Banyak orang tua beranggapan parenting anak usia 5–10 tahun relatif lebih mudah karena tidak serentan masa-masa balita atau bayi. Mums, anggapan ini sebenarnya keliru. Justru inilah fase paling penting karena di sinilah dibentuknya fondasi awal kepribadian, cara berpikir, dan cara mengelola emosi anak yang akan jadi bekal sepanjang hidupnya nanti.
Jadi, parenting anak usia 5-10 tahun adalah masa super penting untuk tumbuh kembang si Kecil. Di rentang usia ini anak tidak cuma makin pintar secara akademik, tapi juga lagi belajar bagaimana cara bersosialisasi, menyelesaikan masalah, mengatur emosi, dan juga membangun kemandirian.
Perubahan dan tantangan tumbuh kembangnya juga tidak bisa dianggap enteng, karena cukup kompleks — jadi parenting yang efektif bukan cuma soal “memberi makan, memberikan pendidikan, lalu selesai.” Jika parenting-nya tepat, anak akan tumbuh percaya diri, mandiri, dan tangguh.
Dalam artikel ini akan dibahas semuanya, mulai dari kondisi psikologis khas umur 5–10 tahun, strategi parenting sesuai rekomendasi para pakar, dan hal-hal yang justru perlu dihindari agar tidak terjebak pada kesalahan parenting yang berakibat fatal, baik untuk anak maupun untuk orang tua.
Kondisi psikologis anak 5–10 tahun, lebih dari sekadar “Anak SD”
Anak usia 5-10 tahun bukan hanya kondisi fisiknya yang bertumbuh, makin besar dan makin tinggi. melainkan psikologisnya juga berubah. Perubahan ini begitu nyata, sehingga orang tua mestinya memahami perubahan tersebut dan mengubah mindset tentang cara mendidik anak jadi lebih efektif, lebih sabar, dan lebih terarah.
Di rentang usia ini, bagian otak prefrontal cortex berkembang pesat. Ini adalah area yang bertangung jawab atas: fokus dan konsentrasi, perencanaan, kontrol impuls, kemampuan menunda keinginan, serta pengambilan keputusan.
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian dari PubMed (2024) yang menyebutkan bahwa terdapat aktivasi signifikan di prefrontal cortex, yaitu bagian otak terdepan yang berfungsi sebagai pusat eksekutif, seperti merencanakan masa dean, mengambil keputusan, mengatur emosi, fokus, dan perilaku sosial. Kemampuan kontrol diri terus berkembang sepanjang usia ini. juga pola aktivitas otak berubah konsisten seiring bertambahnya kemampuan kognitif anak.
Nah, jika Mums melihat anak mudah terdistraksi, tidak sabaran, atau emosinya naik turun, itu bukan karena anak bandel melainkan karena otaknya masih berkembang. Peran orang tua di sini adalah melatih, bukan menghukum.
Fakta lainnya, sejak umur sekitar 5 tahun, kemapuan otak untuk mengatur diri sendiri makin berkembang. Ini termasuk fokus dan konsentrasi, kemampuan menunda kepuasan (delay of gratification), perencanaan dan problem-solving, juga mengontrol emosi.
Studi PMC (2022) menunjukkan bahwa gaya parenting tertentu, khususnya authoritative parenting (gabungan kelembutan dan batasan yang jelas), terkait dengan kemampuan anak dalam perencanaan, memori prospektif, dan kontrol diri. Anak yang diasuh dengan gaya ini biasanya lebih siap secara kognitif buat tugas sekolah dan tantangan sosial.
Jadi, ini bukan hanya teori ya Mums, melainkan sudah dibuktikan lewat penelitian ilmiah yang melihat hubungan antara pola asuh yang diterpkan orang tua dalam membesarkan anaknya. Misalnya dalam perencanaan atau menunda keinginan.
Perkembangan sosial dan emosional yang makin kompleks
Harus diakui sebagian besar anak usia 7–10 tahun makin cakap dalam hal memahami perasaan orang lain (empati) dan membentuk pertemanan yang lebih stabil. Mereka juga makin peka terhadap aturan sosial, ekspektasi teman, dan feedback lingkungan sosialnya.
Hal ini ini bikin mereka jadi lebih paham konsep adil dan tidak adil, merespons kritik atau pujian lebih dalam, dan sadar akan status sosial juga peer pressure.
Bahkan penelitian terbaru dari MDPI Behavioral Science (2026) menunjukkan bahwa pola asuh orang tua berpengaruh besar pada kecerdasan emosional anak — dan kecerdasan emosional itu sendiri memengaruhi perilaku prososial seperti berbagi, kerja sama, dan empati.
Penelitian ini kasih bukti bahwa gaya asuh yang demokratis atau positif mendukung perkembangan kecerdasan emosional anak, sedangkan gaya asuh yang permisif atau otoriter sering berpengaruh buruk.
Memang tidak bisa dipungkiri anak usia sekolah sudah punya emosi yang kompleks, tapi belum selalu tahu cara mengelolanya. Mereka bisa marah tapi bingung kenapa, sedih tapi malu ngomong, cemburu tapi takut dianggap jelek.
Jika orang tua mengecilkan emosinya dengan bilang, “Ah gitu aja nangis,” atau menyuruh anak cepat tenang tanpa dipahami terlebih dahulu, maka anak belajar satu hal berbahaya, yaitu “emosiku tidak penting.”
Padahal berbagai literatur menunjukkan bahwa anak yang emosinya divalidasi akan lebih cepat pulih dari stress, lebih mampu mengontrol amarah, lebih percaya diri mengekspresikan perasaan.
Attachment, rasa aman, dan tekanan teman sebaya
Rasa aman yang dibangun sejak kecil melalui attachment atau kelekatan antara orang tua dan anak akan tetap memengaruhi anak sampai usia sekolah. Anak yang merasa aman biasanya lebih percaya diri, lebih mudah mengatur emosi, lebih siap berinteraksi sosial. Jadi, ibarat fondasi rumah, kalau pondasinya kuat, yang dibangun di atasnya lebih tahan goncangan.
Selain attachment dan rasa aman, di usia ini anak mulai terpengatuh oleh teman sebaya. Anak mulai membandingkan diri dengan teman, peduli pendapat orang lain, sensitif pada ejekan atau penolakan.
Masalah seperti minder, takut salah, ingin diterima. Mums, hal ini normal, bukan tanda anak lemah. Karena itu yang bisa orang tua lakukan adalah menjadi safe place, yaitu tempat pulang yang aman dan bikin anak bercerita dengan nyaman tanpa takut dihakimi.
Tips efektif parenting anak usia 5–10 tahun
Jika Mums ingin anak tumbuh cerdas, mandiri, dan percaya diri, berikut ini strategi parenting yang sangat cocok untuk rentang usia 5–10 tahun :
1. Terapkan authoritative parenting
Dalam dunia psikologi, authoritative parenting ini merupakan gaya parenting yang sering dianggap paling efektif. Yaitu pengasuhan yang hangat dan responsif secara emosional, menetapkan aturan yang jelas, konsisten dalam disiplin, tetap memberi ruang anak belajar mandiri.
Sebab menurut Researchgate (2022) dengan authoritative parenting ini memungkinkan perkembangan kognitif yang lebih baik, regulasi emosi yang lebih stabil, perilaku sosial yang lebih adaptif, serta kemampuan problem-solving yang lebih matang. Gaya parenting seperti ini juga merupakan salah satu cara agar anak cerdas dan mandiri.
Jadi bukan “keras atau lunak saja,” melainkan seimbang antara kasih sayang dan aturan.
2. Bantu anak kembangkan “Executive Function”
Seperti disebut di atas, kemampuan mengatur diri sendiri sangat penting di usia sekolah. Ini bisa dilatih lewat berbagai cara, seperti permainan strategi sederhana, tugas yang perlu perencanaan (misalnya menyusun jadwal mingguan), tugas rumah yang bertahap (mandi sendiri → beresin kamar → bantu masak sederhana), waktu wajib tidak menggunakan gadget.
Kegiatan seperti itu bantu anak belajar cara menunda keinginan, fokus, dan berpikir sebelum bertindak.
3. Ajak anak ambil bagian dalam keputusan
Sadar atau tidak, hal ini bikin anak merasa dihargai, meningkatkan rasa kepercayaan diri anak, dan membantu mereka belajar tanggung jawab.
Contohnya: mau pakai baju apa hari ini? Mau mengerjakan PR dulu atau main dulu? Mau bantu membersihkan ruang tamu atau dapur setelah makan?
Kegiatan-kegiatan kecil ini melatih kontrol diri, decision-making, inisiatif, dan juga kepercayaan diri, rentetan skill penting buat masa remaja dan dewasa. Kesalah orang tua, mengambil alih tugas anak, “Biar cepat, Mama aja.” Padahal tiap kali diambil alih, anak kehilangan kesempatan belajar.
4. Ajar anak mengenali dan mengatur emosi
Usia sekolah makin banyak tantangan, seperti konflik dengan teman, nilai yang turun, perasaan kecewa, dan lain-lain. Anak perlu diajari tentang nama-nama emosi, mengenali apakah mereka marah/sedih/cemas, dan strategi mengatasinya. Misalnya, tarik napas, bicara ke orang tua, atau menulis.
Mums, kecerdasan emosional tidak datang sendiri karena butuh model dari orang tua dan latihan berulang. Itu sebabnya gaya asuh yang hangat, responsif, dan tidak langsung marah akan sangat membantu. Mums dapat membaca artikel cara menghadapi anak yang susah diatur berikut ini untuk memandu si Kecil cara mengenali emosinya.
5. Belajar dari banyak hal setiap hari
Belajar itu bukan cuma di sekolah. Orang tua bisa mengajak anak membaca bersama sebelum tidur, berdiskusi tentang kejadian harian, jelaskan “kenapa ini terjadi?” bukan cuma “apa yang terjadi”
Pendekatan semacam conversational learning ini mendukung perkembangan bahasa, logika, dan rasa ingin tahu anak.
6. Fasilitasi interaksi sosial positif
Pergaulan dengan teman sebaya sangat penting buat anak usia 5–10 tahun. Interaksi ini melatih kerja sama, negosiasi, berbagi, dan menyelesaikan konflik. Jadi, penting bagi orang tua untuk menyediakan waktu dan ruang anak berinteraksi lewat playdate, kegiatan luar rumah, atau olahraga.
Hal yang perlu dihindari dalam parenting anak usia 5–10 tahun
Kadang orang tua berpikir tindakan tertentu akan membantu anak, padahal justru sebaliknya, bisa merusak. Seperti hal-hal yang perlu dihindari dalam parenting anak usia 5-10 tahun berikut ini :
1. Overparenting
Terlalu turun tangan berlebihan atau overparenting ini merupakan situasi ketika orang tua ikut campur dalam segala hal. Misalnya menyelesaikan PR anak, memilih teman mereka, atau mengatur setiap detail kecil. Overparenting bisa mengurangi kesempatan anak belajar mandiri dan mengatur antisipasi terhadap tantangan.
2. Rajin beri perintah
Alih-alih bangun komunikasi yang berkualitas, orang tua lebih banyak kasih perintah. Padahal anak butuh ngobrol dari hati ke hati. Coba biasakan tanya, “Hari ini apa yang paling bikin kamu senang?” Bukan cuma, “Tugasnya sudah selesai?” Mums, percakapan yang berkualitas dan dari hati ke hati akan meningkatkan kemampuan bahasa anak, menumbuhkan empati, dan membangun kelekatan emosional.
3. Menghina, mengabaikan, atau keras tanpa penjelasan
Menurut NCBI (2022), pola asuh otoriter yang keras tanpa penjelasan sering dikaitkan dengan penurunan kemampuan berpikir kritis, rendahnya kemandirian, lebih tinggi perilaku emosional negatif. Sebaliknya, pola asuh permisif (terlalu lembut tanpa batasan) membuat anak kurang mampu mengatur diri sendiri.
Misalnya pada kasus anak mogok sekolah, alih-alih memaksa atau memarahinya, Mums dapat menggali lebih dalam lewat diskusi ringan dengan anak mengenai penyebab si Kecil tidak mau berangkat ke sekolah.
4. Hukuman fisik atau intimidasi
Apa pun alasannya hukuman fisik berdampak buruk bagi anak. Hukuman fisik atau intimidasi erat kaitannya dengan meningkatnya agresi, masalah disiplin jangka panjang, rendahnya kepercayaan orang tua dan anak. Jadi, solusinya bukan rasa takut, melainkan rasa hormat dan pengertian.
5. Memanjakan dengan gadget atau konten pasif
Screen time berlebihan — terutama yang pasif tanpa interaksi— dapat memperlambat perkembangan perhatian, serta kemampuan komunikasi dan interaksi sosial anak. Padahal anak butuh bermain aktif, interaksi sosial nyata, juga gerak fisik.
Selain kesalahan di atas, Mums juga perlu mempelajari kesalahan dalam parenting anak usia SD berikut ini untuk menerapkan gaya pengasuhan yang efektif bagi anak.
Contoh praktis parenting untuk anak 5–10 tahun
Untuk mendapatkan gambaran yang konkret soal penerapan parenting yang tepat bagi anak usia 5-10 tahun, berikut ini contoh langkah nyata yang bisa Mums terapkan di rumah :
1. Rutinitas pagi
Bagaimana caranya anak bangun sendiri pada jam yang sama setiap hari. Anak bertanggung jawab pada tugas kecil, misalnya merapikan tempat tidurnya. Lakukan diskusi singkat misalnya saat sarapan tentang jadwal hari.
2. Rutinitas belajar
Walaupun durasinya pendek, namun konsisten setiap hari, bebas distraksi Misalnya sekitar 30-40 menit. Ajak anak diskusi tentang apa yang dipelajari. Refleksi ringan setelah belajar
3. Rutinitas malam
Simpan semua gadget sebelum tidur, lakukan ngobrol santai walau sebentar. Validasi emosi hari itu agar si Kecil merasa diperhatikan dan dipahami kondisinya.
4. Evaluasi mingguan
Setiap Minggu malam, ajak anak bicara : “Apa hal baik yang kamu lakukan?” atau “Hal apa yang mau kamu perbaiki minggu depan?” Cara ini efektif untuk mengetahui seberapa jauh rencana anak dan persiapannya. Juga menjadi kesempatan orang tua untuk memberikan arahan atau sekadar memantau saja.
Fase Golden Window yang sangat penting
Tumbuh kembang anak usia 5-10 tahun memang bukan fase golden age, namun mengingat pentingnya periode tumbuh kembang yang satu ini dalam perjalanan seorang anak, maka tidak salah jika fase ini juga dikenal dengan istilah golden window.
Mums, di usia ini, anak tidak hanya tumbuh secara fisik, melainkan juga otaknya makin matang, emosinya kian kompleks. Pada saat yang sama kemampuan berpikirnya makin berkembang, kemahiran sosial dan aspek emosional terus bertambah. Juga kemandiriannya mulai diuji dari hal-hal kecil yang ditemuinya sehari-hari.
Satu hal yang harus dipahami orang tua adalah anak usia 5-10 tahun bukanlah anak kecil biasa. Mereka sedang membangun karakter, memupuk kepercayaan diri, dan mencari cara menghadapi dunia yang baru saja mulai dijelajahinya dengan segala keterbatasan dan keingintahuannya.
Dan semua proses itu terjadi bukan karena kebetulan. Ini prose alami yang akan dirasakan oleh semua anak usia 5-10 tahun yang tumbuh tanpa kendala berarti. Di sinilah orang tua punya peran paling besar dalam membentuknya.
Cara mendidik anak usia 5-10 tahun yang hangat, konsisten, komunikatif, berbasis empati, dan mendukung secara tulus dan terbuka, terbukti memiliki segudang manfaat baik untuk anak menemukan jati dirinya.
Dengan kata lain, parenting yang tepat akan membantu anak tumbuh menjadi individu yang cerdas secara kognitif, mandiri secara kepribadian, matang secara emosional, dan kuat secara mental. Bukankah ini sosok individu idaman semua orang tua?
Referensi :
1.PubMed. 2024. "Parenting Styles Predict Future-Oriented Cognition in Children - NIH"
2. MDPI Behavior Science. 2026. "The Relationship Between Parenting Styles and Children’s Prosocial Behavior: The Mediating Role of Children’s Emotional Intelligence"
3. Researchgate. 2022. "Attachment-based therapy"
4. NCBI. 2022. "Types of Parenting Styles and Effects on Children - StatPearls - NCBI"


