Seiring bertambahnya usia kehamilan, pertumbuhan janin ikut berkembang. Perut yang semakin membuncit karena berat janin makin hari makin bertambah. Walaupun ibu hamil makin kewalahan, namun kebahagiaan tetap terpancar. Dijalaninya kehamilan dengan penuh sukacita.
Namun, terkadang kebahagiaan itu mesti dirusak oleh kenyataan pahit bernama komplikasi kehamilan yang bisa terjadi pada siapa saja. Salah satu komplikasi yang cukup berat adalah HELLP Syndrome.
Mengenal Lebih Dalam HELLP Syndrome
Momok menakutkan bagi ibu hamil adalah ketika dokter atau bidan mendiagnosis adanya masalah dalam kehamilan. Apalagi jika masalah tersebut tergolong serius seperti HELLP Syndrome.
Secara bahasa, HELLP merupakan akronim dari H – Hemolysis (pemecahan sel darah merah) – Elevated liver enzym (peningkatan fungsi hati) – LP – low platelets counts (jumlah trombosit rendah).
Menurut literatur medis, HELLP Syndrome merupakan komplikasi kehamilan yang jarang terjadi terkait dengan preeklmasia yang memengaruhi darah dan organ hati. Gejalanya pun mirip preeklamsia.
Seperti nyeri di bagian atas perut, penglihatan kabur, kelelahan, atau terjadinya pembengkakan. Komplikasi yang umumnya terjadi pada trimester ketiga ini, memaksa ibu hamil perlu melahirkan lebih awal dari waktu ideal.
Kendati demikian tidak menutup kemungkinan terjadi pada trimester kedua, bahkan dapat berkembang dalam tujuh hari setelah melahirkan.
Walaupun sering terjadi pada trimester tiga antara 28-40 minggu, tetapi dapat terjadi kapan Biasanya terjadi selama trimester ketiga kehamilan (antara 28 hingga 40 minggu) tetapi dapat terjadi kapan saja di paruh kedua kehamilan (dari 20 minggu ke atas). Sindrom HELLP juga dapat berkembang dalam tujuh hari setelah melahirkan.
Penelitian dalam jurnal BMC Pregnancy and Childbirth (2025) menyimpulkan bahwa HELLP syndrome meningkatkan berbagai risiko komplikasi kehamilan seperti persalinan premature, BBLR, kematian neonatal, perdarahan ibu, ICU maternal juga komplikasi multiorgan. Dari penelitian ini para ahli menyimpulkan bahwa HELLP syndrome merupakan salah satu komplikasi paling berat dari preeklamsia sehingga diagnosis dan terminasi kehamilan pada waktu yang tepat menjadi faktor utama dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi.
Gejala dan Penyebab HELLP Syndrome
Seperti yang sudah disebutkan tadi bahwa HELLP Syndrome terkait erat dengan preeklamsia karena memiliki gejala serupa.
Berikut ini beberapa gejala HELLP Syndrome :
Nyeri perut, biasanya di sisi kanan atas
Sakit kepala
Penglihatan kabur
Mual dan muntah
Kelelahan
Edema atau pembengkakan dan peningkatan berat badan yang cepat
Nyeri saat menarik napas dalam-dalam
Dalam kasus yang jarang terjadi, bumil dengan HELLP Syndrome mungkin juga mengalami mimisan dan kejang atau gemetar tubuh yang tidak terkontrol. Sayangnya gejala HELLP Syndrome ini sering disalahartikan sebagai kondisi kesehatan lain yang lebih umum.
Sementara itu penyebab HELLP Syndrome hingga saat ini belum dapat diketahui secara pasti. Sehingga terkadang terjadi kesalahan diagnosis karena gejalanya mirip dengan preeklamsi mapun masalah kesehatan lainnya.
Komplikasi HELLP Syndrome bagi Ibu dan Bayi
Komplikasi kehamilan yang jarang terjadi ini, diketahui memiliki beberapa faktor risiko. Seperti riwayat HELLP Syndrome pada kehamilan sebelumnya, berusia lebih dari 35 tahub, memiliki riwayat penyakit ginjal, diabetes, maupun hipertensi.
Tidak hanya faktor risiko yang mesti diperhatikan dalam HELLP Syndrome ini adalah komplikasinya yang cukup berat. Baik bagi ibu hamil maupun janin yang ada dalam kandungannya.
Komplikasi bagi ibu dapat berupa perdarahan maupun pembekuan darah. Bahkan beberapa ibu hamil mengalami koagulasi intravascular diseminata yang dapat menyebabkan perdarahan postpartum atau perdarahan hebat setelah melahirkan.
Selain itu gagal ginjal, perdarahan hati atau gagal hati, edema paru yang dapat menyebabkan masalah pernapasan, eclampsia, juga abrupsio plasenta.
Sementara komplikasi HELLP Syndrome bagi janin berupa kelahiran premature, keterlambatan pertumbuhan intrauterin (IUGR), lahir dengan jumlah trombosit rendah, anemia, atau kelainan darah lainnya. Juga komplikasi berupa gangguan pernapasan.
Terapi Pengobatan HELLP Syndrome
Jika ibu hamil yang mengalami HELLP Syndrome pada usia kehamilan 35 minggu atau lebih, atau jika gejalanya cukup parah, biasanya dokter akan merekomendasikan persalinan sesegera mungkin.
Sebab dalam kondisi seperti ini, persalinan merupakan satu-satunya solusi untuk mengatasi HELLP Syndrome. Tentu saja agar kehamilan selamat, baik ibu maupun bayi. Kabar baiknya, setelah bayi lahir biasanya HELLP Syndrome ini akan hilang dalam beberapa hari ke depan.
Solusi lain yang mungkin dilakukan oleh tim medis dengan berbagai pertimbangan tertenu, yaitu mengobatinya sampai usia janin cukup matang. Dalam hal ini dokter akan memberikan obat untuk menurunkan tekanan darah. Termasuk bila haru dilakukan transfuse untuk mengobati kadar trombosit yang rendah.
Mums, itulah penjelasan tentang HELLP Syndrome yang perlu diketahui. HELLP Syndrome merupakan komplikasi kehamilan langka yang biasanya terjadi pada trimester akhir. Jika ibu hamil mengalami gejala HELLP Syndrome segera dapatkan perawatan.
Dokter akan memantau kehamilan dan bayi dengan cermat untuk mengamati tanda-tanda masalah yang muncul. Kabar baiknya, HELLP Syndrome yang segera ditangani dengan tepat tidak mengancam jiwa ibu yang melahirkan. Dan sebagian besar HELLP Syndrome akan pulih dengan sendirinya setelah melahirkan.
Referensi :
BMC Pregnancy and Childbirth. 2025. HELLP syndrome as a major contributor to adverse maternal and neonatal outcomes among preeclamptic women.


