Trik Menghadapi Si Kecil yang Suka Bertanya "Kenapa?"

Dipublish: Rabu, 7 Januari 2026 17:26 WIB

Diperbarui: Selasa, 6 Januari 2026 22:36 WIB

Anak suka bertanya
Ella Nurlaila

Ella Nurlaila

Bagikan :

Informasi artikel ditinjau oleh

dr. Astrid Sophia

“Ibu, kenapa aku harus pakai topi ini?” 

“Biar kamu tidak kepanasan.”

“Kalau kepanasan emangnya kenapa?”

“Kenapa temanku tidak pakai topi?” 


Dialog semacam itu sangat sering ditemui sehari-hari. Semua hal ditanyakan kenapa. Fase ini akan dialami oleh hampir semua orang tua. Kondisi ini memang sesuatu yang normal dalam tumbuh kembang anak, walaupun menguji kesabaran orang tua untuk mau meladeni setiap kali anak sering bertanya kenapa. 


Menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam National Library of Medicine bahwa anak usia pra-sekolah (2–5 tahun) sering bertanya kenapa bukan untuk memperpanjang percakapan, tetapi karena mereka benar-benar mencari penjelasan yang bermakna. Anak-anak ini ingin memahami masalah yang mendasari suatu fenomena, bukan sekadar respons sosial. 


Pertanyaan adalah bentuk pembelajaran aktif: Ketika anak bertanya dan menerima penjelasan bermakna, mereka mengembangkan koneksi otak yang lebih kompleks dan kemampuan memecahkan masalah. Jadi, alih-alih melihatnya sebagai bentuk membantah atau melawan, fase ini justru menandakan perkembangan kognitif dan bahasa anak sedang melesat pesat.


Alasan anak mulai sering bertanya  kenapa


Pada usia sekitar 2 tahun, anak biasanya memiliki kosakata sekitar 50 kata dan mulai mampu menyusun kalimat sederhana dua hingga empat kata. Namun, pertanyaan “kenapa” yang muncul terus-menerus umumnya mulai terlihat jelas menjelang usia 3 tahun.


Yang terjadi pada anak di usia ini adalah kosakata anak meningkat pesat hingga lebih dari 200 kata, anak mampu berdialog, melakukan percakapan dua arah, dan kemampuan berpikir sebab–akibat mulai berkembang. Artinya, anak bukan sekadar meniru kata “kenapa”, tetapi sudah mulai menyadari bahwa segala sesuatu memiliki alasan.


Meski terasa melelahkan dan kadang bikin emosi, sebenarnya anak tidak sedang membuat orang tuanya frustrasi. Sebab ada alasan logis di balik kebiasaan anak sering bertanya kenapa, yaitu : 


1. Rasa ingin tahu yang tulus 

Balita adalah pembelajar alami. Mereka ingin memahami apa yang dilihat, didengar, dan dialaminya sendiri. Pertanyaan “kenapa” adalah cara si Kecil belajar. Ia sedang mencoba memahami dunia dan membangun logika dasar. Jadi, anak yang sering bertanya adalah anak yang sedang belajar. 


2. Perkembangan bahasa dan kognitif

Bertanya “kenapa” adalah bagian dari tonggak perkembangan penting. Ini tandanya anak sadar bahwa ia belum tahu sesuatu, tahu kepada siapa mesti bertanya, dan mampu menyusun pertanyaan abstrak. Dari sudut pandang perkembangan, ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir anak tidak lagi sekadar konkret, tetapi mulai reflektif dan analitis.


3. Mencari perhatian dan interaksi

Selain ingin tahu, anak juga belajar bahwa satu kata sederhana “kenapa” bisa mendapatkan perhatian orang tua, memancing respons, dan memperpanjang interaksi. Bagi anak yang masih belajar seni percakapan, ini adalah pengalaman sosial yang sangat berharga. 


4. Menguji batasan dan dinamika sosial

Kadang, pertanyaan “kenapa” muncul saat anak diminta melakukan sesuatu. Seperti mandi, makan sayur, tidur, atau membereskan mainan. Di sinilah orang tua sering merasa anak “membantah”. Padahal, anak sedang menguji aturan, belajar memahami alasan di balik batasan. 


Trik menjawab anak yang sering bertanya kenapa 

Setelah mengetahui alasan logis anak sering bertanya kenapa, sekarang saatnya Mums mengetahui trik menyiasatinya tanpa harus mengecewakan si Kecil. Berikut ini langkah yang bisa dilakukan : 


1. Hindari jawaban, “Karena Mama bilang begitu”

Jawaban ini memang menghentika pertanyaa, tetapi juga menghentikan rasa ingin tahu si Kecil. Mengirim pesan bahwa pertanyaan anak tidak penting dan melemahkan motivasi belajarnya. Jika memungkinkan, beri penjelasan sederhana sesuai usia anak. 


2. Balikkan pertanyaan ke anak

Tidak ada salahnya sesekali, coba bertanya balik: “Menurut kamu kenapa langit warnanya biru?” “Kalau kamu yang jawab, kenapa ya es krim tidak boleh sebelum makan?” Cara ini melatih anak untuk berpikir kritis, membuat hipotesis, dan melihat suatu masalah dari sudut pandang lain. Namun, jangan memaksa si Kecil jika tampak lelah dan frustrasi. 


3. Cari jawaban bersama

Jika Mums tidak tahu jawabannya, tidak apa-apa mengakuinya. Lebih baik ajak anak membaca buku, mencari bersama jawabannya, atau bertanya pada orang yang ahli. Ini mengajarkan bahwa belajar adalah proses, bukan sekadar tahu atau tidak tahu.


4. Sesuaikan panjang jawaban dengan situasi

Tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban panjang. Kadang, jawaban singkat sudah cukup, terutama jika sedang terburu-buru. Yang terpenting, anak tetap merasa didengar dan dihargai.


Mums, itulah strategi menghadapi anak sering bertanya kenapa. Meski fase ini melelahkan, manfaatnya akan terasa sepanjang hidup anak. Dengan respons dan perhatian yang tepat, hal ini akan menumbuhkan kecintaan anak pada proses belajar. Jadi, saat si Kecil bertanya kenapa untuk kesekian kalinya, tarik napas, berikan respons dan jawaban terbaik. 



Referensi : 

Pubmed. Effects of explanation on children's question asking

Kasih Saran, Yuk!