Sebagian besar orang tua menginginkan anak-anak mereka menjadi yang terbaik. Ingin anaknya pintar, jago olahraga, pintar main piano dan alat musik lainnya, jago berenang, dan cerdas di matematika. Demi anak berprestasi, kadang ornag tua rela membayar mahal untuk mengikutkan anak di berbagai les dan lomba. Selama anak bahagia dan antusias menjalaninya, tentu Mums dan Dads juga ikut bahagia. Tapi, jangan pernah memaksa anak untuk menjadi sempurna, karena bisa menjadi tekanan yang berdampak pada kondisi mental mereka.
Beberapa orang tua tanpa disadari memberikan terlalu banyak tekanan pada anak-anak. Tekanan yang begitu intens dapat memiliki konsekuensi serius, mulai dari masalah kesehatan mental hingga merusak harga diri.
Aartikel ini akan membahas lebih lanjut tentang risiko tekanan orang tua dan cara memotivasi anak-anak tanpa menyebabkan tekanan.
Seperti Apa Tekanan Orang Tua Itu?
Sebuah survei oleh Pew Research Center(2013) menemukan bahwa 64% orang Amerika mengatakan orang tua tidak mPew Research Centeremberikan cukup tekanan pada anak-anak untuk berprestasi di sekolah.1 Beberapa anak mungkin kurang mampu berprestasi maksimal jika mereka tidak mendapatkan cukup tekanan dari orang tua mereka.
Penelitian yang dipublikasikan di Jurnal Frontline Psychiatry (2022) menemukan, banyak anak lain diduga berada di bawah tekanan yang terlalu besar dari orang tuanya. Lebih banyak orang tua yang mulai khawatir bahwa anak-anak saat ini "tidak bisa lagi menjadi anak-anak" karena mereka ditekan dan diharapkan untuk terus berprestasi dengan baik. Misalnya, harus masuk ke sekolah paling bergengsi atau berprestasi di sekolah.
Setiap orang tua memiliki pendekatan yang berbeda dalam mendorong anak-anak mereka. Meskipun Mums dan Dads harapan yang tinggi bisa sehat, memberikan tekanan terus-menerus pada anak-anak dapat berbahaya. Ketika anak-anak merasa bahwa setiap tugas rumah akan menentukan masa depan mereka, atau bahwa setiap pertandingan sepak bola dapat menentukan apakah mereka mendapatkan beasiswa kuliah, tekanan itu dapat memiliki konsekuensi negatif.
Dampak Tekanan dari Orang Tua
Anak-anak yang merasa berada di bawah tekanan yang sangat besar untuk berprestasi dapat mengalami konsekuensi di berbagai bidang kehidupan mereka, mulai dari kesehatan mental hingga tidur mereka. Berikut adalah beberapa efek dari memberikan tekanan yang terlalu besar pada anak-anak untuk berprestasi.
1. Risiko penyakit mental lebih tinggi
Anak-anak yang merasa berada di bawah tekanan terus-menerus dapat mengalami kecemasan yang konstan. Tingkat stres yang tinggi juga dapat menempatkan anak-anak pada risiko yang lebih besar untuk mengembangkan depresi atau kondisi kesehatan mental lainnya.
2. Risiko cedera yang lebih tinggi
Atlet cilik yang merasa banyak tekanan untuk menjadi yang terbaik mungkin akan terus berpartisipasi dalam olahraga meskipun mengalami cedera. Mengabaikan rasa sakit atau kembali berolahraga sebelum cedera sembuh dapat menyebabkan kerusakan permanen.
3. Meningkatnya kemungkinan kecurangan
Ketika fokusnya adalah pada prestasi daripada pembelajaran, anak-anak lebih cenderung melakukan kecurangan. Baik itu anak kecil yang mengintip jawaban teman sekelasnya pada ujian, atau mahasiswa yang membayar seseorang untuk menulis makalah, kecurangan umum terjadi di kalangan anak-anak yang merasa tertekan untuk berprestasi dengan baik.
4. Menolak untuk berpartisipasi
Ketika anak-anak merasa tujuannya adalah untuk selalu "menjadi yang terbaik," mereka cenderung tidak mau berpartisipasi karena sudah merasa akan kalah duluan. Seorang anak yang bukan pelari tercepat mungkin berhenti bermain sepak bola dan seorang anak yang bukan penyanyi terbaik dalam kelompok mungkin berhenti tampil dengan paduan suara.
Anak-anak juga mungkin menolak untuk pergi ke sekolah jika mereka tidak berprestasi. Sayangnya, itu berarti anak-anak tidak akan mengambil kesempatan untuk mengasah keterampilan mereka.
5. Masalah harga diri
Mendorong anak-anak untuk berprestasi dapat merusak harga diri mereka. Tekanan terus-menerus untuk tampil mengganggu pembentukan identitas anak dan menyebabkan mereka merasa tidak cukup baik—atau bahkan merasa tidak akan pernah cukup baik.
6. Kurang Tidur
Anak-anak yang merasa terus-menerus tertekan untuk berprestasi di sekolah mungkin begadang karena harus selalu belajar dan mengalami kesulitan tidur. Atau tekanan berlebihan dapat menyebabkan stres yang membuat sulit tidur.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Orang Tua?
Orang tua dapat membantu anak-anak mereka tanpa memberi terlalu banyak tekanan dengan fokus pada proses, bukan hasil.
Dorong anak untuk melakukan yang terbaik. Jika Mums dan Dads merasa memberi terlalu banyak tekanan pada anak , tanyakan pada diri sendiri mengapa prestasi, nilai ujian, atau keberhasilan mereka begitu penting bagi Mums atau Dads.
Bicaralah dengan anak tentang olahraga/tugas/pertunjukan yang sedang mereka kerjakan. Singkirkan ambisi dan untuk beri ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaan mereka. Memberi anak ruang untuk dilihat dan didengar akan mendorong mereka daripada membuat mereka merasa telah mengecewakan ornag tuanya.
Referensi:
Paw Research Center. Americans say kids need more pressure in school, Chinese say less
Front. Psychiatry, 25 October 2022. Parental psychological control and adolescent social problems: The mediating effect of emotion regulation


