Saat hamil tubuh mengalami banyak perubahan di sana sini. Lonjakan hormon kehamilan membuat tubuh seorang ibu tidak sama lagi seperti sebelum hamil. Belum lagi janin yang semakin bertumbuh seiring usia kehamilan juga ikut andil membuat perubahan, baik dari segi fisik maupun psikologis.
Kondisi inilah yang membuat tubuh ibu mesti beradaptasi setiap saat, mencari pola keseimbangan baru, berusaha menyesuaikan dengan ukuran janin yang makin besar, imunitas yang semakin menurun, juga kelelahan yang makin hari makin bertambah.
Dampak Kehamilan pada Kesehatan Jangka Panjang
Harus diakui, kehamilan memang sedikit banyak mengubah atau menentukan kesehatan seorang ibu. Umumnya hal ini terjadi kaena proses kehamilan sendiri merupakan ujian stres fisiologis alami terbesar bagi tubuh wanita. Dan hal itu memengaruhi seluruh organ tubuhnya, tidak hanya rahim atau perut yang menjadi tempat janin dalam kandungan.
Dan jangan lupa, durasi 9 bulan itu merupakan waktu yang cukup panjang. Jadi sangat wajar jika kehamilan meninggalkan jejak jangka panjang bagi kesehatan fisik maupun psikologi seorang ibu.
Belum lagi komplikasi yang dialami selama kehamilan maupun melahirkan, akan menambah panjang dan berat dampak kehamilan yang ditinggalkan.
Berikut ini beberapa jejak problem kesehatan yang memengaruhi risiko penyakit di kemudian hari :
1. Preeklamsia dan penyakit jantung
Ibu yang pernah mengalami preeklamsia memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi, penyakit jantung, dan stroke di masa depan. Karena itu, tekanan darah tetap perlu dipantau setelah melahirkan.
Hal ini terungkap dalam European Heart Journal (2024) systematic review dan meta-analysis terhadap 22 studi, mencakup sekitar 598.733 perempuan dengan preeklamsia dan 12,56 juta perempuan tanpa preeklamsia.
Hasilnya, riwayat preeklamsia dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular 2,08 kali, penyakit arteri koroner: 2,04 kali gagal jantung: 2,47 kali, stroke: 1,75 kali
Risiko sudah terlihat dalam 1–3 tahun setelah kehamilan dan dapat bertahan hingga puluhan tahun.
Artinya hasil penelitian ini mendukung pernyataan bahwa komplikasi kehamilan tertentu dapat menjadi penanda risiko kesehatan ibu sepanjang hidupnya.
2. Diabetes gestasional dan diabetes tipe 2
Penyakit yang satu ini memang umum dialami ibu hamil. Diabetes gestasional yang dialami selama kehamilan dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 di kemudian hari. Itu sebabnya pemeriksaan kadar gula darah secara rutin mesti dilakukan untuk mendeteksi risiko penyakit DM tipe 2.
3. Kesehatan dasar panggul
Saat hamil dan melahirkan, otot panggung dan area sekitarnya ikut bekerja keras dan mengalami berbagai perubahan. Hal ini seringkali menimbulkan berbagai keluhan di area otot dasar panggul dan menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti sulit menahan urine atau rasa berat di area panggul.
4. Kesehatan metabolik
Umumnya kehamilan menimbulkan berbagai perubahan fisik seperti perubahan berat badan, gula darah, juga sensitivitas insulin. Hal ini jadi sinyal penting untuk lebih memperhatikan kesehatan metabolik setelah melahirkan.
5. Kesehatan mental
Tidak hanya problem kesehatan fisik, kehamilan juga meninggalkan jejak masalah psikologis atau mental yang perlu dicermati. Kecemasan dan depresi kehamilan menjadi problem kesehatan mental yang tidak dapat diabaikan, baik selama atau setelah kehamilan. Karenanya perlu dikenali dan ditangani secara tepat dan tuntas agar tidak mengganggu kualitas hidup Mums dalam jangka panjang.
Langkah Pencegahan yang Dapat Dilakukan
Mums, riwayat komplikasi kehamilan bukan berarti pasti akan terulang atau menjadi penyakit di masa depan. Semua itu hanya jadi sinyal atau tanda yang jika diabaikan maka bukan tidak mungkin akan menjadi kenyataan.
Jadi, yang mesti Mums lakukan saat ini adalah mencegah dampak kehamilan berbuntut panjang menjelang usia paruh baya atau bahkan di saat menua.
Berikut ini beberapa langkah pencegahan yang dapat Mums lakukan :
1. Pemeriksaan kesehatan berkala
Lakukan pemeriksaan kesehatan atau screening secara berkala. Hal ini sebagai upaya deteksi dini berbagai penyakit yang mungkin dialami baik yang terkait dengan kehamilan sebelumnya maupun kondisi kesehatan secara umum.
Pemeriksaan kesehatan dasar yang pelu dilakukan secara rutin, di antaranya cek tekanan darah, tes kadar glukosa atau gula darah, juga pemeriksaan profil lipid lengkap. Seperti kadar kolesterol total, LDL, HDL, juga trigliserida setahun sekali untuk memantau risiko kardiovaskular.
2. Pemulihan fisik dan otot inti
Aktivitas fisik, olahraga rutin, menjadi salah satu upaya untuk mencegah dampak kehamilan jangka panjang. Mums dapat melakukan fisioterapi dasar panggul, latihan pernapasan diafragma. Juga melakukan olahraga rendah benturan seperti jalan kaki, renang, yoga untuk menjaga kepadatan tulang dan sendi yang masih longgar akibat hormon kehamilan.
3. Pola hidup sehat
Upaya nyata dalam menjaga kesehatan tubuh sepanjang hidup adalah dengan menerapkan pola hidup sehat. Mulai dari makan bergizi seimbang, menjaga berat badan tetap ideal, tidur yang cukup, olahraga rutin, banyak bergerak. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah kelola stres dengan baik agar tidak berdampak pada kesehatan fisik.
Mums, itulah beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah dampak kehamilan pada kondisi kesehatan jangka panjang. Riwayat kehamilan dan usia yang semakin menua adalah kombinasi ideal untuk meningkatkan berbagai risiko kesehatan baik fisik maupun mental. Karena itu cegah dan deteksi sedini mungkin. Pastikan kehamilan tidak berdampak buruk pada kesehatan saat ini dan nanti.
Referensi :
European Heart Journal – Quality of Care and Clinical Outcomes. 2024


