Psikosis pascapersalinan adalah kondisi kesehatan mental berat yang dapat muncul setelah melahirkan dan memengaruhi kemampuan ibu membedakan kenyataan dengan hal yang tidak nyata.
Faktor risikonya antara lain riwayat gangguan mental, kurang tidur, perubahan hormon, riwayat keluarga, serta kondisi medis tertentu.
Gejalanya dapat berupa flashback, sulit tidur, rasa takut berlebihan, perubahan suasana hati, halusinasi, dan delusi.
Kondisi ini termasuk darurat kesehatan jiwa dan perlu segera ditangani secara medis, dengan dukungan pasangan dan keluarga yang berperan penting dalam membantu ibu mendapatkan pertolongan.
Mengenal Psikosis Pascapersalinan, Trauma yang Terabaikan
Tidak semua proses melahirkan menjadi momen bahagia bagi ibu. Ada segelintir ibu melahirkan yang justru mengalami hal sebaliknya akibat mengalami komplikasi persalinan. Salah satunya dalam bentuk psikosis pascapersalinan.
Psikosis pascapersalinan atau Postpartum Psychosis sering kali diabaikan, baik oleh si Ibu, keluarga, maupun orang-orang sekitarnya. Padahal, akibatnya bisa sangat fatal jika diabaikan.
Psikosis pascapersalinan merupakan kondisi ketika seseorang mengalami respons trauma yang menetap setelah mengalami atau menyaksikan pengalaman persalinan yang sangat menakutkan, mengancam keselamatan, atau terasa di luar kendali.
Konsensus ahli internasional yang diterbitkan dalam American Journal of Psychiatry (2025) menegaskan bahwa psikosis pascapersalinan merupakan kondisi akut dan berat yang sering disertai mania, episode campuran, atau depresi dengan gejala psikotik.
Menariknya, sekitar setengah kasus psikosis pascapersalinan yang muncul pertama kali dapat menjadi episode pertama gangguan bipolar.
Jadi, jangan anggap psikosis pascapersalinan sebagai “hanya kelelahan setelah melahirkan”. Kondisi sebenarnya bisa jadi jauh lebih buruk dari yang dibayangkan. Sebab ada komponen biologis dan hubungan kuat dengan spektrum bipolar.
Memang idealnya setelah melahirkan, seorang ibu harusnya sudah lega dan bahagia. Karena bayinya terlahir dengan selamat dan proses persalinan berjalan dengan lancar. Namun, kondisi ideal ini tidak dialami oleh ibu dengan psikosis pascamelahirkan.
Faktor Risiko Munculnya Psikosis Pascapersalinan
Persalinan memang telah selesai, bayi pun telah lahir dengan selamat, sehat, dan kondisi fisik ibu mungkin perlahan mulai pulih. Namun, tidak dengan kondisi psikologisnya.
Bahkan tubuh dan pikirannya masih seperti berada dalam situasi bahaya. Trauma pascapersalinan tidak selalu berarti persalinannya secara medis tergolong “berat”. Dalam hal ini, cara seorang ibu menjalani dan memaknai proses persalinan tersebut, juga sangat penting. Dan faktor inilah yang berperan besar dalam memicu terjadinya psikosis pascapersalinan.
Mums, walaupun penyebab psikosis pascapersalinan belum diketahui secara pasti, namun diyakini adanya kombinasi berbagai faktor berikut ini, di antaranya:
1. Riwayat gangguan kesehatan mental
Sekitar sepertiga orang yang mengalami psikosis pascapersalinan sebelumnya telah didiagnosis memiliki gangguan kesehatan mental. Gangguan yang paling umum meliputi gangguan bipolar Kondisi kesehatan mental lain yang dapat meningkatkan risiko meliputi gangguan depresi berat dan kondisi dalam spektrum skizofrenia.
2. Jumlah kehamilan
Memang psikosis pascapersalinan lebih sering terjadi pada orang yang baru melahirkan anak pertama. Namun, bagi mereka yang memiliki riwayat psikosis persalinan sebelumnya, risiko kejadian berulang sekitar 30% - 50% pada persalinan berikutnya.
3. Riwayat gangguan kesehatan mental dalam keluarga
Tentu saja, gangguan kesehatan mental terutama psikosis persalinan pada anggota keluarga lainnya. Maupun jenis gangguan kesehatan mental lainnya. Dalam hal ini, ada unsur keterlibatan genetik yang ikut andil dalam memicu psikosis pascapersalinan.
4. Kurang tidur
Mengurus bayi baru lahir dan menyusuinya memang sangat menyita waktu, sehingga cenderung kurang tidur. Kondisi kurang tidur inilah yang dapat memicu episode manik pada orang dengan gangguan bipolar. Kurang tidur menjadi salah satu faktor penyebab seseorang mengalami psikosis pascapersalinan.
5. Perubahan hormon
Kehamilan dan melahirkan menyebabkan lonjakan hormon dalam tubuh yang membuat tubuh mengalami perubahan besar selama kehamilan hingga masa persalinan. Kadar hormon tertentu melonjak naik, sementara kadar hormon lainnya menurun drastis.
6. Kondisi medis lainnya
Psikosis pascapersalinan juga dapat terjadi karena alasan medis. Baik yang terjadi selama kehamilan maupun sesaat setelah proses persalinan. Misalnya, penyakit autoimun dan peradangan, ketidakseimbangan elektrolit, kekurangan vitamin (B1 dan B12), gangguan tiroid, stroke, dan sebagainya. Eklampsia dan preeklampsia juga dapat menjadi kondisi yang berkontribusi.
Kenali Gejala Psikosis Pascapersalinan
Psikosis pascapersalinan tidak selalu terlihat seperti ibu yang terus-menerus menangis atau menampakkan kesedihan atau kegundahannya.
Pada beberapa ibu, gejalanya justru muncul dalam bentuk kecemasan, menghindari pembicaraan tentang persalinan, sulit tidur, atau merasa sangat takut ketika harus menjalani pemeriksaan medis lagi.
Secara umum, berikut ini beberapa gejala psikosis pascapersalinan yang dapat terjadi, di antaranya :
1. Flashback atau mengalami kejadian seperti terulang kembali
Ibu bisa tiba-tiba teringat detail persalinan, seperti suara alat medis, bau rumah sakit, rasa sakit, atau percakapan tertentu. Kenangan tersebut dapat terasa sangat nyata dan memicu kembali rasa takut.
2. Mimpi buruk tentang persalinan
Sebagian ibu yang menderita psikosis pascapersalinan mengalami mimpi buruk berulang mengenai persalinan atau kejadian yang dianggap traumatis. Akibatnya, tidur menjadi semakin terganggu.
3. Menghindari hal-hal yang mengingatkan pada trauma
Misalnya, ibu menghindari membicarakan pengalaman melahirkan, enggan melihat foto atau video persalinan. Menolak kembali ke rumah sakit tempat melahirkan, misalnya untuk kontrol pascapersalinan, maupun melakukan pemeriksaan kehamilan berikutnya.
Termasuk menghindari membicarakan rencana untuk memiliki anak lagi. Menghindari pemicu memang bisa membuat ibu merasa lebih tenang sementara, tetapi tidak selalu menyelesaikan trauma.
4. Selalu merasa waspada
Ibu bisa merasa tubuhnya terus berada dalam mode “siaga”. Mudah terkejut, sulit rileks, mudah marah, sulit tidur, atau terus memikirkan kemungkinan buruk dapat menjadi bagian dari respons trauma.
5. Merasa bersalah atau menyalahkan diri sendiri
“Seandainya aku lebih kuat.”
“Seandainya aku datang lebih cepat.”
“Seandainya aku memilih cara persalinan lain.”
Berbagai pikiran seperti ini dapat muncul setelah pengalaman persalinan traumatis, meskipun kejadian tersebut sebenarnya bukan kesalahan ibu.
6. Merasa jauh dari bayi atau sulit menikmati masa setelah melahirkan
Trauma pascapersalinan dapat membuat ibu merasa mati rasa secara emosional atau kesulitan menikmati momen bersama bayinya. Ini bukan berarti ibu tidak menyayangi anaknya, hanya saja kurang atau tidak menikmati momen tersebut.
7. Halusinasi dan delusi
Halusinasi adalah ketika otak bertindak seolah-olah menerima masukan dari indra Anda (biasanya mata atau telinga, juga kadang sentuhan). Semua itu seolah-olah tampak nyata. Sehingga sulit membedakan mana bisikan atau masukan dan mana kenyataan yang sebenarnya.
Sementara itu delusi merupakan keyakinan salah yang dipegang teguh. Sulit diyakinkan bahkan dengan bukti dan fakta yang sebenarnya. Contohnya, delusi penganiayaan (meyakini seseorang ingin menjebak dirinya), delusi kontrol (merasa ada orang lain yang mengendalikan tubuhnya) atau delusi somatik (bersikeras bahwa dirinya tidak punya anak atau tidak hamil).
8. Perubahan suasana hati
Seperti mania (peningkatan aktivitas dan suasana hati) dan hipomania, atau depresi (penurunan suasana hati). Depersonalisasi (beberapa orang menggambarkan ini sebagai pengalaman keluar tubuh).
Penanganan Psikosis Pascapersalinan
Kabar baiknya, psikosis pascapersalinan ini dapat diatasi dengan beberapa pendekatan. Sayangnya, karena kondisi ini jarang terjadi, penelitian mengenai cara penanganannya pun masih terbatas. Beberapa metode sudah digunakan secara luas, namun penelitian lebih lanjut diperlukan agar para ahli dapat memahami cara terbaik untuk menangani kondisi ini.
Karena psikosis pascapersalinan merupakan kondisi darurat kesehatan jiwa, penderitanya perlu perawatan kesehatan jiwa rawat inap. Perawatan jenis ini berarti tenaga medis terlatih akan mendampingi pasien setiap saat untuk memastikan keselamatan dan kenyamanannya semaksimal mungkin.
Namun, karena penderita psikosis pascapersalinan sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya mengalami masalah kesehatan jiwa atau medis, hal ini menyulitkan pengobatan. Ditambah dengan delusi dan halusinasi yang semakin membuat pasien psikosis pascapersalinan ini semakin takut atau enggan mencari pertolongan.
Karena itulah perawatan rawat inap hampir selalu dilakukan tanpa persetujuan sukarela pasiennya. Di sinilah peran keluarga, teman, atau orang-orang terdekat lainnya yang mesti memutuskan bahwa pasien mesti dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan terapi yang tepat. Apalagi jika kondisinya semakin parah dan membahayakan dirinya juga bayi yang baru dilahirkan.
Metode pengobatan psikosis pascapersalinan ini meliputi pemberian obat-obatan dan terapi electrokonvulsif (ECT).
Terkait pengobatan ini, menurut Focus – American Psychiatric Publishing (2024), terapi psikosis pascapersalinan dapat mencakup antipsikotik, lithium, dan pada kondisi tertentu ECT. Bukti terbaru menunjukkan respons pengobatan dapat sangat baik ketika kondisi dikenali dan ditangani dengan tepat.
Terapi elektrokonvulsif (ECT) merupakan metode yang aman dan sangat efektif untuk mengobati kondisi yang melibatkan psikosis. Perawatan ini menggunakan arus listrik ringan, yang dialirkan melalui otak, untuk menginduksi kejang ringan. Efek dari kejang tersebut menyebabkan perubahan aktivitas otak yang mengurangi atau mengatasi efek psikosis itu sendiri.
Sementara itu jenis obat yang dapat membantu psikosis pascapersalinan, meliputi obat antipsikotik, obat penstabil suasana hati, obat antikejang.
Support System, Kunci Keberhasilan Atasi Psikosis Pascapersalinan
Mums, psikosis pascapersalinan merupakan kondisi yang mengganggu persepsi realitas. Halusinasi dan delusi yang ditimbulkannya dapat menyebabkan rasa takut dan kecemasan yang hebat.
Sayangnya, gejala penyakit ini membuat seseorang sangat jarang menyadari bahwa ia memiliki gejala kondisi kesehatan mental ini.
Di sinilah peran pasangan, keluarga, teman dekat untuk menjadi support system yang ideal dan dibutuhkan guna memastikan ibu dengan psikosis pascapersalinan mendapatkan pertolongan dan terapi yang tepat.
Karena psikosis pascapersalinan mengganggu kemampuan seseorang untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak, maka umumnya seseorang tidak menyadari bahwa dirinya mengalami masalah medis.
Sangat jarang bagi penderita mengenali gejalanya. Hampir semua kasus, orang-orang terdekat dengan penderita psikosis pascapersalinan ini akan memperhatikan gejalanya dan bertindak untuk mencari perawatan.
Karena itu, jika memiliki riwayat psikosis pascapersalinan atau adanya faktor risiko lainnya, seperti gangguan bipolar atau skizofrenia (atau memiliki riwayat keluarga dengan kondisi ini), penting untuk berbicara dengan dokter kandungan saat pemeriksaan kehamilan agar dapat mengantisipasi kemungkinan psikosis pascapersalinan terjadi di kemudian hari.
Selain berkonsultasi, sangat perlu untuk membicarakannya secara terbuka kepada pasangan, keluarga, maupun teman dekat agar mereka pun bersiap dan mendukung atau membantu ketika kondisi yang ditakutkan ini benar-benar terjadi nantinya.
Dengan begitu, mereka akan memahami kondisi dan tahu apa yang mesti dilakukan untuk mengatasinya. Termasuk bertindak atau mengambil keputusan demi keselamatan diri atau bayi yang baru dilahirkan.
Walaupun psikosis pascapersalinan umumnya bersifat sementara, tetap harus mendapatkan perhatian lebih dan tindakan nyata dalam mengatasinya.
Sebab psikosis pascapersalinan termasuk dalam keadaan darurat kesehatan mental, karena memengaruhi persepsi seseorang terhadap realitas. Gangguan ini bisa sangat parah sehingga seseorang bahkan mungkin mencoba bunuh diri atau mencoba menyakiti anaknya.
Pada akhirnya, mesti dipahami bahwa psikosis pascapersalinan bukan baby blues biasa. Ini merupakan kondisi psikiatri berat yang dapat muncul tiba-tiba setelah melahirkan. Halusinasi, delusi, kebingungan berat, mania, perilaku sangat tidak biasa, atau pikiran menyakiti diri sendiri maupun bayi, hal ini harus dianggap sebagai tanda bahaya.
Dan beruntunglah bagi ibu dengan psikosis pascapersalinan yang punya support system yang kuat. Sebab inilah kunci keberhasilan dalam mengatasi psikosis pascapersalinan.
Referensi :
1. American Journal of Psychiatry. 2025. Postpartum Psychosis and Bipolar Disorder: Review of Neurobiology and Expert Consensus Statement on Classification.
2. Focus – American Psychiatric Publishing. 2024. Postpartum Psychosis: A Proposed Treatment Algorithm.


