Saat seorang wanita menikah, kemudian hamil, dan melahirkan untuk pertama kali, umumnya masih sangat bergantung pada kehadiran ibu. Ibu kandung untuk seorang ibu baru berfungsi sebagai pilar kokoh dan tempat bersandar yang nyaman, tempat bertanya, berkeluh kesah, alias paket komplit tergabung menjadi satu.
Namun, hal itu tidak berlaku bagi sebagian ibu baru. Sepertiga ibu baru mengalami masa kehamilan tanpa ibu mereka di sisi mereka, menurut laporan dari The Motherless Mothers (TMM). Ditemukan juga kalau tingkat depresi dan kondisi kesehatan mental ibu di masa perinatal lebih tinggi pada mereka yang tidak didampingi ibunya.
Ibu adalah support sistem utama bagi seorang ibu baru. Penelitian dari National Institute of Health menunjukkan, depresi post partum menunjukkan, sekitar 10-20% ibu mengalami depresi pascamelahirkan, meskipun angkanya bervariasi secara signifikan berdasarkan wilayah, dengan tingkat yang lebih tinggi di negara-negara berpenghasilan rendah dan negara-negara berkembang.
Menurut studi ini, faktor risiko utama meliputi tekanan finansial, kurangnya dukungan sosial, konflik perkawinan, riwayat depresi, kekerasan pasangan, dan pengalaman melahirkan tertentu seperti operasi caesar, sementara faktor biologis seperti perubahan hormonal juga berperan.
Mengapa Menjadi Ibu Tanpa Seorang Ibu Bisa Begitu Sulit
Peran ibu adalah menawarkan semacam kenyamanan, terutama ketika wanita mendapatkan peran baru yang tidak mudah,” kata Nona Kocher, seorang psikiater bersertifikat yang berbasis di Miami. “Selama kehamilan dan awal masa kehamilan, dukungan semacam itu lebih penting dari sebelumnya.”
Laporan global yang melibatkan lebih dari 2.300 responden menemukan dampak nyata ketika seorang wanita menjadi ibu tanpa didampingi ibu kandung. Sebanyak 81% responden melaporkan mengalami gangguan kesehatan mental hingga lebih dari empat kali lipat higga 20%. Namun, data ini ditemukan di Amerika Serikat.
Secara khusus, ibu baru yang tidak didampingi ibu kandung 5,4 kali lebih mungkin mengalami depresi perinatal dibandingkan rata-rata nasional yang dilaporkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), sebesar 12,5%.
Bahkan sebanyak 85% responden mengatakan bahwa menjadi ibu justru membuka kembali duka mereka. Perasaan ini wajar. karena para ibu seringkali menjadi jangkar emosional bagi putri mereka selama masa transisi ini, kata Kiana Shelton, terapis berlisensi di Mindpath Health.
“Selama kehamilan dan pascapersalinan, seorang ibu dapat memberikan normalisasi ketika segala sesuatu terasa tidak pasti,” jelas Shelton. “Ketika kehadiran seorang ibu hilang, bukan hanya kurangnya dukungan, tetapi juga hilangnya landasan. Ketidakhadiran ini dapat memperparah perasaan terisolasi, cemas, dan kebingungan identitas, yang semuanya dapat meningkatkan risiko depresi perinatal/pascapersalinan.”
Catherine M. Cunningham, kepala bagian psikiatri di Hackensack Meridian Ocean University Medical Center, sependapat, dengan mengatakan bahwa persepsi kehilangan atau kurangnya dukungan sosial merupakan salah satu indikator terkuat depresi pascapersalinan.
Dan mengasuh anak tanpa seorang ibu meninggalkan lubang menganga bagi banyak orang karena ibu seringkali memberikan dukungan instrumental dan perancah emosional yang dibutuhkan selama masa pascapersalinan.
“Dukungan instrumental meliputi bantuan praktis dalam perawatan bayi baru lahir, makanan, dan tugas-tugas rumah tangga lainnya untuk meredam stres dan mengurangi kurang tidur,” jelas Dr. Cunningham.
Baca juga: Buat Orang Tua Milenial, Ini Tips Membesarkan Gen Alpha
Kehilangan bukan hanya karena kematian
Kehilangan seorang ibu bisa diartikan secara luas, tidak hanya karena kematian, tetapi juga karena penyakit kronis, jarak, dan keterasingan. Hal terakhir ini penting untuk dipahami, karena penelitian menunjukkan sekitar 6% orang dewasa terasing dari ibu mereka. Keterasingan berbeda dengan perpisahan karena kematian atau penyakit, karena melibatkan pilihan, baik dari anak perempuan, ibu, atau keduanya.
Ada juga kasus yang kehilangan sosok ibu karena penyakit. Hal ini menjadi semakin kompleks apabila jika ia juga membantu merawat orang tuanya. "Jika penyakitnya parah, kesedihan antisipatif mungkin juga muncul," tambah Fortney.
Sedangkan kehilangan ibu karena kematian, tentu saja, bersifat permanen, dan tidak mengherankan jika tahap perinatal memicu kembali kesedihan pada para ibu.
Orang-orang sering berpikir mereka telah 'melanjutkan hidup' setelah kehilangan ibu untuk selamanya, tetapi kemudian terpicu kembali oleh kelahiran anak mereka, Keinginan untuk menjangkau, untuk berbagi momen penting ini, untuk memiliki ibu mereka di sisi mereka bisa sangat besar.
Para Ibu Tidak Mendapatkan Dukungan yang Cukup
Menjadi seorang ibu tanpa figur ibu cukup menantang. Namun, para wanita yang mengikuti survei terbaru Peanut dan TMM berbagi bahwa mereka tidak menerima dukungan dari orang-orang yang terlibat dalam perawatan mereka.
Sekitar 74% mengatakan bahwa penyedia layanan kesehatan mereka tidak pernah menanyakan apakah mereka mendapatkan dukungan maternal, dan hanya setengah dari mereka yang ditanya mengatakan bahwa mereka menerima bantuan yang berarti.
Kesedihan karena menjadi ibu tanpa ibu jarang diakui dalam budaya berbagai negara. Ketika bayi baru lahir, masyarakat memusatkan perhatiannya pada bayi tersebut, bukan pada ibunya.
Menurut Emily Guarnotta, PsyD, PMH-C, psikolog dan pendiri Phoenix Health, tidak menanyakan kebutuhan ibu atau berpura-pura semuanya baik-baik saja justru memicu kesepian dan isolasi. Ia dan para ahli lainnya percaya bahwa perawatan yang peka terhadap kesedihan diperlukan selama masa ini.
Mintalah bantuan
Orang yang kehilangan ibu memiliki risiko awal yang lebih tinggi untuk mengalami depresi pascapersalinan, dan keterlibatan dini dengan layanan mengurangi kemungkinan episode yang lebih lama atau lebih parah.
Berikut tips menghadapi ibu yang kehilangan sosok ibu di masa perinatal:
1. Temukan komunitas
Mengikuti komunitas tertentu bisa menjadi bentuk mencari dukungan yang diperlukan. Memiliki koneksi dengan komunitas dapat membantu orang lain mengidentifikasi risiko tersembunyi sejak dini dan menghubungkan para ibu dengan sumber daya duka/dukungan yang tepat
Beberapa sesi terapi atau bergabung dengan kelompok pendukung dapat membantu seorang ibu merasa tidak sendirian dan lebih percaya diri dalam peran barunya sebagai ibu.
2. Jadi ibu bagi diri sendiri
Ide mengasuh diri sendiri mungkin terdengar aneh, tetapi itu bisa membantu. Memberikan belas kasih, cinta, dan validasi yang Mums dambakan bisa sangat ampuh. Bicaralah dengan baik kepada diri sendiri, akui kebutuhan Mums, dan berikan waktu buat diri sendiri untuk untuk beristirahat dan menerima bantuan.
3. Rencanakan masa-masa berduka
Duka dapat datang tiba-tiba, tetapi para ahli mengatakan beberapa periode duka yang berat lebih mudah diprediksi, seperti di sekitar momen penting, ulang tahun, dan hari jadi. Menyadari hal-hal tersebut merupakan langkah besar dalam membuat persiapan.
4. Beri ruang untuk beragam emosi
Duka dan kegembiraan sering kali muncul bersamaan dalam peran sebagai ibu. Membiarkan keduanya hadir tanpa menghakimi membantu mengurangi rasa malu dan kebingungan emosional.
Biarkan diri Mums merasakan duka dan kebahagiaan. Merasa bersalah karena mengalami duka memang wajar, padahal Mums seharusnya bahagia dengan kehadiran bayi lucu di tangan Mums.
Baca juga: Masuk Kelompok Risiko Tinggi Depresi, Bumil Bisa Skrining Kesehatan Mental Gratis!
Referensi:
NIH. Mapping global prevalence of depression among postpartum women


