Banyak orang tua melakukan kesalahan yang menghambat anak-anak dalam membangun kemandirian. Tetapi jika Mums baru menyadarinya sekarang, belum terlambat untuk melakukan perbaikan. Memahami kesalahan dapat membantu anak tumbuh menjadi anak yang lebih percaya diri dan mandiri.
Tidak sulit Mums. Perubahan sederhana dalam rutinitas harian dan komunikasi yang baik dapat membuat perbedaan besar.
Definisi Kemandirian
Kemandirian adalah kemampuan untuk menyelesaikan tugas, membuat keputusan, dan membela diri sendiri tanpa bimbingan orang dewasa yang terus-menerus. Bukan berarti anak akan selalu mengerjakan semuanya sendiri. Ketika seorang anak belajar meminta bantuan, mengungkapkan apa yang menjadi keinginannya, atau memecahkan masalah sendiri, di sekolah atau di rumah, itu juga disbeut kemandirian.
Masa sekolah dasar sangat penting bagi anak-anak untuk belajar mengembangkan kemandirian, pertama di bawah arahan orang tua dan kemudian tanpa pengawasan langsung dari orang dewasa.
Survei Kesehatan Anak Nasional Rumah Sakit Anak C.S. Mott (2023) menanyakan kepada beberapa orang tua dari anak-anak berusia 5-11 tahun tentang sikap dan kemandirian anak mereka.
Di antara orang tua dari anak berusia 5-8 tahun, sebagian besar orang tua (74%) mengatakan mereka sudah mengajarkan kemandirian pada anak untuk melakukan berbagai hal sendiri. Tapi ketika ditanya apakah anak-anak mereka berani bicara sendiri dengan dokter saat ke klinik, memutuskan bagaimana mengatur uang jajan, berbicara dengan orang dewasa, memesan makanan di restoran, atau menyiapkan makanan sendiri, ternyata angkanya jauh lebih kecil.
Penyebabnya, orang tua memang belum percaya anak-anak mereka bisa melakukan tugas-tugas itu, dengan berbagai alasan. Misalnya, alasan keselamatan anak, kalau anak yang melakukan akan memakan waktu lenih lama, anak belum bisa, atau tidak yakin anaknya akan melakukannya dengan benar.
Penyebab Anak Tidak Mandiri
Pakar tumbuh kembang anak mencatat beberapa kesalahan yang membuat anak tidak bisa mandiri:
1. Selalu mengambil alih saat anak mengalami kesulitan
Wajar jika Mums ingin turun tangan ketika anak merasa frustrasi atau tertinggal dalam pekerjaan sekolah. Atau anak kesulitan membuat prakarya. Akhirnya Mums ambil alih tugas tersebut, biar cepat selesai.
Membantu sesekali wajar, namun ketika orang dewasa selau mengambil alih tugas sekolah anak, anak akan mulai percaya bahwa mereka tidak dapat melakukan sesuatu sendiri. Hal ini dapat mengurangi kepercayaan diri dan membuat anak-anak kurang mau mencoba tantangan baru.
Sebaiknya, berikan anak waktu dan ruang untuk mencoba tugas secara mandiri, bahkan jika itu berarti menyaksikan mereka membuat kesalahan atau bekerja lambat. Biarkan anak belajar dan berproses.
2. Terlalu sering mengatur dan mikro manajemen
Mengoreksi setiap terjadi kesalahan kecil atau mengawasi pekerjaan rumah dengan sangat ketat dapat menjadi bumerang. Anak-anak mungkin menjadi cemas atau terlalu bergantung pada persetujuan orang dewasa.
Cobalah untuk fokus pada usaha dan proses daripada hadil. Misalnya, jika anak lupa satu langkah dalam proyek sains mereka, ajukan pertanyaan daripada langsung mengoreksi. Ini akan mendorong anak belajar memecahkan masalah dan lebih tahan dengan kegagalan.
3. Tidak memberi anak tanggungjawab atau konsekuensi
Jika semua tugas sekolah dan rumah selalu diambil alih orang tua, dan anak asik bermin, maka anak tidak akan paham tentang arti tanggung jawab.
Coba ajarkan anak pekerjaan kecil yang menjadi tanggungjawabnya, misalnya membereskan mainan, melipat selimut, menaruh piring dan gelas kotor di bak cuci, atau langsung mencucinya bagi anak yang sudah besar, adalah bentuk belajar tanggung jawab.
4. Terlalu khawatir anak membuat kesalahan
Karena takut PR-nya banyak salah, takut anak tidak rapi melipat selimut, atau salah menyimpan mainan, akhirnya orang tua yang mengambil alih semuanya. Demikian pula saat mengambil keputusan. Beberapa orang tua tidak memberikan kesempatan anak mengeluarkan pendapat karena meyakini pendapatnya tidak akan sesuai harapan.
Niatnya melindungi, tetapi ini menjadikan anak menjadi tidak percaya diri melalukan sesuatu sendiri.
5. Selalu memenuhi kebutuhan anak tanpa menunggu usahanya
Ada orang tua yang sudah menyediakan semua kebutuhan anak bahkan sebelum anak memintanya. Anak akan terbiasa dengan fasilitas yang mudah didapatkan tanpa usaha. .Pada akhirnya aia tidak akan tahu bahwa untuk mendapatkan sesuatu harus berusaha terlebih dahulu.
Mums dan Dads mungkin mampu menyediakan semuanya. Tapi coba ajarkan anak berusaha dulu. Misalnya, dia ingin membeli handphone baru, ajarkan menabung. Mums tinggal menambahkan kekurangannya.
Cara Menghindari Kesalahan dalam Mengajarkan Kemandirian
Untuk menghindari kesalahan dalam mengajarkan kemandirian, ubah pendekatan Mums. Berikut beberapa strategi yang dapat diterapkan:
1. Berikan pilihan
Biarkan anak memutuskan pekerjaan rumah mana yang akan dikerjakan terlebih dahulu atau bagaimana mengatur tas ransel mereka. Pilihan menumbuhkan rasa kendali.
2. Gunakan pengingat yang lembut
Ganti omelan berulang dengan isyarat singkat dan jelas, sehingga anak paham. Tidak udah terlalu mengatur anak, biarkan anak mengatur dirinya sendiri untuk hal-hal yang dia bisa pelajari.
3. Contohkan pemecahan masalah
Ceritakan tantangan Mums atau dads sendiri secara terbuka agar anak melihat bagaimana orang tuanya dulu belajar mandiri.
Mulai sekarang ubah pola pikir Mums dan Dads. Kadang Mums dan Dads harus tega membiarkan anak berjuang menghadapi kesulitan, sehingga dia bisa belajar memecahkan masalah dan mengambil keputusan. Kemandirian harus dilatih sejak kecil mengingat saat dewasa, anak harus menghadapi semuanya sendiri.
Referensi:
Survei Kesehatan Anak Nasional Rumah Sakit Anak C.S. Mott


