Menyiapkan bekal untuk anak bukan sekadar memastikan ia membawa makanan dari rumah. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana membuat bekal yang dibawa benar-benar dimakan sampai habis.
Tak jarang orang tua sudah repot menyiapkan makanan bergizi, tetapi ketika kotak bekal dibuka sepulang sekolah, isinya masih hampir utuh. Alasannya beragam: anak tidak suka rasanya, porsinya terlalu banyak, makanan sudah dingin, atau anak terlalu sibuk bermain sehingga lupa makan.
Padahal, bekal yang habis bukan hanya membuat orang tua senang. Anak juga mendapatkan energi dan nutrisi yang dibutuhkan untuk belajar dan beraktivitas. Lantas, bagaimana membuat bekal yang lebih mungkin disantap sampai tak bersisa?
Tips Mempersiapkan Bekal Anak
Agar anak antusias menghabiskan bekalnya, berikut ini hal-hal yang bisa Mums persiapkan:
1. Libatkan anak memilih menu
Jangan selalu menentukan menu sendiri. Sesekali tanyakan kepada anak, “Besok mau bekal apa?” Berikan dua atau tiga pilihan yang tetap sesuai dengan kebutuhan gizi anak. Misalnya nasi ayam atau nasi telur, sandwich tuna atau sandwich telur. Ketika anak ikut memilih, biasanya ia akan lebih antusias untuk menghabiskan makanannya.
2. Jangan terlalu banyak
Niat orang tua tentu baik: ingin anak mendapatkan cukup makanan. Namun, bekal yang terlalu penuh justru bisa membuat anak merasa kewalahan. Sesuaikan porsi dengan usia, kebutuhan, dan kebiasaan makan anak. Lebih baik bekal habis dan anak masih bisa meminta tambahan jika perlu daripada membawa terlalu banyak makanan yang akhirnya tersisa.
3. Buat makanan dalam ukuran yang mudah dimakan
Anak sekolah biasanya tidak punya banyak waktu untuk makan. Karena itu, makanan yang praktis akan lebih mudah disantap. Potong buah menjadi ukuran kecil, buat sandwich menjadi potongan yang mudah digenggam, atau pilih lauk yang tidak terlalu sulit dimakan. Semakin praktis, semakin kecil kemungkinan anak meninggalkan bekalnya karena malas makan.
4. Tetap bergizi, tetapi jangan lupa rasa
Bekal sehat tidak harus hambar.Gunakan bumbu yang disukai anak, tetapi tetap perhatikan keseimbangan gizinya. Misalnya nasi dengan ayam teriyaki, telur dadar sayur, tumis ayam, atau pasta dengan tambahan sayuran. Orang tua bisa menyelipkan sayur dan sumber protein ke dalam makanan favorit anak tanpa mengubahnya menjadi makanan yang sama sekali berbeda dari selera mereka.
5. Variasikan menu
Anak bisa bosan jika setiap hari mendapatkan menu yang sama. Tidak perlu membuat menu yang rumit. Cukup lakukan rotasi sederhana.
Senin: nasi ayam dan buah
Selasa: sandwich telur dan susu
Rabu: nasi goreng dengan telur dan sayur
Kamis: pasta ayam dan buah
Jumat: nasi dengan ayam atau ikan dan sayuran
Variasi membuat waktu makan lebih menarik dan membantu anak mengenal berbagai jenis makanan.
6. Jangan lupa tekstur dan suhu makanan
Makanan yang sebenarnya disukai anak bisa tidak habis jika teksturnya berubah atau menjadi kurang menarik setelah beberapa jam. Perhatikan jenis makanan yang dimasukkan ke dalam bekal dan bagaimana kondisinya ketika akan dimakan. Untuk makanan tertentu, gunakan wadah yang dapat membantu mempertahankan suhu dan kualitas makanan. Pastikan pula makanan disimpan dan dibawa dengan cara yang aman.
7. Buah bisa dibuat lebih menarik
Daripada memberikan satu buah utuh yang sulit dimakan, sajikan buah dalam potongan yang praktis. Apel, melon, semangka, pir, atau pepaya bisa dipotong menjadi ukuran kecil.
Bisa juga membuat kombinasi dua jenis buah agar tampilannya lebih menarik. Namun, tidak perlu berlebihan membuat bentuk atau dekorasi. Yang terpenting adalah praktis dimakan dan sesuai dengan kesukaan anak.
8. Kurangi makanan yang membuat cepat kenyang
Bekal sebaiknya tetap memiliki komposisi yang seimbang, bukan hanya makanan tinggi karbohidrat. Misalnya, jangan hanya memberikan nasi atau mi dalam porsi besar. Lengkapi dengan sumber protein seperti telur, ayam, ikan, daging, tahu, atau tempe serta sayur dan buah. Dengan begitu, anak mendapatkan energi sekaligus berbagai zat gizi yang dibutuhkan untuk mendukung aktivitasnya.
9. Tanyakan alasan kalau bekal sering tersisa
Kalau anak berkali-kali membawa pulang bekal yang tidak habis, jangan langsung memarahinya. Coba tanyakan dengan santai: “Tadi kenapa bekalnya nggak habis?”
Bisa jadi ternyata anak tidak menyukai menunya, waktunya makan terlalu singkat, makanan tumpah, atau ia tidak sempat makan karena terlalu asyik bermain. Dari jawaban anak, orang tua bisa mengetahui apa yang perlu diperbaiki.
10. Jadikan bekal sebagai pengalaman menyenangkan
Sesekali ajak anak ikut menyiapkan bekalnya. Anak bisa memilih buah, memasukkan makanan ke kotak bekal, atau membantu menata makanan.
Aktivitas sederhana ini dapat membuat anak merasa memiliki “bekalnya sendiri”. Pada akhirnya, tujuan bekal bukan sekadar “harus habis”, tetapi membantu anak memiliki kebiasaan makan yang sehat dan menyenangkan.
Bekal Habis, Anak Tetap Senang
Bekal yang habis memang membuat orang tua lega. Tetapi jangan sampai target menghabiskan makanan membuat anak merasa tertekan saat makan. Kuncinya adalah porsi yang sesuai, menu yang disukai, variasi makanan, penyajian yang praktis, serta komposisi gizi yang seimbang.
Karena bekal terbaik bukanlah bekal yang paling mahal atau paling cantik tampilannya, melainkan bekal yang membuat anak mendapatkan nutrisi yang dibutuhkannya dan dengan senang hati disantap sampai tak bersisa.


