Marah, takut, kecewa, menangis, emosional, tantrum, merupakan kondisi emosi yang sangat wajar ada pada seorang anak. Sebab anak yang sehat mental atau memiliki kecerdasan emosional tetap bisa merasakan itu semua.
Namun, yang membedakannya adalah, anak dengan kecerdasan emosional mampu mengelola semua itu dengan baik. Sebab ia mendapatkan kesempatan untuk memahami emosinya dan belajar mengelolanya.
Tanda Anak Memiliki Kecerdasan Emosi Tinggi
Kecerdasan emosi atau kesehatan mental pada seorang anak merupakan kemampuan anak dalam memamhami dan mengendalikan emosinya. Juga kemampuan anak dalam berinteraksi dengan orang lain.
Keterampilan sosial yang satu ini sangat penting sebagai bekal anak dalam menjalani kehidupannya saat ini hingga nanti menjadi individu yang dewasa.
Journal of Youth and Adolescence (2025) secara khusus meneliti hubungan emotional intelligence (EI) dengan perilaku prososial pada anak dan remaja. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan positif antara kecerdasan emosi dan perilaku prososial. Anak dengan kemampuan memahami dan mengelola emosi yang lebih baik cenderung menunjukkan perilaku seperti membantu, berbagi, bekerja sama, dan peduli terhadap orang lain.
Berikut ini tanda anak memiliki kecerdasan emosi yang perlu Mums ketahui :
1. Mampu mengenali dan menyebutkan emosinya
Anak dengan kecerdasan emosi mampu mengenali emosinya sendiri. Ia mampu mengungkapkan bahwa “Aku marah”, “Aku sedih”, atau “Aku takut.” Di sinilah anak mampu mengidentifikasi apa yang dirasakan.
2. Tidak takut mengekspresikan emosi
Tanda anak sehat mental bukan tidak takut mengekspresikan emosinya. Ia tetap boleh menangis, kecewa, atau marah tanpa harus merasa emosinya tersebut salah. Sebab ia memahami bahwa hal itu merupakan sesuatu yang manusiawi, jadi tidak bisa dicegah atau dilarang begitu saja.
3. Mampu mengatur emosinya
Anak dengan kecerdasan emosi bukan tidak boleh marah melainkan mampu mengekspresikannya dengan tepat. Lalu secara bertahap mampu kembali tenang. Mengelola emosinya secara proporsional, tidak berlebihan, tidak meledak-ledak.
4. Memiliki empati
Salah satu indikasi paling kuat atau tanda anak sehat mental adalah memiliki empati dalam dirinya. Anak mulai memperhatikan dan merespons perasaan orang lain. Punya kemampuan merasakan apa yang orang lain rasakan, menempatkan diri seandainya berada pada posisi tersebut.
5. Interaksi sosial berkembang baik
Anak dengan kecerdasan emosional mampu membangun interaksi sosial dengan baik. Ia dapat bermain, bekerja sama, berbagi dengan orang lain. Mampu menyelesaikan konflik yang dihadapi dalam interaksi sosialnya tersebut.
6. Mampu menghadapi kegagalan atau frustrasi
Gagal dan kecewa maupun frustrasi itu hal biasa. Bagi anak dengan kecerdasan emosional mampu menghadapi situasi sulit seperti kegagalan, kekecewaan, dan firustasi dengan tenang. Tidak selalu langsung menyerah ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya.
7. Memiliki rasa aman dan percaya diri
Anak dengan kecerdasan emosional merasa diterima, dicintai, dan memiliki ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Percaya pada kemampuan yang dimiliki dan tidak takut untuk mencoba atau menunjukkan kemampuan yang dimiliki.
Cara Menanamkan Kecerdasan Emosional pada Anak
Mums, kecerdasan emosional pada anak tidak muncul dengan sendirinya. Melainkan buah dari proses parenting jangka panjang yang tepat. Di sinilah peran orang tua sangat penting dalam mengembangkan kemampuan anak meregulasi emosinya.
Terkait hal ini penelitian dalam Developmental Review (2025) mengenai intervensi yang dimediasi orang tua menemukan bahwa pendekatan parenting dapat membantu meningkatkan emotion regulation pada anak usia 0–12 tahun, dengan bukti yang paling kuat ditemukan pada masa kanak-kanak awal. Ini berarti kemampuan anak mengelola emosi bukan hanya bawaan, tetapi juga berkembang melalui interaksi dengan orang tua dan lingkungan.
Berikut ini cara menanamkan kecerdasan emosional pada anak :
1. Bimbingan yang konsisten
Membangun kecerdasan emosional pada anak dimulai dari rumah melalui bimbingan yang konsisten, percakapan terbuka, dan contoh perilaku yang positif. Saat orang tua membantu anak memahami, mengungkapkan, dan mengelola emosi, anak akan mengembangkan kepercayaan diri, empati, dan kemampuan memecahkan masalah yang lebih kuat. Lingkungan rumah yang suportif memastikan anak tumbuh menjadi pribadi yang seimbang secara emosional, tangguh, dan penuh kasih.
2. Gunakan bahasa sederhana
Agar anak paham apa yang diajarkan, gunakan bahasa sederhana sehingga ia mampu mengenali perasaan dan emosinya. Hal ini membantu membangun kesadaran emosional dan membantu anak meregulasi emosi dengan tepat.
3. Jadi teladan
Anak adalah peniru ulung, ia akan mengikuti apa yang orang tuanya lakukan. Karena itu jadilah teladan dalam mengelola emosi, menangani konflik, maupun bersikap yang tepat ketika menghadapi situasi sulit. Perilaku orang tua jadi referensi utama anak dalam melatih kecerdasan emosionalnya.
4. Validasi emosi
Ajarkan anak kemampuan untuk melakukan validasi emosi, seperti kesedihan, ketakutan, atau kemarahan dengan penuh empati. Dengan validasi emosi ini anak merasa dipahami, diterima, serta menguatkan kemampuannya dalam mengungkapkan emosi secara terbuka dan jujur.
5. Ajarkan teknik relaksasi
Kecerdasan emosi terkait erat dengan kemampuan mengendalikan diri dan mengelola emosi. Di sinilah belajar teknik relaksasi seperti napas dalam, berhitung, jeda sejenak untuk menenankan pikiran, sangat dibutuhkan. Hal ini penting untuk mengelola stres dan mengambil keputusan yang bijak saat menghadapi situasi yang sulit.
Mums, itulah tanda anak sehat mental dan cara membangun kecerdasan emosional sejak dini. Anak yang sehat ental bukan berarti tidak pernah menangis, marah, takut, cemburu, atau tantrum. Melainkan anak yang mampu mengenali emosinya, mengekspresikan dengan tepat, dan mampu mengelola emosinya dengan baik.
Tetap tenang dalam situasi sulit, tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan penuh empati. Dengan bimbingan yang tepat, setiap anak dapat memperkuat kecerdasan emosional yang sangat penting dalam hidupnya.
Referensi :
1. Journal of Youth and Adolescence. 2025. The Association between Emotional Intelligence and Prosocial Behaviors in Children and Adolescents: A Systematic Review and Meta-Analysis.
2. Developmental Review. 2025. Evaluating parent-mediated interventions to support child emotion regulation: a review of preventative approaches across childhood.


