Cara Menerapkan Time-Out dan Time-In untuk Balita

Dipublish: Kamis, 16 April 2026 15:37 WIB

Diperbarui: Senin, 20 April 2026 15:35 WIB

Anak sedang menjalani time-out
Ella Nurlaila

Ella Nurlaila

Bagikan :

Informasi artikel ditinjau oleh

dr. Astrid Sophia

Menghadapi perilaku menantang balita yang sedang hobi tantrum, memukul, atau menolak aturan, sering membuat orang tua bingung. KIra-kira bagaimana cara mengajarkan disiplin yang tepat di usia yang belum 5 tahun. Mums mungkin pernah mendengar dua pendekatan mendisiplinkan anak, dan sering dibahas dalam parenting modern yaitu time-out dan time-in. 


Keduanya sama-sama bertujuan membantu anak belajar mengendalikan perilaku, tetapi dilakukan dengan pendekatan berbeda. Time out adalah memindahkan anak sementara dari aktivitasnya, bukan sebagai hukuman tetapi lebih kepada mendisiplinkan perilaku. Sedangkan Time in sebaliknya,  pendekatan disiplin yang menekankan kedekatan emosional antara orang tua dan anak, di mana orang tua tetap mendampingi si Kecil. 


Lalu, mana yang lebih efektif untuk toddler? Untuk menjawabnya, di artikel ini akan dijelaskan tentang memahami konsep keduanya serta temuan penelitian yang ada.


Apa Itu Time-Out?

Time-out adalah strategi disiplin di mana saat anak berperilaku agresif, ia dipindahkan sementara ke suatu tempat yang tenang, agar situasi tidak semakin bertambah buruk, apalagi jika ia ada di tempat umum. Kalau kejadiannya berlangsung di rumah, biasanya anak diminta duduk di tempat tertentu selama beberapa menit hingga ia tenang.

Tujuan utama time-out adalah menghentikan perilaku negatif dan memberi waktu anak untuk menenangkan diri sebelum kembali ke aktivitas.  Strategi ini sudah digunakan sejak lama dalam pendekatan behavioral parenting. Banyak penelitian menunjukkan bahwa time-out dapat membantu mengurangi perilaku bermasalah pada anak, terutama jika diterapkan secara konsisten dan tidak dengan emosi. 

Apakah time out ini benar efektif? Menurut penelitian yang dikutip di sebuah artikel TheMomsPsychologist (2025), di antara keluarga yang melaporkan menggunakan hukuman time-out sebagai disiplin, anak-anak tidak berisiko lebih tinggi mengalami kecemasan, depresi, agresi, perilaku melanggar aturan, atau masalah pengendalian diri dibandingkan dengan anak-anak yang berasal dari keluarga yang tidak menerapkan time-out. 


Penelitian lain juga menunjukkan bahwa program parenting yang memasukkan teknik time-out dapat membantu menurunkan masalah perilaku anak, bahkan pada anak yang memiliki pengalaman stres atau kesulitan hidup. 

Namun, efektivitas time-out sangat bergantung pada cara penerapannya. Jika dilakukan dengan marah, terlalu lama, atau terlalu sering, teknik ini bisa kehilangan manfaatnya.

Apa Itu Time-In?

Berbeda dengan time-out, time-in adalah pendekatan disiplin yang menekankan kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Ketika anak melakukan kesalahan atau tantrum, Mums tidak meninggalkan si Kecil, tetapi tetap berada di dekatnya untuk membantu menenangkan emosi dan memahami perasaannya.

Menurut jurnal NCBI (2022) time-in ini merupakan teknik alternatif setelah time-out yang merupakan metode disiplin non-hukuman utama selama lebih dari 60 tahun, telah dikritik karena mengisolasi dan menjauhkan anak-anak dari orang lain. 


Prosedur ini bertujuan untuk membantu anak terhubung dengan orang tua, mengomunikasikan perasaan mereka, dan belajar bagaimana mengatur diri sendiri.  Biasanya time-in melibatkan langkah seperti:

  • Mengajak anak duduk bersama

  • Memberi pelukan atau sentuhan menenangkan

  • Membantu anak menamai emosinya

  • Mengajarkan cara merespons situasi dengan lebih baik

Pendekatan ini banyak digunakan dalam parenting berbasis attachment atau hubungan emosional antara orang tua dan anak.


Namun, dibandingkan time-out, penelitian ilmiah tentang time-in masih jauh lebih sedikit. Beberapa literatur menyebutkan bahwa time-in membantu meningkatkan komunikasi dan kedekatan emosional antara orang tua dan anak, tetapi bukti ilmiah mengenai efektivitasnya dalam mengurangi perilaku bermasalah masih terbatas. 

Karena itu, sebagian ahli melihat time-in lebih sebagai strategi regulasi emosi, bukan sekadar teknik disiplin.

Kelebihan dan Kekurangan Masing-Masing

Time out memiliki kelebihan karena dianggap efektif menghentikan perilaku negatif dengan cepat, mudah diterapkan dan dipahami anak dan sudah banyak didukung cukup banyak penelitian ilmiah. Namun ada kekurangan dari metode time-out antara lain:

  • Jika dilakukan dengan cara yang salah dapat terasa seperti hukuman

  • Tidak selalu membantu anak memahami emosinya

Sedangkan Time-In memiliki kelebihan karena bisa membantu anak belajar mengenali dan mengelola emosi dan memperkuat hubungan emosional orang tua dan anak. Metode ini cocok untuk anak yang sedang tantrum karena emosi besar. Namun Time-in juga memiliki kekurangan, antara lain membutuhkan kesabaran dan waktu lebih banyak dan belum banyak penelitian ilmiah yang membuktikan efektivitasnya dalam mengubah perilaku


Metode yang Lebih Efektif untuk Balita

Tidak ada satu metode yang selalu paling benar untuk semua anak. Banyak ahli perkembangan anak justru menyarankan menggunakan kombinasi pendekatan, tergantung situasi. Beberapa panduan umum yang sering direkomendasikan antara lain:

  • Gunakan time-in ketika anak sedang emosional, misalnya saat tantrum, sedih, atau frustrasi. Tujuannya membantu anak belajar menenangkan diri.

  • Gunakan time-out untuk perilaku yang berbahaya atau agresif, seperti memukul, menggigit, atau melempar benda.

  • Tetap jelaskan kepada anak setelah situasi tenang tentang perilaku yang diharapkan.

Selain itu, disiplin pada toddler sebaiknya selalu dimulai dengan strategi positif, seperti memberikan contoh perilaku baik, memberi pujian, serta mengalihkan perhatian anak sebelum perilaku negatif muncul. 

Baik time-out maupun time-in memiliki tujuan yang sama, yaitu membantu anak belajar mengontrol perilaku dan emosi. Penelitian menunjukkan bahwa time-out yang diterapkan dengan benar dapat efektif dan tidak menimbulkan dampak negatif jangka panjang. Namun, pendekatan ini sebaiknya tidak digunakan secara berlebihan.

Di sisi lain, time-in membantu anak belajar mengenali emosi dan memperkuat hubungan dengan orang tua, meskipun penelitian ilmiahnya masih terbatas.

Pendekatan yang paling efektif biasanya bukan memilih salah satu secara mutlak, melainkan mengombinasikan keduanya sesuai kebutuhan anak dan situasi yang dihadapi. Dengan cara ini, orang tua tidak hanya mengoreksi perilaku anak, tetapi juga membantu perkembangan emosionalnya.


Referensi:

1. Themompsychologist. 2025. Do Time-out work? Or are they harmfull?

2. NCBI. 2022. Is It Time for “Time-In”?: A Pilot Test of the Child-Rearing Technique

Kasih Saran, Yuk!