Hari pertama sekolah adalah momen yang membahagiakan sekaligus penuh tantangan, baik bagi anak maupun orang tua. Tidak sedikit anak yang menangis saat ditinggal, memeluk erat ibunya, atau bahkan menolak masuk ke kelas. Di sisi lain, ibu sering kali merasa sedih, bersalah, atau khawatir melihat anaknya kesulitan berpisah.
Fenomena ini dikenal sebagai separation anxiety atau kecemasan saat berpisah dengan orang tua. Kondisi ini sebenarnya merupakan bagian normal dari perkembangan anak, terutama ketika mereka memasuki lingkungan baru seperti sekolah.
Lalu, bagaimana sebaiknya orang tua menyikapinya? Kapan kondisi ini masih dianggap wajar, dan kapan perlu mendapatkan perhatian lebih? Simak penjelasannya berikut ini.
Apa Itu Separation Anxiety?
Separation anxiety adalah kondisi ketika anak merasa cemas, takut, atau sedih saat harus berpisah dengan figur yang memberikan rasa aman, biasanya ibu atau ayah. Perasaan ini muncul karena anak belum yakin bahwa orang tua akan kembali setelah meninggalkannya. Bagi anak usia dini, konsep waktu masih belum berkembang dengan baik sehingga beberapa jam di sekolah terasa seperti waktu yang sangat lama.
Separation anxiety merupakan bagian dari perkembangan emosional yang sehat. Justru, kondisi ini menunjukkan bahwa anak memiliki ikatan (attachment) yang kuat dengan orang tuanya.
Dalam penelitian di Jurnal Educatia 21 (2025), ditemukan bahwa anak-anak yang menunjukkan tingkat kecemasan perpisahan yang tinggi akan mengalami kesulitan besar saat harus beradaptasi dengan tugas-tugas sekolah dan akademik, sosialisasi dengan teman, dan mengikuti pelajaran.
Oleh karena itu, jika ada tanda separation anxiety yang berlanjut, orang tua perlu membawa anak berkonsultasi ke ahli, termasuk melibatan pihak sekolah.
Mengapa Hari-Hari Awal Sekolah Menjadi Tantangan?
Bagi anak, sekolah adalah dunia yang benar-benar baru. Mereka harus menghadapi banyak perubahan sekaligus, seperti:
Bertemu orang-orang yang belum dikenal.
Mengikuti aturan yang berbeda dengan di rumah.
Belajar mandiri tanpa didampingi orang tua.
Berbagi perhatian guru dengan teman-teman lain.
Menyesuaikan diri dengan jadwal baru.
Semua perubahan tersebut dapat memicu kecemasan berpisah (separation anxiety), terutama pada anak usia balita dan prasekolah. Kondisi ini merupakan bagian normal dari perkembangan emosional anak.
Tanda-Tanda Anak Mengalami Separation Anxiety
Beberapa tanda yang mungkin muncul pada hari-hari pertama sekolah antara lain:
Menangis saat orang tua hendak pulang.
Memeluk ibu atau ayah dengan erat dan sulit dilepaskan.
Menolak masuk kelas.
Berkali-kali meminta dijemput.
Menjadi lebih rewel di rumah.
Sulit tidur atau lebih sering terbangun di malam hari.
Nafsu makan sementara menurun.
Selama gejala tersebut berangsur membaik dalam beberapa minggu pertama, umumnya tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
Apa yang Harus Dilakukan?
Coba lakukan beberapa hal berikut, Mums:
1. Bangun Antusiasme Sebelum Hari Pertama
Beberapa hari sebelum sekolah dimulai, ajak anak berbicara tentang sekolah dengan nada positif.
Misalnya:
"Nanti di sekolah kamu bisa bermain pasir."
"Kamu akan bertemu banyak teman baru."
"Ada Bu Guru yang akan menemani kamu."
Hindari menggunakan sekolah sebagai ancaman, seperti, "Kalau nakal nanti disuruh sekolah saja!"
Anak akan lebih mudah menerima pengalaman baru jika memiliki gambaran yang menyenangkan.
2. Latih Perpisahan Secara Bertahap
Jika memungkinkan, biasakan anak berpisah dalam waktu singkat sebelum sekolah dimulai.
Misalnya:
Bermain di rumah nenek selama satu jam.
Dititipkan bersama ayah saat ibu keluar sebentar.
Mengikuti kelas bermain singkat.
Pengalaman ini membantu anak memahami bahwa ibu memang pergi, tetapi akan selalu kembali.
3. Buat Rutinitas Pagi yang Tenang
Pagi yang terburu-buru dapat meningkatkan stres, baik pada ibu maupun anak.
Cobalah:
Menyiapkan perlengkapan sekolah sejak malam.
Membangunkan anak lebih awal.
Memberikan waktu untuk sarapan bersama.
Menghindari memarahi anak sebelum berangkat.
Rutinitas yang konsisten membuat anak merasa lebih aman.
4. Berpisahlah dengan Jelas
Saat tiba di sekolah, hindari pergi diam-diam ketika anak sedang lengah.
Meskipun terlihat lebih mudah, cara ini justru dapat membuat anak kehilangan rasa percaya. Anak mungkin akan terus-menerus merasa khawatir ibunya menghilang tanpa pamit.
Lebih baik katakan dengan tenang:
"IMama berangkat kerja dulu, ya. Nanti setelah sekolah selesai, Mama akan menjemput."
Kemudian berikan pelukan, ciuman, dan pamit secara singkat.
5. Jangan Memperpanjang Momen Perpisahan
Melihat anak menangis memang berat. Namun, terus kembali untuk menenangkan anak berulang kali justru dapat membuat proses adaptasi menjadi lebih lama.
Setelah berpamitan dengan hangat, percayakan anak kepada guru. Sebagian besar anak akan mulai tenang beberapa menit setelah orang tuanya pergi.
6. Validasi Perasaan Anak
Jika anak berkata: "Aku takut." Jangan langsung menjawab: "Ah, nggak usah takut."
Sebaliknya, cobalah mengatakan:
"Ibu tahu kamu masih merasa takut."
"Memang rasanya berbeda karena tempatnya baru."
"Tidak apa-apa kalau kamu masih belajar berani."
Dengan begitu, anak merasa emosinya dipahami.
7. Tepati Janji Menjemput
Bagi anak kecil, waktu terasa sangat lama. Karena itu, jika ibu berjanji akan menjemput setelah makan siang atau setelah jam sekolah selesai, usahakan untuk menepatinya.
Konsistensi membangun rasa percaya bahwa orang tua selalu kembali.
8. Luangkan Waktu Berkualitas Setelah Sekolah
Hari-hari awal sekolah sering kali menguras energi emosional anak. Setelah pulang, berikan waktu khusus untuk:
Bermain bersama.
Membaca buku.
Memeluk anak.
Mendengarkan cerita mereka.
Tidak perlu langsung bertanya panjang lebar tentang pelajaran. Terkadang anak hanya membutuhkan waktu untuk merasa tenang kembali.
9. Jangan Membandingkan Anak
Hindari mengatakan:
"Lihat tuh, temanmu nggak nangis."
"Masa kamu masih takut?"
Setiap anak memiliki kecepatan adaptasi yang berbeda. Perbandingan justru dapat membuat anak merasa kurang mampu.
10. Percaya pada Proses Adaptasi
Sebagian besar anak membutuhkan waktu beberapa hari hingga beberapa minggu untuk benar-benar nyaman di sekolah.
Yang terpenting adalah orang tua tetap konsisten memberikan dukungan tanpa terburu-buru menuntut anak langsung berani.
Tanda Secure Attachment Tetap Terjaga
Meski sempat menangis saat berpisah, anak dengan secure attachment umumnya akan menunjukkan beberapa tanda berikut:
Mau ditenangkan oleh guru.
Mulai tertarik bermain.
Senang saat dijemput.
Menceritakan pengalaman di sekolah.
Semakin mudah berpisah dari hari ke hari.
Tangisan di pagi hari bukan berarti anak tidak memiliki secure attachment. Yang lebih penting adalah bagaimana anak kembali merasa aman setelah mendapatkan dukungan dari orang dewasa di sekitarnya.
Kapan Orang Tua Perlu Berkonsultasi?
Pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog anak atau dokter jika:
Anak terus menolak sekolah selama lebih dari beberapa minggu.
Tangisan semakin berat, bukan membaik.
Anak mengalami keluhan fisik berulang seperti sakit perut atau muntah setiap akan sekolah tanpa penyebab medis yang jelas.
Anak tampak sangat cemas hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Guru juga melihat anak kesulitan berinteraksi atau beradaptasi.
Pendampingan sejak dini dapat membantu anak melewati masa transisi dengan lebih baik.
Peran Ayah Juga Tidak Kalah Penting
Meski sering dikaitkan dengan ibu, secure attachment sebenarnya dapat dibangun bersama kedua orang tua. Kehadiran ayah yang hangat, responsif, dan konsisten juga membantu anak merasa aman.
Ayah dapat berperan dengan mengantar sekolah, membacakan buku sebelum tidur, bermain bersama setelah pulang sekolah, atau sekadar mendengarkan cerita anak tentang hari yang telah dilaluinya.
Hari-hari awal sekolah merupakan masa adaptasi yang penuh emosi. Tangisan atau rasa takut saat berpisah adalah hal yang normal dan tidak selalu menandakan anak belum siap sekolah.
Yang paling dibutuhkan anak adalah orang tua yang hadir secara emosional, konsisten, dan memberikan rasa aman. Dengan secure attachment yang kuat, anak akan belajar bahwa meskipun ibu tidak selalu berada di sisinya, ia tetap dicintai, didukung, dan akan selalu memiliki tempat yang aman untuk kembali.
Ketika ibu mampu berpamitan dengan tenang, memvalidasi perasaan anak, serta menjaga rutinitas yang konsisten, anak perlahan akan membangun keberanian untuk menjelajahi dunia baru. Dari sinilah kepercayaan diri, kemandirian, dan kemampuan beradaptasi mulai tumbuh—bekal penting bagi perjalanan belajarnya di masa depan.
Referensi:
Jurnal Educatia 21. 2025. The Impact of Separation Anxiety on School Integration and Academic Performance in Early School-Age Students


