Kesalahan Orang Tua Saat Mendampingi Anak Belajar Makan

Dipublish: Jumat, 20 Februari 2026 16:07 WIB

Diperbarui: Jumat, 20 Februari 2026 15:06 WIB

Ibu mendampingi anak makan
Ella Nurlaila

Ella Nurlaila

Bagikan :

Informasi artikel ditinjau oleh

dr. Astrid Sophia

Mealtime atau sesi makan dengan si Kecil, sering terlihat sederhana: duduk bareng, makan, lalu selesai. Padahal kenyataannya? Banyak orang tua yang tanpa sadar, melakukan kesalahan memberi makan atau saat mendampingi anaknya makan. 


Sayangnya kesalahan ini bukan sekadar anak susah makan, tapi sebenarnya lebih dari itu. bahkan bisa berpengaruh pada hubungan anak dengan makanan hingga kebiasaan makannya hingga dewasa nanti. 


Kesalahan memberi makan yang sering dilakukan


Sebelum masuk ke kesalahan memberi makan, ada baiknya Mums perlu paham dulu bahwa anak belajar makan bukan hanya dari makanan di piring, melainkan dari banyak hal. Seperti konteks lingkungan makan termasuk cara orang tua mendampingi mereka. 


Penelitian PubMed (2019) menunjukkan bahwa cara orang tua memberi makanan dan menanggapi perilaku makan anak benar-benar berdampak pada perilaku makan anak itu sendiri — baik positif maupun negatif. 


Artinya, bukan hanya apa yang dimakan anak, tapi bagaimana orang tua mendampingi makan, itu yang turut membentuk kebiasaan makan anak.


Berikut ini kesalahan memberi makan anak yang sering dilakukan : 


1. Memaksa anak untuk makan

Ini mungkin yang paling sering orang tua lakukan, memaksa anak menghabiskan makanannya lengkap dengan ancaman. Padahal semakin dipaksa, justru anak semakin menolak menolak makanan tertentu. 


Kenapa ini buruk? Sebab anak makan karena terpaksa, bukan karena lapar atau penasaran. Anak mengasosiasikan makan dengan “tekanan” bukan kesenangan. 


Tips untuk orang tua, gunakan kalimat motivasi yang lembut, misalnya: “Yuk, coba sendok sayurnya itu, Bunda yakin kamu bisa!” Daripada langsung menyuruh “Habiskan semuanya!”


2. Menggunakan makanan sebagai imbalan atau hukuman

“Kalau kamu habis makan sayur, boleh es krim.”

“Kalau nggak makan, nggak ada dessert!”


Kedengerannya efektif sebentar, tapi menggunakan makanan sebagai reward atau punishment justru bisa memicu hubungan emosional yang tidak sehat dengan makanan. Anak bisa mulai berpikir: “Makanan enak itu cuma hadiah kalau aku patuh.” 


Efeknya anak hanya mau makan kalau ada hadiah. Makanan “diblokir” kalau dianggap bukan reward dan anak menolak makanan sehat karena tidak ada “imbalan.”


Cara yang lebih aman: gunakan pujian non-food (misalnya tepuk tangan kecil, stiker, komentar positif) untuk memotivasi anak mencoba makanan baru.


3. Terlalu banyak aturan 

Sering mendengar

“Sayur itu baik"

"Gorengan itu buruk"

”Kamu harus makan ini biar sehat.”

“Nanti kamu sakit kalau nggak makan sayur!”


Penelitian immunologi perilaku makan yang dimuat di The Sun (2025) menunjukkan bahwa label makanan “baik vs buruk” dapat membuat anak merasa emosional terhadap makanan, bahkan mendorong perilaku makan yang tidak seimbang. Anak bisa mulai berpikir makanan itu punya moral (‘baik/buruk’) dan merusak hubungan positif mereka dengan makanan. 


Solusinya: Gunakan istilah netral dan positif, contoh: “Ini sayur wortel yang krispi!” atau “Ini daging ayam yang bikin kamu kuat!”


4. Tidak menjadi panutan yang konsisten

Anak melihat, meniru, dan belajar dari perilaku orang tua, termasuk cara makan. Kebiasaan makan orang tua akan ditiru oleh anaknya. Jika Mums sendiri jarang makan sayur atau selalu pilih makanan cepat saji, anak kemungkinan besar ikut-ikutan. Sebaliknya, orang tua yang memberi contoh sehat cenderung menggunakan motivasi positif buat anak makan lebih sehat. Food modeling — istilah keren buat gaya makan yang ditiru anak, itu nyata dan penting.


5. Over-control atau terlalu mengatur

Misalnya terlalu memilih makanan yang boleh dimakan, terlalu ketat soal porsi, tidak memberi pilihan kepada anak. Riset MDPI (2024)menunjukkan bahwa kontrol yang terlalu kuat sering dikaitkan dengan masalah makan seperti picky eating atau pola makan yang tidak fleksibel, karena anak tidak belajar mengambil keputusan soal makan sendiri. 


Solusinya, berikan pilihan sehat yang terbatas agar anak merasa punya pilihan. Misalnya: “Mau brokoli atau kacang polong di piringmu?” Dengan begitu anak belajar memilih — tanpa tekanan.


6. Fokus ke jumlah bukan kualitas

Orang tua sering merasa bangga ketika anaknya makan banyak, padahal yang lebih penting adalah apa yang dimakan dan bagaimana konteks makan itu terjadi. Penelitian MDPI (2020) menunjukkan bahwa cara orang tua memandang makan — memengaruhi kualitas diet anak dari waktu ke waktu. 


Mendorong makan sayur secara positif lebih penting daripada sekadar “habiskan semua makanan di piring.” Selain itu membantu anak mengenal berbagai rasa dan tekstur dengan cara yang menyenangkan lebih berdampak daripada fokus hitungan porsi aja.. Kenali tanda lapar/kenyang dari anak, jangan paksa mereka menghabiskan piring. 


Mums, memberi makan si Kecil adalah kesempatan anak belajar sikap terhadap makanan, tubuhnya, dan emosi makan. Kesalahan yang terjadi bukan karena orang tua tidak peduli, tetapi karena melakukan dengan cara yang kurang tepat, berdasarkan asumsi, atau kebiasaan yang kurang efektif bahkan kontra produktif. 


Ingat ya Mums, pilih kata yang positif, jadilah contoh yang baik, hindari tekanan, imbalan, atau hukuman lewat makanan, ajak anak untuk ikut proses (memilih, menyiapkan), dan fokus ke kualitas dan pengalaman makan bersama. 



Referensi : 

1. PubMed. 2019. Effect of Parental Feeding Practices (i.e., Responsive Feeding) on Children's Eating Behavior. 

2. The Sun. 2025. The 6 things parents should NEVER do at mealtimes to prevent fussy eaters - and 6 ways to stop it spiralling into tears.

3. MDPI. 2024. Impact of Dietary Coparenting and Parenting Strategies on Picky Eating Behaviors in Young Children.

4. MDPI. 2020. Associations of Early Parental Concerns and Feeding Behaviors with Child’s Diet Quality through Mid-Childhood.

Kasih Saran, Yuk!