Dalam kehidupan keluarga modern yang penuh dinamika, memiliki support system yang kuat menjadi kebutuhan penting agar setiap anggota keluarga dapat berkembang secara optimal, baik secara emosional, sosial, maupun fisik.
Support system bukan hanya sebatas hadir secara fisik, tetapi juga hadir secara emosional, mental, dan praktis. Artikel ini membahas manfaat support system, peran Mums dan Dads dalam membangun dukungan yang sehat, serta pentingnya support system bagi perkembangan anak.
Apa yang Dimaksud dengan Support System?
Support system dalam hubungan pernikahan adalah jaringan dukungan yang membantu pasangan menghadapi tantangan hidup, memiliki kesehatan mental yang baik, serta dapat bekermbang menjadi pribadi yang lebih berkualitas, termasuk hubungan pernikahan. Dalam konteks keluarga, support system bisa berasal dari pasangan, anak, orang tua, saudara, sahabat, hingga lingkungan sosial yang positif.
Apa saja bentuk support system dalam keluarga?
1. Dukungan emosional berupa empati, kasih sayang, mendengarkan tanpa menghakimi, dan validasi perasaan.
2. Dukungan instrument berupa bantuan praktis seperti mengurus rumah, mengasuh anak, atau membantu pengambilan keputusan.
3. Dukungan informasional, berupa memberikan saran berdasarkan pengalaman atau pengetahuan.
4. Dukungan penghargaan (esteem support) misalnya memberikan pujian, dorongan, dan rasa dihargai.
Menurut peneitian dari Jurnal Psikologi Integratif (2022) keluarga dengan support system yang kuat cenderung lebih resilien atau tahan banting dalam menghadapi masalah, memiliki komunikasi yang lebih sehat, dan lebih cepat pulih dari konflik.
Peran Suami dan Istri dalam Support System Keluarga
Mums dan Dads adalah inti dari support system keluarga. Fondasi hubungan yang sehat tidak terletak pada kesempurnaan, melainkan pada kemampuan keduanya untuk saling mendukung dan bekerja sama.
1. Peran Suami sebagai Support System
Di banyak keluarga, tuntutan dan tekanan sosial membuat istri memikul beban yang lebih besar dalam pengasuhan dan pekerjaan rumah tangga. Oleh karena itu, suami memiliki peran penting untuk menjadi sumber dukungan agar kehidupan pernikahan menjadi lebih seimbang.
Agar dapat menjadi support system yang baik, Dads bisa memberikan kontribusi dengan cara:
Memberi dukungan emosional. Sering-sering mendengarkan perasaan istri, memberikan validasi, serta menawarkan kenyamanan.
Berpartisipasi aktif dalam pekerjaan rumah. Penelitian menunjukkan bahwa pembagian tugas rumah yang adil meningkatkan kepuasan pernikahan. Meskipun Dads adalah pencari nafkah utama, tetapi luangkan waktu untuk membentu tugas di rumah, misalnya meegang sanak saat Mums sibuk, membantu mencuci piring, atau memasak sesekali.
Terlibat dalam pengasuhan anak. Di Indonesia, Keterlibatan ayah meningkatkan perkembangan sosial dan emosional anak.
Memberikan rasa aman. Ini adalah support system penting bagi suami. Memberikan rasa aman berupa fisik, ekonomi, maupun emosional.
Menjadi partner dalam pengambilan keputusan. Suami yang suportif menghargai pendapat istri dan membangun dinamika hubungan yang setara.
Penelitian dalam Behaviour science (2024) menunjukkan bahwa istri merasa lebih bahagia dan stres berkurang ketika suami aktif memberikan dukungan emosional dan dukungan instrumental.
2. Peran Istri sebagai Support System
Mums juga berperan penting dalam membangun kehangatan dan kestabilan keluarga. Namun di era modern, peran istri tidak lagi terbatas pada urusan domestik saja. Berikut ini apa yang bisa Mums berikan sebagai support system keluarga:
Memberi dukungan emosional kepada suami. Misalnya memberikan dorongan agar suami bisa bercerita dan mengekspresikan kekhawatirannya.
Menghargai usaha suami. Pujian kecil atau rasa terima kasih dapat meningkatkan motivasi dan konektivitas emosional.
Menjadi mitra dalam pengasuhan. Mengambil keputusan bersama tentang pendidikan, kesehatan, dan perkembangan anak.
Mendorong keseimbangan kerja dan keluarga: Misalnya memahami beban pekerjaan suami dan mencari solusi agar tetap punya waktu berkualitas.
Support System untuk Anak: Mengapa Sangat Penting?
Anak yang sedang berkembang dan sangat bergantung pada dukungan lingkungan terdekatnya. Support system yang terdekat adalah ayah dan ibunya. Dukungan tiada henti dari kedua orang tua sangat berpengaruh besar pada perkembangan emosional, sosial, dan akademik anak.
Support system seperti apa yang dibutuhkan anak?
1. Dukungan Emosional untuk Anak
Anak yang merasa dicintai, diterima, dan aman cenderung memiliki harga diri yang lebih baik. Menurut penelitian dalam Couple Family Psychology, (2019) anak dengan dukungan emosional kuat lebih mampu mengelola stres dan memiliki keterampilan sosial yang lebih matang.
Bentuk dukungan emosional bisa berupa meendengarkan cerita anak tanpa menghakimi, memberikan pelukan, menunjukkan empati saat anak sedih atau kecewa, dan tidak meremehkan perasaan anak.
2. Dukungan agar anak mandiri
Anak membutuhkan dukungan untuk mengembangkan rasa percaya diri dalam belajar dan mencoba hal baru. Contohnya dengan membantu anak menyelesaikan PR, tetapi tidak mengambil alih, mengapresiasi usaha, bukan hanya hasil, dan memberikan kesempatan anak memilih aktivitasnya sendiri. Anak yang menerima dukungan orang tua memiliki motivasi belajar lebih tinggi dan performa akademik lebih baik.
3. Dukungan Sosial dan Lingkungan
Lingkungan sosial yang positif, seperti guru, teman, keluarga besar, dan komunitas, dapat membantu anak belajar interaksi sosial, empati, dan kerja sama. Lingkungan yang suportif dapat mencegah anak dalam praktek perundungan (bullying), mengurangi risiko masalah perilaku, dan membantu anak membangun hubungan positif dengan orang lain.
Cara Membangun Support System dalam Keluarga
Nampaknya mudah ya Mums dan Dads, tetapi membangun support system dalam keluarga tidak semudah itu. Dukungan ini harus konsisten dan terus menerus, yang mungkin pada suatu saat karena kondisi, bisa berkurang.
Lakukan hal ini untuk membangun support system kuat di keluarga:
1. Membangun komunikasi terbuka
Misalnya dengan saling berbagi pikiran dan perasaan tanpa takut dihakimi.
2. Membagi tugas secara adil
Misalnya pekerjaan rumah dan pengasuhan anak harus dibagi sesuai kemampuan, bukan berdasarkan gender semata.
3. Menyediakan waktu berkualitas
Misalnya makan malam bersama, bermain dengan anak, atau date night bagi pasangan.
4. Menghargai kebutuhan personal
Setiap anggota keluarga membutuhkan waktu untuk diri sendiri, dan ini perlu dihargai.
5. Mengajak anak berpartisipasi
Mums dan Dads dapar mengajari anak mengekspresikan pendapat dan kebutuhan dengan cara positif.
6. Libatkan jaringan sosial yang positif
Misalnya seperti keluarga besar, teman, sekolah, dan komunitas dapat memperkuat support system.
Support system adalah fondasi penting dalam keluarga harmonis dan keluarga samawa. Dukungan emosional, instrumental, dan sosial membantu pasangan membangun hubungan yang solid dan membantu anak tumbuh dengan rasa aman serta kepercayaan diri yang kuat.
Suami dan istri memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan suportif, sementara anak membutuhkan dukungan konsisten dari keluarga inti dan lingkungan sosialnya. Dengan support system yang kuat, keluarga dapat menjadi tempat berlindung sekaligus ruang tumbuh yang sehat bagi semua anggotanya.
Referensi:
1. Jurnal urnal Psikologi Integratif. 2022. Family Resilience of The Aspiring Middleclass Facing Covid-19 : A Mixed Method Study
2. PubMed. 2024. Association of Spousal Social Support in Child-Rearing and Marital Satisfaction with Subjective Well-Being among Fathers and Mothers.
3. Couple and Family Psychology. 2019. Experimental Support for a Family Systems Approach to Child Developme


