Punya anak yang susah diatur, sering membantah, tantrum, atau kayak “nggak denger” saat dipanggil? Tenang, Mums tidak sendirian. Banyak orang tua mengalami hal yang sama. Kabar baiknya, ini bukan pertanda parentingnya gagal.
Menurut berbagai studi perkembangan anak, salah satunya yang dimuat dalam Child Mind Institute (2025), disebutkan bahwa perilaku susah diatur pada anak usia balita dan prasekolah sering kali muncul karena anak belum punya kemampuan mengelola emosi dan impuls, bukan karena mereka sengaja mau melawan orang tua.
Penyebab anak susah diatur
Sikap susah diatur yang melekat pada anak, tidak muncul tiba-tiba. Ada latar belakang atau penyebabnya. Sering kali anak yang susah diatur disebabkan oleh berbagai hal, di antaranya:
1. Kontrol emosi yang belum matang
Menurut penelitian yang dimuat di jurnal PubMed (2020) anak yang belum punya keterampilan regulasi diri yang kuat cenderung lebih impulsive dan susah mengikuti aturan. Artinya anak yang susah diatur cenderung belum mampu mengontrol emosinya.
2. Belum paham cara menyampaikan keinginan dengan kata-kata
Perilaku menantang dan sulit diatur pada anak bisa juga disebabkan karena ia belum punya keterampilan bahasa untuk menyampaikan apa yang dirasakan, keinginan, dan suasana hatinya. Akibatnya, mereka menggunakan perilaku menantang sebagai cara “berbicara” bukan dengan kata-kata.
3. Dukungan sosial dari lingkungan
Penelitian terbaru dari Frontiers in Psychology (2024) menyebutkan kualitas hubungan dengan pengasuh atau lingkungan sosial ikut andil dalam mendukung atau menghambat perkembangan regulasi diri yang sehat pada seorang anak.
4. Kebiasaan screen time dan cara merespons emosi
Penggunaan gadget secara rutin untuk “meredakan tantrum” dapat menghambat anak belajar mengatur emosinya sendiri. Orang tua atau pengasuh harus bijak dalam mengajarkan anak mengelola emosinya.
5. Kurang tidur
Masalah tidur berkaitan dengan kemampuan emosional dan perilaku umum anak. Hal ini ditegaskan dalam penelitian pada Springer Nature Link (2024) yang menegaskan bahwa durasi tidur yang baik dan pola tidur yang konsisten berkaitan dengan kemampuan memproses emosi yang lebih sehat.
Cara menghadapi anak yang susah diatur
Mums, menghadapi anak yang susah diatur adalah bagian dari ilmu parenting yang perlu diterapkan setiap hari. Memang hal ini cukup menantang bahkan tidak mudah, namun ada beberapa langkah yang bisa dilakukan sebagai cara menghadapi anak yang susah diatur berikut ini:
1. Ubah mindset
Jika menganggap anak “bandel” maka respons kita cenderung keras. Tapi jika kita melihatnya sebagai anak yang “sedang belajar”, maka respons kita jadi lebih membantu. Jadi ubah mindset, bukan anak nakal tapi belum bisa.
2. Konsisten
Konsistensi jauh lebih penting ketimbang marah-marah. Sebab orang tua yang konsisten dengan aturan dan konsekuensi cenderung punya anak dengan perilaku yang lebih stabil. Sebaliknya, aturan yang berubah-ubah justru bikin anak bingung dan makin susah diatur.
3. Disiplin bukan berarti menghukum
Hukuman keras tidak efektif dalam jangka panjang. Bahkan, hukuman fisik atau teriakan justru berkaitan dengan perilaku agresif, masalah emosi, juga rengganggnya hubungan orang tua dan anak. Gunakan pendekatan disiplin positif yang berfokus pada mengajarkan perilaku yang benar, memberi konsekuensi logis, dan tetap menjaga hubungan emosional.
4. Instruksi harus jelas dan realistis
Anak kecil tidak bisa memproses instruksi panjang. Jadi, “Ayo cepat mandi, pakai baju, terus rapihin mainan” itu terlalu berat. Berikan instruksi singkat dan spesifik, ini lebih efektif. Satu instruksi = satu tindakan. Selain membantu anak lebih disiplin, hal ini juga membantu anak berkembang menjadi lebih mandiri dalam kesehariannya.
5. Ajari anak mengenal emosinya
Banyak tantrum terjadi karena anak tidak tahu cara bilang apa yang dia rasakan. Anak yang diajari kosa kata emosi cenderung lebih mudah mengatur perilaku. Mulai dari yang simpel: “Kamu marah ya?” “Kamu kecewa karena mainannya diambil?” “Kamu capek, makanya jadi rewel.” Dalam hal ini validasi emosi bukan berarti membenarkan perilaku, melainkan membantu anak merasa dipahami.
6. Rutinitas bikin anak lebih tenang
Anak yang hidup dalam rutinitas cenderung lebih kooperatif, jarang tantrum, dan lebih mudah diatur. Karena rutinitas bikin anak merasa aman dan tahu apa yang akan terjadi. Tidak perlu kaku, yang penting konsisten.
7. Bangun hubungan, bukan cuma aturan
Mums, hubungan emosional orang tua dan anak adalah kunci utama disiplin yang efektif. Anak yang merasa diperhatikan, didengarkan, dan diterima, akan lebih mudah diarahkan dan lebih jarang “melawan”. Karena itu luangkan waktu untuk main bareng tanpa HP, ngobrol santai, dan tertawa bersama. Kadang, anak susah diatur bukan karena aturan, tapi karena butuh koneksi.
8. Hindari bentakan dan hukuman fisik
Bentakan dan hukuman fisik tidak memperbaiki perilaku jangka panjang, malah meningkatkan risiko masalah emosi dan agresi. Kalau emosi mulai naik, ambil jeda agar emosi mereda. Orang tua juga manusia yang bisa salah.
Selain mengikuti tips dan langkah-langkah di atas, Mums juga dapat menonton video berikut ini untuk menghadapi anak yang susah diatur.
Mums, menghadapi anak yang susah diatur itu memang melelahkan, tapi bukan berarti tanpa solusi. Kunci menghadapi anak yang susah diatur adalah pahami perkembangan anak, konsisten tanpa keras, ajarkan emosi, bukan cuma aturan, bangun hubungan yang hangat, dan fokus mengajar, bukan menghukum.
Ingat ya Mums, tidak perlu marah-marah, sebab anak bukanlah robot, melainkan manusia kecil yang sedang belajar mengelola dunia dan emosinya. Tidak hanya menerapkan tips-tips di atas, Mums juga bisa mempelajari lebih jauh mengenai parenting anak usia 5-10 tahun melalui website Teman Bumil & Parenting.
Referensi :
Child Mind Institute. 2025. Complete Guide Managing Behavior Problems.
PubMed. 2020. Parental Discipline Techniques and Changes in Observed Temper Tantrum Severity in Toddlers.
Frontiers in Psychology. 2024. Resilience : supporting children’s self-regulation in infant and toddler classrooms.
Springer Nature Link. 2024. Are physical activity and sleep associated with emotional self-regulation in toddlers? A cross-sectional study.


