masa menopuase di uaia 52-55.
“Penurunan cadangan sel telur paling signifikan terjadi di usia 35-37 tahun dan ini menyebabkan peluang kehamilan juga turun. Saat ini banyak perempuan menikah di usia lebih 35 tahun, dan peluang kehamilan tidak sebesar saat di usia muda,” ungkap dr. Yassin.
Bicarakan dengan dokter untuk penanganan bayi tabung
Pada prinsipnya, pasangan yang sudah menikah bisa cek kesuburan secepatnya, atau minimal setelah 1 tahun.
“Mengapa setidaknya dalam 1 tahun harus cek ke dokter kandungan? Karena makin lama peluang kehamilan makin kecil. Tapi tidak perlu menunggu juga sampai 1 tahun. apalagi jika menikah sudah di usia 30-an tahun atau memiliki riwayat gangguan di organ reproduksi atau gangguan haid,” jelas dr. Yassin.
Setelah diagnosis ditegakkan, baru dilakukan perencanaan tentang pilihan reproduksi berbantu sesuai penyebab infertilitasnya. Berikut ini beberapa pilihan reproduksi berbantu:
1. Inseminasi
Dilakukan untuk kasus infertilitas yang tidak bisa dijelaskan, kasus endometriosis ringan, sperma abnormal, ganguan ereksi, atau faktor servikal. Sperma disuntikkan ke dalam rahim agar jalannya lebih pendek untuk membuahi sel telur.
2. Bayi tabung
Bayi tabung umumnya menjadi pilihat terakhir jika semua cara dilakukan dan kehamilan tidak kunjung datang. Indikasi bayi tabung secara medis:
- faktor kelainan sperma yang sanga berat atau jumlah sperma sangat sedikit
- Sumbatan pada kedua saluran telur
- Kista coklat berat
- Gangguan pematangan telur atau PCOS berat
- Infertilitas yang tidak bisa dijelaskan dan sudah melakukan terapi berkali-kali.
- Pernikahan jarak jauh atau LDM
Mums dan Dads, jangan tunda untuk melakukan cek kesuburan setelah menikah. Lebih cepat lebih baik, minimal 1 tahun setelah menikah dengan hubungan seks teratur dan tanpa kontrasepsi. Karena, semakin lama ditunda, peluang kehamilan semakin turun.


