Kesalahan Parenting Anak Usia Sekolah Dasar yang Sering Dilakukan

Dipublish: Rabu, 18 Februari 2026 10:53 WIB

Diperbarui: Senin, 2 Maret 2026 16:40 WIB

Anak usia sekolah dasar
Ella Nurlaila

Ella Nurlaila

Bagikan :

Informasi artikel ditinjau oleh

dr. Astrid Sophia

Mengasuh anak usia sekolah dasar atau usia 6–12 tahun bukan sekadar mengurus kebutuhan fisiknya saja. Melainkan kebutuhan lain, seperti perhatian, kasih sayang, kehadiran, juga dukungan moral yang tidak kalah pentingnya. 


Pada fase perkembangan ini, anak mulai menghadapi tugas sosial, akademik, dan emosional yang lebih kompleks. Orang tua sering tanpa sadar melakukan kesalahan pengasuhan yang, meskipun bermaksud baik, justru dapat menghambat perkembangan anak. 


Bentuk kesalahan umum parenting yang dilakukan orang tua


Sering kali orang tua tidak menyadari bahwa apa yang dilakukan terhadap anaknya adalah bentuk parenting yang salah. Sehingga kesalahan tersebut terjadi berulang kali atau dalam waktu yang lama dan dinormalisasi sebagai sebuah kebenaran. 


Berikut ini beberapa bentuk kesalahan parenting yang terkadang dilakukan orang tua terhadap anaknya yang masih duduk di bangku SD: 


1. Aturan tidak konsisten

Beberapa orang tua menetapkan aturan di rumah, namun tidak secara konsisten. Misalnya, hari ini boleh main gadget lama, besok dibatasi ketat tanpa penjelasan. Ketidakkonsistenan ini dapat membingungkan anak dan membuat mereka sulit memahami batasan perilaku yang diharapkan. Studi IJEIECE (2023) menemukan bahwa inkonsistensi aturan cenderung terkait dengan perilaku problematik pada anak karena anak belajar bahwa aturan itu fleksibel dan tidak penting. 


2. Otoriter 

Sikap otoriter yang diterapkan orang tua adalah bentuk parenting yang salah karena memaksakan aturan yang keras dan tidak memberi ruang diskusi atau penjelasan. Studi pada NCBI (2022) menyatakan bahwa gaya pengasuhan yang sangat restriktif atau membatasi berlebihan sering dikaitkan dengan kepatuhan jangka pendek dan tidak efektif dalam membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir mandiri. 


3. Permissif atau terlalu longgar

Kebalikan dari pola asuh otoriter yang serba melarang dan membatasi, pola asuh permisif atau terlalu longgar karena tidak ada aturan jelas yang diterapkan. Biasanya parenting yang salah ini justru dilakukan oleh orang tua yang terlalu hangat, sehingga tanpa batasan dan bisa memicu anak menjadi sulit diatur, baik di rumah maupun di sekolah. 


4. Gadget tanpa pengawasan 

Kesalahan lain yang makin umum di era digital adalah digital parenting yang kurang tepat. Misalnya membiarkan anak pakai gadget berlebihan tanpa pengawasan. Atau menggunakan gadget sebagai alat “menenangkan”. 


Padahal menurut Meta-analisis di Sciencedirect (2025) menunjukkan bahwa digital parenting yang tepat sangat memengaruhi kesejahteraan anak secara emosional dan perilaku. Sebaliknya tanpa strategi yang tepat justru dapat memperburuk kondisi mereka. 


Penyebab terjadinya kesalahan parenting

Kesalahan parenting jarang terjadi karena orang tua “buruk”. Banyak faktor yang membuat orang tua terjebak dalam pola yang kurang efektif ini, seperti:


1. Kurangnya pengetahuan parenting yang tepat

Tidak semua orang tua belajar tentang pola asuh efektif. Banyak yang mengikuti pola mereka dulu dibesarkan atau mengandalkan naluri semata tanpa dasar bukti ilmiah.


2. Pengaruh stres dan tuntutan zaman 

Orang tua di era sekarang menghadapi tuntutan kerja, sosial media, dan stres ekonomi yang tinggi. kondisi ini dapat emengaruhi kesabaran dan gaya respons orang tua terhadap anak. Misalnya, ketika orang tua terlalu fokus pada ponsel sehingga mengabaikan interaksi dengan anak. 


3. Tekanan akademik dan ekspektasi tinggi

Beberapa orang tua terobsesi dengan prestasi akademik tanpa memberi perhatian yang cukup pada perkembangan emosional atau sosial. Ini bisa membuat anak merasa selalu tidak cukup dan malah memicu stres akademik.


4. Ketidaktahuan tentang Era Digital

Banyak orang tua yang merasa kewalahan mengikuti perkembangan teknologi dan tidak menerapkan digital parenting yang efektif. Ini membuat anak memiliki kebiasaan screen time tinggi tanpa pengawasan sesuai usianya. 


Mums, untuk mengatasi kesalahan parenting ini, terapkan gaya pengasuhan authoritative, yaitu pengasuhan tegas namun hangat dan suportif. Ini dianggap paling efektif untuk perkembangan anak yang sehat, baik sosial maupun akademik. Buat aturan yang jelas disertai alasan yang logis, berikan dukungan emosional. Selain itu konsisten dalam penerapan aturan, belajar tentang digital parenting yang tepat, dan jadilah teladan yang baik untuk anak-anak. 


Dengan refleksi diri, belajar pola pengasuhan berbasis bukti, dan menerapkan aturan serta keterlibatan yang sehat, orang tua bisa meminimalkan dampak negatif dari kesalahan parenting yang terjadi. Sebagai upaya membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, dan sehat, Mums juga dapat membaca informasi lengkap mengenai parenting anak usia sekolah dasar di website Teman Bumil & Parenting.


Referensi : 

1. IJEIECE. 2023. "Can The Inconsistency of Rules Between Parents and School"

2. NCBI. 2022. "Types of Parenting Styles and Effects on Children - StatPearls"

3. Sciencedirect. 2025. "Meta-analysis of associations between digital parenting"

Kasih Saran, Yuk!